
Menyesap madu sasetan yang ada di tangannya, Dinia merasa nafsu makannya berkurang hari ini, wanita itu memutuskan berjalan-jalan di kebun pak Jusuf, siapa tahu selera makannya akan kembali tumbuh ketika mencicipi beberapa buah berry-berryan di sana.
“Nona, kenapa anda kemari, ini masih sangat pagi. anda seharusnya sarapan dulu.”
“Aku udah sarapan sama yang lain pak Jus, tapi semua makanan yang ku telan menolak untuk masuk, mereka bersusun di tenggorokan ku membuatku merasa mual.”
“Astaga nona, apa anda sakit.” khawatir Justin.
“Sakit? sepertinya tidak.” Dinia duduk di kursi taman panjang berwarna putih.
“Pak Jus, tolong petikkan untukku buah kecil berwarna biru itu.” ujarnya dengan lemas, Dinia Seperti kehilangan energinya.
“Baik nona.” Justin beralih ke pohon-pohon Blueberry yang masih pendek, tapi buahnya sangat banyak dan terlihat sangat indah.
Dari dalam rumah, Lipa dan Aina mengintip Dinia.
mereka merasa cemas kepada kakak ipar mereka itu, sedari tadi Dinia terlihat murung dan tidak bersemangat.
“Apa kakak ipar sakit?” tanya Lipa.
“Kurasa, padahal kemarin aku sudah bahagia bangat, Karna kakak ipar setuju pergi kerumah lamanya, tapi tiba-tiba kepala kakak ipar sakit.” balas Aina.
“Iya, aku juga senang banget kemarin, kakak ipar sih, makan strawberry banyak sekali, jadi sakit kan kepalanya.” Grutu Lipa.
“Tapi Strawberry nya benar-benar enak, aku aja suka, tapi kalau terlalu banyak Seperti kakak ipar, aku ngga bakalan sanggup.”
“Hmm, eh ngomong-ngomong ngapain kakak ipar di kebun. jangan-jangan dia mau makan strawberry lagi, ngga boleh di biarin.” Lipa keluar rumah.
di ikuti oleh adiknya.
“Kak tungguin Aina donk.”
Keduanya mendekati Dinia.
“Kakak ngapain disini.” ujar kedua gadis itu.
“Cari udara segar.” jawab Dinia.
“Kakak sakit ya.” Lipa memijit-mijit tangan dini yang kanan, dan Aina yang sebelahnya lagi.
“Hmm, enak, tangan kalian pandai sekali Memijitnya, Nenek Pita aja kalah.” ujar Dinia.
“Nenek Pita siapa kak.” Tanya Lipa dan Aina penasaran.
“Nenek Pijat Tangan, dia biasa di panggil Pita, sebenarnya dia memiliki nama Nenek Murni, tapi orang-orang memanggilnya berbeda-beda. jika seseorang menginginkan jasanya mengurut, dia akan di panggil Nek Urpi (Urut pinggang), Nek Pita (Pijat Tangan), profesi beliau yang sebenarnya adalah Dukun beranak, tapi karena masyarakat sekarang lebih suka ke bidan Nenek itu mencari sampingan dengan pekerjaan yang berurusan dengan urut-mengurut.” Ujar Dinia.
“Duh kasian ya kak. jadi nenek itu ngga punya pasien wanita hamil lagi ya.” ujar Aina simpati.
“Ya begitu lah, apa lagi sekarang kan ada bidan Tiup-tiup melahirkan secara normal dengan mudah.” jawab Dinia lagi.
“Itu ya kak, bidan yang Vital di Tok-tok.” tanya Lipa.
__ADS_1
“Iya,” jawab Dinia singkat.
“hmm kasian nenek itu kak, jadi penghasilannya hanya sekedar mengurut dan memijit sekarang, berapa gajinya ya? pasti sedikit banget.” Aina kembali bersimpati.
“Eh jangan salah, Nenek Pita bukan sembarang nenek lho, sehari dia punya pasien di atas seratus orang, dari berbagai daerah dan berbagai kalangan usia mendatangi rumahnya, tahun ini Nenek Pita berangkat haji.” Wah keren.
“Wahhh keren.”
“Keren tuh nenek-nenek, trus kak, kapan kita ke rumah Kakek Wijaya.”
“Hari ini kita akan ke sana.”
“Yeiyyyy.”
____________________________________________
Maximum datang menjemput ketiga Nona midanya, kali ini ia datang sendiri karena Minimum sedang pulang kampung.
“Nona-nona muda tidak boleh pulang lama, itu adalah pesan Sekertaris Ham.” ujar Max memberi tahu.
“Tenang saja kak Max, Kita cuma bermalam sehari.” Jawab Lipa, “Iya kan kakak ipar.” Lipa mengedipkan mata ke Dinia.
“Iyaa.” jawab Dinia, ia malas berbicara banyak-banyak.apalagi harus menabok Lipa karena sudah mengatakannya ipar, ia sungguh kehilangan tenaganya.
“Yei aku akan melukis kakek Sanjaya sama kakak.” Aina menenteng alat lukisnya memberikannya pada Max.
“Hei, kamu ngga bawa baju ganti dek.” tanya Lipa.
“Kalau aku tahu begitu, aku pasti tidak akan menyiapkan ini repot-repot.” ujarnya tapi tetap masukkan kopernya ke dalam bagasi.
Max yang menutup bagasi geleng-geleng kepala, mereka hanya menginap semalam, tapi bawaan mereka sudah seperti berlibur beberapa Minggu ke hutan.
Duh nona-nona ini, Kenapa repot-repot sekali, sampai bawa semangka tujuan buah lagi.
Batin Max.
Selama perjalanan, Lipa dan Aina tidak berhenti membicarakan tentang Wijaya, seperti apa kakek itu, mereka sangat ingin berjumpa dengannya.
“Kakak, kakek Wijaya pasti sangat baik ya.”
“Iya, dia adalah orang yang paling baik di dunia ini.” jawab Dinia tersenyum sempurna.
“Kakak ipar pasti sayang banget sama kakek Wijaya.” Ujar Lipa.
Plakkkkkkk, “Jangan memanggilku begitu.” Dinia menggampar adik ipar yang di kira cucu itu.
“Eheh, kakak suka kakek-kakek ya, makanya kakak mau di nikahkan sama kakek Sean.” Ujar Aina menggoda.
Dinia tertawa sinis.
“Ini semua gara-gara kakak kalian dan Sekertarisnya yang Sailan itu, jadinya aku menikah dengan kakek kalian. tapi tidak apa-apa, Kakek Sean adalah orang yang baik.” Dinia tersenyum lagi.
__ADS_1
“Cieee, Kak Dinia suka kakek ya.” Aina.
“Tidak, aku hanya menyukainya karena dia baik.”
“Cie udah cinta ya.” Lipa
“Cieee,”
.“Cue...”
“Diamlah, kalau tidak! Aku akan menyuruh max menurunkan kalian di tepi jalan.” ujar Dinia, ia memijit dahinya yang terasa berdenyut.
“Kakak maaf.” ujar Aina dan Lipa.
“Diam dan jangan banyak bertingkah, aku akan memaafkan kalian.”
“Baik kak.”
****
Keadaan rumah sekarang, Nosi merenung di atas ayunan taman, rasanya hampa tanpa saudari-saudarinya.
“Aku juga mau ikut kali, kenapa cuma kak Lipa dan Aina sih yang di ajak.”
“Noma ayo makan malam, nyonya dan tuan muda sudah menunggu.” ujar Delete.
Nosi melangkah ke arah Delete,
“Bibi Del tahu rumah kakak ipar ngga.” Tanya Nosi.
“Wahh saya ngga tahu tuh Nona, tanya Sekertaris Ham saja.” saran Delete.
“Oh ya udah deh.” Nosi masuk ke dalam rumah, Mau bertanya kepada Kak Ham, aku akan di cuekkon sebelum bertanya, lagian dia itu sangat cuek. aku anti banget bicara sama manusia-manusia sombong sepertinya.
Batin Nosi.
Di meja makan, Menty merungut kesal kepada anaknya.
“Kenapa kau membiarkan istri mu pergi, pake bawa putri-putri ku segala lagi.” ujar Menty tidak terima.
“Biarkan saja mereka pergi Bu, hanya semalam, lagian aku juga tidak akan membiarkan wanitaku pergi lama-lama.”
Jawab Sean.
“Apa kau bilang, kau mengakuinya wanitamu, jangan bilang kau sudah mencintainya, pasti wanita itu sudah menjampi-jampi mu.” tuduh Menty.
“Bu, habiskan makan mu, jika pun itu benar, itu adalah sesuatu yang ku harapkan.” Sean tersenyum samar.
Astaga, ini celaka, anak ku yang tidak pernah terpikat dengan wanita tersenyum begitu indah kepada Dinia itu, aku jadi penasaran Dinia pasti iblis bukan sekedar wanita.
Tuding Menty.
__ADS_1