
Kamar Dinia, di depan pintu sudah ramai para insan menunggu, Sedangkan di dalam Sean dan Fhiari menangani Dinia.
Sejak sampai, Sean di kejutkan dengan ambruknya Dinia, membuatnya yang tidak pernah merasa takut itu, mulai cemas akan keadaan istri yang selalu di bohongi itu.
Sean melotot ke arah Fhiari yang menyingkap perut Dinia untuk memeriksa wanita itu.
“He mesum, apa yang kau lakukan. sini biar aku saja.” Sean mendorong Fhiari sedikit menjauh.
“Hei, apa bedanya aku dengan mu kalau begitu, aku adalah dokter tentu saja aku punya alasan untuk melakukan itu, sedangkan kau, kau bahkan bukan siapa-siapa Dinia, kau hanya Cucu Tiri yang sok akrab dengan Nenek tiri mu.” Ujar Fhiari geram, ia hanya ingin memeriksa Dinia tapi Sean menudingnya yang tidak-tidak.
Sean terdiam, kesal, saat Fhiari mengatakan dirinya bukanlah siapa-siapa.
Cucu tiri katamu.
Batinnya ingin meledak.
“Menyingkirlah, ini hanya sebentar.” Fhiari menyenggol Sean agar sedikit menjauh. dan Sean bergeser satu centi dari tempatnya, hanya satu centi.
Di luar kamar, Wijaya, Lipa, Aina, Sekertaris Ham, dan Max sudah menunggu penjelasan mengenai Kesehatan Dinia.
Di dalam kamar, Fhiari mengangguk-angguk kepala.
“Apa yang terjadi dengan istri Ku, eh istri kakek ku.” ujar Sean menunggu jawaban.
“Dinia hamil dua minggu.” Ujar Fhiari.
“Hamil?” Mata Sean membulat seakan tidak percaya dia akan menjadi seorang ayah.
“Yeahh akhirnya.”
Sean bergelonjor di atas Sova sangking bahagianya.
“Alhamdulillah Ya allah.” Serunya.
“Hei Tuan, kenapa bahagia sekali, Anak itu akan menjadi paman mu kelak.” Ujar Fhiari lalu keluar dari kamar.
Sean mengernyitkan dahinya, Lama-lama kesalahan pahaman ini membuatnya Kesal, tapi permainan masih panjang, sayang kan jika harus mengaku di awal cerita.
Sean berjalan mendekati Dinia yang masih menutup mata, memandangi wajah sang empu yang berseri.
“Ini menakjubkan.” serunya sambil tertawa lebar.
Dinia membuka mata, rasanya seperti mimpi jika ia mengingat perkataan Fhiari tadi.
__ADS_1
“Tidak mungkin, tidak mungkin aku hamil anaknya kan, tapi kalau di ingat-ingat, dialah yang paling sering menyentuhku.” gumam Dinia kesal.
“Ya Tuhan, ampuni aku sudah menodai pernikahan yang suci dengan Kakek Sean.”
“Don't Worry, Allah pasti akan mengampuni.” Suara Sean terdengar jelas.
“Kamu, sejak kapan kau disini.” Ujar Dinia, ia langsung duduk dan menimbuk Sean dengan bantal.
“Nenek, tolong tenang, jangan banyak bergerak, nanti bayi yang ada di perutmu terganggu.” Sean mengelus perut Dinia yang masih rata.
Plakkkkkkk.
Dinia menampar tangan itu.
“Singkirkan tangan kotor mu.”
“Ho ho, Nenek, bisakah tidak terlalu jutek kepada ayah dari anak yang di kandungmu.” Ujar Sean menggoda Dinia.
“Tutup mulut mu kurang ajar, sekarang kau puas.” bentak Dinia.
“Kau puas dengan ini, kau sungguh bajingan.”
Sean memeluk Dinia.
“Dasar pria sinting.” Dinia mendorong tubuh Sean.
Di luar kamar, Wijaya yang mendengar kabar itu seakan tidak terima, kakinya lemas tidak berdaya. bukankah cucunya sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak akan biarkan dirinya di renggut begitu saja, buktinya sekarang Wanita itu sudah hamil.
“Fhiari, apa kau tidak salah? coba di periksa lagi.” Ujar Wijaya.
“Iya kakek, Dinia akan di periksa lagi ke rumah sakit ya, anda tidak usah cemas kakek.” Fhiari menenangkan Wijaya.
“Bagaiaman mungkin aku bisa tenang, Cucu kesayangan ku mengandung anak pria tua.” Ujarnya lesuh.
Di sana Ham ingin sekali bertindak, rasanya ingin membongkar rahasia tuan mudanya. tapi tuan muda itu seperti tidak berkenan akan hal itu.
“Anak yang malang, kita memang tidak tahu kapan Kita di panggil untuk pulang ke hadapan tuhan, tapi Suami Dinia adalah Kakek-kakek sepuh, bagaiman kalau anaknya menjadi anak yatim bahkan sebelum terlahir.” ujar Wijaya membuat yang lain tercengang, mendengar kecemasan itu Ham Akhirnya membawa Wijaya ke sebuah Ruangan.
Di dalam Ruang baca, hanya ada Ham dan Wijaya.
Nuansa sepi mencekam di antar keduanya.
“Maaf Tuan Wijaya.” ujar Ham.
__ADS_1
“Untuk apa kau minta maaf Ham, bukankah sudah terlanjur, seharusnya jika kau ingin minta maaf lakukanlah sebelum Dinia mengandung seperti ini.” Ujar Wijaya pasrah.
“Tuan Wijaya, sebenarnya.” Ham
“Hussss, sudah cukup, aku tidak ingin mendengar kata-kata mu yang berbisa itu Sekertaris Ham, aku takut terluka dan menjerat Dinia semakin dalam ke dalam permainan mu.”
Wijaya berkata seperti sangat kecewa.
“Tapi ada hal yang perlu kau ketahui.” Ham berkata.
“Apa yang perlu ku ketahui? aku sudah tahu semuanya. semenjak hari itu aku sudah tidak percaya lagi pada mu Ham.
Aku datang dengan baik-baik, menawarkan cucu ku yang berharga agar bisa di nikahi Tuan mu. tapi apa? Dia malah menikah dengan tua Bangka. apa kau tahu betapa hancurnya perasaanku.” Wijaya menceka air mata.
“Jika tahu seperti itu, aku tidak akan menawarkan Cucu ku yang sangat berharga itu kepada keluarga Dinata, apa kalian tahu, Dinia adalah wanita langka, sangat baik dan bersahaja, bahkan tuan muda mu saja tidak setara dengannya.” Ujar Wijaya.
“Anda benar Tuan, Nona Dinia sangat bersahaja, sampai tuan Sean yang tidak pernah jatuh cinta mulai terpikat cintainya.”
“Ham, aku tidak masalah jika kalian ingin menceraikan Dinia ku, jika itu memang terjadi lakukan dengan cepat.” ujar Wijaya.
“Tidak mungkin Tuan muda melakukan itu Tuan Wijaya, karena tuan sepertinya sudah terjerat dengan cinta dan permainannya sendiri.” Jawab Ham.
“Terserah kau saja, tapi jika ada hubungan yang retak di keluarga itu, cepat beritahu aku, agar Dinia kembali padaku, aku tidak akan memaksa cucu perempuan ku itu menikah lagi, tidak akan.”
“Tuan kau bicara apa, bagaiman mungkin anda ingin menarik Nona Dinia, Dia pasti akan bahagia. memiliki Suami Muda dan tampan seperti Tuan muda.” ham.
“Tua muda? Siapa yang kau maksud Tuan muda.”
“Aku akan memberi anda rahasianya, tapi dengan satu syarat.”
Ham tersenyum penuh makna, menghabiskan bicara serius di antara mereka, dan akhirnya kini Wijaya mengerti, dan mulai menyadari, ternyata selama ini dia yang kurang teliti, bahwa kakek Sean ialah Sean itu sendiri.
memang membingungkan tapi itulah yang terjadi di antara mereka.
Aku tidak pernah menyangka, ternyata menantuku seorang CEO muda dan tampan, kenapa kalian menutupi ini dari ku juga, kenapa tidak jujur saja aku pasti akan membantu dengan lapang dada.” Ujar Wijaya.
“Semua telah terlaksana.” Ham
“Ngomong-ngomong, kapan kalian akan mengatakan yang sebenarnya kepada Dinia.” Wijaya.
“Tunggu tuan muda selesai dengan sandiwaranya.” Ham
“Apa katamu Ham!?” Wijaya murka.
__ADS_1