
Panas tubuh Dinia meninggi di waktu subuh itu, ia mengeluh matanya sakit dan perih sedangkan tubuhnya seakan remuk dan itu menyakitkan.
Menty dan bibi Del begitu panik, sedangkan Dokter Alenta tidak ada di rumah. bagaiamana mereka menghadapi sakit Dinia.
“Duh, Dinia kamu sabar ya. pak Prem sudah menghubungi Suami mu, dokter akan segera datang.”
Dinia tidak bisa menjawab, sakit di tubuhnya sungguh bukan demam biasa.
Beberapa menit berlalu, Sean datang bersama Ham dan juga dokter Lisa. dokter andalan keluarga Dinata.
“Istri ku kenapa?” Teriak Sean menggelegar Seolah menyalahkan semua orang.
“Ngga tahu, sepertinya demam.” jawab Menty.
Lisa bertindak memeriksa Dinia yang meriang hebat.
Sedangkan yang lain sudah di alihkan keluar kamar, hanya ada Lisa dan Sean di sana.
Sean menggit jarinya karena frustrasi tidak bisa membayangkan kalau sesuatu terjadi kepada istri kesayangannya.
Setelah dokter Lisa menyuntik Dinia, dan memberikan obat-obatan dan vitamin lainnya. mereka keluar kamar.
“Nona Dinia tertular demam.” dokter Lisa memberi penjelasan.
“Maaf Tuan Sean! apa sebelumnya anda sakit?” tanya dokter paruh baya itu kepada Sean.
“Iya, dia memang sakit setelah pulang dari danau.” Menty menjawab.
Dan semua orang tersenyum di dalam hati masing-masing, membentuk bibir dengan huruf OOO seolah mereka tahu apa yang terjadi.
Lisa menarik Sean ke satu arah yang tidak bisa di jangkau telinga para pendengar Budiman itu.
“Tuan, saat anda demam, seabiknya jangan melakukan hubungan dengan nona Dinia, karena biasanya itu di tularkan.” ujar Lisa dengan suara rendah.
__ADS_1
“Apa maksud dokter, saya tidak boleh menyentuh istri saya? Kenapa? apa urusan pribadi pasien di atur-atur oleh dokter.” protes Sean yang membuat Menty dan yang lainnya tepuk jidat.
“Sean sudah, Dokter Lisa sudah benar, jangan membantah lakukan saja sesuai kodratnya.” Menty menenangkan anaknya.
“Tapi Bu dokter Lisa mau mengurusi urusan pribadiku, apa haknya melarang ku menggauli Dinia. Dinia kan istri sahku aku suaminya.” Sean yang mulai Bodoh semakin menjadi.
“Iya, Dinia istri mu, dia milik mu, kau berhak melakukannya kapan saja asal jangan saat demam.” ujar Menty barulah Sean mau sedikit mengerti.
Menty dan yang lainnya, meninggalkan Sean di depan kamar itu, lelaki yang hampir marah itu langsung menemui istrinya.
“Dear, Kau baik-baik saja.” Mendekati Dinia yang mulai bisa membuka mata.
“Jangan sakit, ku mohon.” menciumi jemari itu.
Dinia mengelus rambut Sean dan mengacaknya.
membuat Sean mengernyit dengan tingkah gemas istrinya.
Eh.
membuat pria itu gelagapan. fenomena yang jarang terjadi.
Sean membantu tangan Dinia yang mulai lunglai meninggalkan rambutnya.
“Jangan berhenti sayang, cepat acak lagi.” Pintanya sambil menuntun tangan dini mengacak rambutnya.
“Tapi pegal." keluh Dinia.
“Tidak apa, biar ku bantu memijit tangan mu, dear aku suka kamu sakit begini.” ujar Sean jujur.
Plakkkkkkk.
Dinia melayangkan tamparan di pipi Suaminya.
__ADS_1
Kemana perlakuan lembut beberapa menit yang lalu, kenapa tiba-tiba kasar seperti biasanya.
“Aku sakit gara-gara kamu, tapi kamu malah senang aku semenderita ini.” Dinia mulai menangis bombai setelah memukul keras Sean. sampai-sampai ada bekas jemari di pipi kanan pria tampan itu.
“Dear, Aku suka tamparan mu.” mengelus pipinya dengan wajah bahagia.
********
Pagi yang cerah, cahaya mentari masuk sepenuhnya ke rumah yang lebih layak di sebut Gubuk itu.
Lipa dan Alenta sedang duduk di depan menu pagi bersama Siti dan Usman.
keduanya menelan ludah karena terlalu lapar, tapi begitu tidak berselera melihat makanan terburuk yang pernah mereka lihat.
“Ini apa?” tanya Alenta, mendorong piringnya maju.
Nasi dan terong bakar, di lengkapi ikan asin pelengkap lauknya.
“Ikan asin dan terong mbak, makan mbak.” jawab Siti dengan senyum ramah.
“Iuuu aku tidak bisa makan itu.” jawab Alenta, tanpa tahu hati orang yang punya.
“Maaf mbak, kami cuma punya itu.”
Siti terlihat sedih.
lantas berlari dari tempat itu menuju belakang rumah.
Lipa yang merasa bersalah karena hinaan Alenta, mulai mengejar Siti dan memeluknya.
sedangkan di lantai, Alenta merunduk menyesal telah mengucapkan kata-kata yang membuat hati Siti terluka.
“Maaf Usman, aku tidak bermaksud seperti itu.”
__ADS_1
“Kami memang miskin mbak, tapi kami tidak pernah mengeluh dan menghina makanan, karena inilah pemberian Tuhan. kami selalu bersyukur meski yang kami dapat tidak seberuntung orang lain. selagi masih bisa makan, dan Siti bisa sekolah itu sudah lebih dari cukup.” Tutur Aswan..
Alenta seperti tertampar mendengar perkataan Usman memang benar, Dia adalah wanita sombong yang tidak bisa menjaga perasaan.