
“Dia pikir dia siapa? seenaknya menyudahi cerita.” Geram Dinia yang berjalan kelantai dua, kaki panjangnya membawa ia ke kamar dua adik iparnya, Dinia mengetuk kedua pintu yang berdekatan itu.
Di dalam kamar, Aina yang baru selesai maskeran di kagetlan sebuah ketukan, gadis itu langsung mencati penutup kepala lalu membuka pintu.
“Apa sih pak Prem! Aina mau tidur kok.” Ujarnya mengira yang datang adalah Prem, seperti biasa yang Prem lakukan sebelum tidur Adalah mencek nona-nona mudanya apa sudah tidur atau tidak.
“Pak Prem dengkul mu.” Dinia langsung menjewer telinga Aina, gadis itu kaget bukan main, tidak sakit, tapi ia tidak mengerti kenapa kakak iparnya yang baik hati itu bisa-bisanya menjewer telinganya.
“Lipa buka pintu mu.” Sambil mengetok pintu kamar Lipa, Dinia sudah kesetanan menahan geram di dada.
Pintu Lipa di buka, gadis itu menatap heran kearah Dinia dan Aina.
“Kakak ada apa?” tanya Lipa heran.
“Ada apa katamu? masih berpura-pura?” Dinia menjewer telinga Kedua adik iparnya.
“Aduh kakak lepasin donk.”
________
Di dalam kamar Lipa, Dua gadis itu sudah sedang duduk sambil memegangi lutut mereka , tidak berani menatap Dinia yang mencibir kearah mereka.
“Kalian benar-benar ya!” Dinia mondar-mandir di hadapan kedua adik iparnya sambil tidak berhenti bicara.
“Bisa-bisanya kalian mrmbohongi ku juga.” sesalnya kepada Aina Adan Lipa.
“Kakak ipar maafkan kami.” Aina dan Lipa memeluk Dinia, memohon maaf kepada wanita itu.
“Tidak mau, kalian tukang Kibul, sama seperti kakak kalian.” Tolak Dinia, menghindari pelukan dua gadis manis itu.
“Kami di paksa!”
“Kakak plis maafin kita, nanti kita teraktir makan Seblak level lima deh di tempat kang jali.” tawar Lipa.
“Iya, Aina setuju.” Aina menambahi.
Dinia menatap kedua adiknya sumringah, menuding dua gadis itu.
“Kenapa kalian tahu tempat itu?”
“Dari kak Max.” jawab keduanya serentak.
“Ah si max ini benar-benar.
ya sudah kapan.” ucapnya riang, tidak sabaran. air liurnya mengalir deras kala bicara Makanan yang satu ini.
“Besok siang kak.”
“Baik, tapi ini bukan sogokan! jangan berpikir bisa menyogok Dinia.” Ujarnya, tanpa sadar bahwa ini memang benar-benar sogokan.
“Ngga kok kak, mana mungkin, kita ngga berani nyogok orang.” Lipa ngeles.
“Mana berani kak.” tambah Aina.
“Bagus, kalau gitu aku tidur di sini.” Dinia berjalan ke tempat tidur Lipa.
“Aku juga mau nginap ya kak Lipa.” Aina ikut ambruk di tempat tidur.
__ADS_1
“Yeii akhirnya bisa tidur dengan kakak ipar.”
*****
Subuh dini hari, Dinia terbangun dari tidurnya. ia kebingungan lantaran tempat itu bukan tempat tidurnya semalam.
menebarkan pandangan sambil mengingat-ingat,
Perasaan aku tidur di kamar Lipa semalam!
Ia kembali mengingat-ingat, dan benar–ingatanny mengatakan bahwa Sean lah yang memindahkannya.
krekk, pintu kamar terbuka, Kakek tua menghampiri Dinia, Tersenyum bahagia.
kakek yang biasanya memakai tongkat kemana-mana itu kini tengah berjalan dengan gagahnya.
Kenapa dia? apa ia akan mengakui dosa-dosanya sekarang?
heh enak saja, sepantasnya dia harus di hukum dulu atas kekurangan ajarannya kan.
Batin Dinia.
“Istri ku, Apa kau melihat perbedaan padaku hari ini.” ujar Sean memancing kepekaan Dinia. agar ia bisa memulai membongkar penyamarannya sendiri.
“Tidak kek, tidak ada yang beda.”
Dinia yang sudah tahu apa maksud dan tujuan pria itu–mendadak ambigu, tidak ingin tahu dan teramat sombong.
“Kau yakin? padahal perbedaannya sangat kentara lho.” Ujarnya mendekatkan diri kehadapan Istrinya.
“Istri ku, lihatlah dengan seksama. ayo lihat ke arah ku.” Sean terus meminta, membuat Dinia jenuh dan menatapnya sekilas.
“Tidak ada yang berbeda.” seru Dinia dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu sholat subuh.
Sean yang di tinggal sendiri itu hanya bisa diam menunggu, sampai ia menemukan ide di kepala, menghapus semacam riasan di wajahnya yang memberi kesan menua.
Setelah Dinia selesai berwudhu, perempuan itu mengambil mukenahnya.
saat melihat wujud Sean yang tersenyum kepada nya–ia berkata.
Apa yang dia lakukan, tidak tahu malu. pokoknya aku tetap tidak mengijinkan mu jujur untuk saat ini, persetan dengan gayamu yang menyebalkan itu, aku tetap menginginkanmu bersandiwara sampai aku bisa membalas semuanya.
Batin Dinia, merasa kesal kepada Sean.
“Hei istri ku, coba lihat lagi, ada yang salah dengan ku tidak.” Uajr Sean lagi.
“Tidak.” jawab Dinia Sambil memakai kerudungnya.
Srakkkkkk....
srakkkkkk.
Sean menyobek kostumnya di hadapan Dinia.
“Kalau begini kamu sudah lihat perbedaannya.” ujarnya.
“TIDAK.” bentak Dinia membuat Sean terjenga.
__ADS_1
Tidak mungkin? aku sudah melepas semuanya tapi dia tidak melihatku beda.
“Hei istri ku, tolong lihat sekali lagi. Aku siapa?” Ucapnya.
“Kakek tua.” jawab Dinia singkat lalu menggelar sejadah.
Sean mulai geram karena di permainkan, pria itu melerai Dinia sebelum sungguh-sungguh melakukan takbiratul ihram.
memeluk Dinia dan menghadapkan wajah itu ke padanya.
“Lihat aku, aku bukan kakek tua. aku pria muda. suami mu yang tampan.” Ujarnya penuh pengakuan.
“Siapa kamu?” Dinia memberontak hebat, sampai mukenah yang ia gunakan bergeser ke belakang.
“Kamu bilang kamu suami ku, kamu bilang kamu muda, tanpan. tapi kenapa sangat suka mempermainkan perasaan ku. kamu pikir aku siapa mu, semena-mena memperlakukanku, bersandiwara dengan melibatkan orang-orang mu, bahkan kau menipu kakek ku.
Dasar kampungan.” Dinia langsung marah.
Sean gelagapan, tidak bisa berucap lagi, yang di katakan Dinia benar.
ia memang salah menipu istri yang ia nikahi secara Syah.
“Maafkan aku.” ujar Sean terbata.
“Sudah cukup.” Dinia membuka mukenahnya keseluruhan, berniat berwudhu lagi, karena air wudhu sudah batal gara-gara suami.
“Aku minta maaf.” Sean memeluk Dinia yang terlihat kecewa.
Brukkkk.
sepersekian detik tubuh kekar Sean jatuh karena dorongan istrinya.
“Aku tidak butuh ucapan maaf mu.” Dinia berlari ke kamar mandi.
mencuci wajah yang memerah karena airmatanya, jelas saja ia kecewa. Menikahi kakek tua sungguh mengoyak-ngoyak perasaannya dan kakeknya, tiba-tiba sekarang orang itu adalah Sean.
bukan tidak senang, tapi cara Sean mempermainkannya membuatnya murka.
“Kamu pikir kamu siapa? seenaknya saja mempermainkan hati orang.” tangisnya pecah.
“Kenapa kamu mengaku secepat itu. kan masih seru membuatmu menderita.” Teriaknya di sela-sela tangisannya.
****
Sean menangis untuk pertama kalinya, Sudah ia duga, Dinia pasti akan sangat marah. tapi demi mengutarakan sebuah kenyataan ia rela menurunkan derajatnya, keaeogananya di pertaruhkan, tapi malah mendapat cemoohan dari istrinya.
“Aku harus bagaiamana menghadapi Dinia. sekarang dia sudah membenciku.” Sean bicara sambil menangis sesenggukan, mengadu kepada Ham dan Prem di ruang baca itu.
Prem ikut meneteskan air telinga, sambil mengusap pipi tuan mudanya yang di basahi air mata.
“Sabar tuan, nona muda pasti akan kembali seperti semula.”
Ham ikut di Landa gundah, melihat tuan muda terpuruk untuk pertama kalinya.
“Yang sabar tuan.”
“Ham! sesakit inikah jatuh cinta? aku pikir orang yang jatuh cinta hanya akan bahagia, ternyata patah hati juga mendominasi di dalamnya.” Sungutnya penuh emosi, sesenggukan menahan perasaan, Prem yang ada di situ mengusap hidung yang di penuhi ingus yang memenuh itu.
__ADS_1