Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Cemas


__ADS_3

Ceklek, Pintu kamar Wijaya di buka oleh Dinia. wanita itu masuk kedalam kamar yang ternyata sudah sepi.


“Kemana orang-orang itu pergi.” Dinia menebarkan pandangan kepenjuru kamar yang luas itu.


dan dia mendengar suara tiga pria itu dari kamar mandi.


“Kakek cepat mandinya, jangan lupa menghosok tubuh kakek sampai bersih.” Ujar Fhiari.


Dinia yang berdiri di depan televisi terlihat terkekeh,


“Kak Fhiari dan Sekertaris Ham mandi dengan kakek, So sweet.” Gumamnya.


“Tuan Wijaya, biarkan saya membantu anda membilas tubuh ya.” Ujah Ham.


“Sudah lah, kenapa aku mengganggu mereka.” Dinia keluar kamar. karena mengira ketiga pria itu sedang mandi.


sedangkan yang sebenarnya terjadi.


Wijaya duduk di atas closed sambil menyingkap celana tidurnya. Fhiari berdiri di samping wastafel sambil memegangi cemilan yang banyak itu, sedangkan Ham bertugas menyalakan shower dan menimba air dari bak mandi agar menimbulkan suara seperti orang mandi.


Huffff.


ketiganya menghela Nafas lega, setelah tahu Dinia pergi.


“Sudahlah, untung pertandingannya sudah selesai, sekarang kalain pergilah mandi ke kamar tamu, di sana ada kamar mandi.” ujar Wijaya.


“Iya kek.” Jawab Fhiari.


“Iya Tuan.” Jawab Ham. keduanya pun melenggang menuju Kamar Tamu di lantai bawah itu.


Sedangkan Dinia masuk ke kamar Tamu di lantai dua, Dimana kedua adik ipar yang di kira cucu itu masih tidur pulas.

__ADS_1


“Aina, Lipa, bangun waktunya subuh.” Dinia membangunkan kedua gadis itu.


“Kakak, Cepat sekali bangun.” Aina menyalakan Gawainya melirik jam yang menunjukkan pukul empat pagi.


“Iya Aina, karena kita memiliki banyak kegiatan hari ini, bukankah kau ingin melukis ku di taman seperti yang kau katakan.” ujar Dinia.


“Oh iya kak, kakak benar, aku hampir lupa sangking bahagianya dengan kabar kehamilan kakak.” ujar Aina, gadis itu akhirnya melenggang ke kamar mandi juga.


Dinia hanya diam, dia juga senang di beri kesempatan mengandung, tapi masalahnya dia mengandung anak pria yang bukan suaminya. itu membuatnya gelisah dan merasa bersalah.


Di atas ranjang, seorang gadis masih berbetah-betah memeluk guling, membuat Dinia geram dan langsung membangunkan gadis itu.


*****


Pagi datang lagi, mentari mulai memasukan bumi.


Sean sedari tadi menatap kesal ke arah dokter Fhiari.


“Seberapa dekat kau dengan istri ku.” Ujarnya berbisik.


“Sangat dekat, bahkan kami pernah pacaran.” Ujar Fhiari ia sengaja mengatakan hal yang tidak perlu itu agar Sean cemburu.


“Apa katamu, pacaran dengan Dinia ku!” Sean terdengar kesal.


“Kakek, kenapa kau membiarkan cucu mu pacaran dengan Pria ini.” Kesal Sean kepada Wijaya.


“Ahaha, Itu sudah lama sekali, itu bukanlah tergolong kepada pacaran karena saat itu mereka masih sangat-sangat belia.” Ujar Wijaya menenangkan.


“Aku tidak peduli, yang aku sesalkan kenapa Dinia harus berpacaran, aku saja tidak pernah pacaran.” umpat Sean.


Tuan, jangan bicara lagi ku mohon,anda terlihat bodoh seperti itu, Dokter Fhiari kan hanya masa lalu nona Dinia.

__ADS_1


Batin Ham.


“Kakek, kenapa banyak sekali Foto istriku dengan pria pecicilan ini.” Ujar Sean menunjuk Fhiarai dengan ekor matanya.


“Tentu saja banyak, saat masih di bedong mereka sudah berteman.” Ujar Wijaya di barengi kekehan.


“Tidak bisa, kakek harus menunrunkan semua foto-foto itu.” Ujar Sean meminta, bukan, lebih tepatnya memerintah.


Eh


Apa maslah mu tuan muda.


“Tidak bisa begitu, Anda tidak boleh seenaknya menurunkan foto orang,” Fiari menolak kalau foto-foto itu harus di turunkan.


“Kenapa tidak boleh, aku adalah suaminya.” Sean tidak mau kalah.


Melihat itu Wijaya ikut bertindak, menyuruh pelayannya menurunkan foto-foto itu dan menyimpannya.


barulah Sean merasa tenang.


Di dapur, Tiga orang perempuan itu sedang menyiapkan sarapan, hanya sarapan biasa, tapi membuat itu sangatlah payah. karena Dinia yang terus saja muntah karena tidak kuat mencium aroma dapur, apalagi saat Aina mengiris bawang, Dinia tidak bisa menahan gejolak di perutnya, membuat wanita itu berlari ke wastafel untuk muntah.


Hoekkk.


Wanita itu menyalakan air keran wastafel lalu mencuci mulutnya.


“Dinia.”


“Kau baik-baik saja.”


Kecemasan mengudara di ruang makan itu kala melihat Dinia muntah-muntah, keempat pria itu menatap khawatir, Sean menghampiri Istrinya, memijat-mijat tengkuk Dinia yang terus saja muntah.

__ADS_1


“Kau baik-baik saja?”


__ADS_2