Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Disney


__ADS_3

“Sesakit ini kah jatuh cinta.” Kalimat yang terus di ucapkan sang tuan muda, membungkam mulut Ham dan Prem, mereka sendiri sepertinya belum pernah jatuh cinta.


“Saya harus bagaiamana?” Sean bersuara lagi, begitu frustasi.


Begitulah manusia, memulai perkara begitu mudah, sekarang setelah kena batunya–dia pikir dialah yang paling terluka.


******


Mentari mensejajari bukit tinggi, menghangatkan bumi dengan sinar emas yang menakjubkan.


Dinia yang baru menyelesaikan sarapannya duduk di teras.


menatap tajam hanya kedepan, tidak terusik bahkan dengan kehadiran Sean sekali pun.


Sean di ikuti Prem dan Ham, ketiganya terhenti ketika mendapati Dinia yang termenung sambil mengelus-elus perutnya.


“Dear, kamu sedang apa.” Sean mendekat. mengelus kepala Dinia.


“Untuk apa kamu bertanya, memangnya kamu peduli saya sedang apa?” ujarnya sinis.


“Tentu saja saya peduli, kamu kan istri saya.” ujar Sean pasti, lalu menciumi jemari Dinia.


“Masuk lah, kami akan segera pergi.”


“Pergi saja sana.” balas Dinia dengan pandangan tidak suka.


Sial Dia wangi sekali.


Batin Dinia, gemas betapa ingin menggigit Sean.


“Iya, saya pergi ya.” Sean mencium kening istrinya, pertama kali setelah ia mengakui siapa dirinya.


Plakkkkkkk.


Dinia respect menampar Sean, membuat Ham dan Prem terjenga.


“Dear.” Ujar Sean lirih. tadi subuh ia di hempaskan sampai terjungkal, pagi ini ia di tampar tanpa pemberitahuan.


“Pergilah nanti terlambat.” ujar Dinia, lalu terbirit-birit meninggalakan teras menuji dalam rumah.


Salahnya sendiri, kenapa main cium orang semabarangan, kan aku kaget tadi.


Guammnya pelan.


“Tuan anda baik-baik saja.” Kekawatiran mengudara.


Tentu saja Sean tidak baik-baik saja, entah kenapa dia yang gagah tiba-tiba lemah karena cinta.


Istri ku sangat mahir melukai perasaan.


Gumamnya kemudian berlalu dengan hati yang remuk redam.


Ham membukakan pintu, setelah Sean masuk ia menutup pintu mobil itu.


Prem yang berdiri di sampingnya terlihat gundah seraya berkata.


“Jagalah tuan muda, hibur dia ya.” ujarnya.

__ADS_1


“Ambil ini, kau akan memerlukannya nanti.” Menyerahkan sapu tangan hijau kepada Sekertaris Ham.


“Baik Pak, kami pergi ya.”


“hati-hati tuan Ham.”


Di dalam rumah, Dinia berjalan ke dapur, belum sampai ke area dapur Chef Ihh Norak menghalanginya.


“Maaf nona ini adalah batas.”


“Ayolah Nor, aku ingin melihat kulkas dapur, aku penasaran isinya apa saja.” ujar Dinia.


“Tapi nona, tuan muda tidak memperbolehkan anda ke dapur apa lagi saat proses masak seperti ini, beliau takut anda terkena cipratan minyak atau hal yang tidak di inginkan lainnya.”


“Kamu ngga tahu ya, orang kalau hamil keinginannya tidak di turuti, nanti anaknya.” Dinia belum melanjutkan kalimatnya, Norak sudah memakaikan jas hujan padanya.


“Ya sudah nona, ayo.” Ajak Norak menuju Kulkas yang besarnya seperti Almari.


“Gila besar bangat. kalian menyimpan apa di kulkas ini? daging gajah.” Ujarnya.


“Tidak dong nona.” Norak membalas.


“Pintu ini khusus untuk sayuran, pintu ini khusus untuk daging-daging, pintu ini khusus untuk menyimpan masakan instan, dan pintu ini khusus minuman, dan pintu yang terakhir khusus buah-buahan nona.” ujar Norak membuka kulkas pintu lima satu persatu.


“Wah aku baru tahu ada kulkas pintu lima.” Dinia memberi komentar.


“potongkan untuk ku buah-buahan itu ya.” Ujarnya.


“Baik nona.” ujar Norak segera melaksanakan.


****


itulah sebabnya ia sangat suka menonton film yang berbau perempuan.


Sambil mencomot buah-buahan di piringnya Dinia mendengus kasar, karena adengan-adengan filmnya itu-itu aja, bahkan Dinia sudah menonton semuanya.


Membosankan.


“Kakak ipar.” Tiba-tiba suara Nosi terdengar lembut menyapa.


Dinia menatapnya sekilas.


“Apa.”


“Denar-dengar kak Sean sudah mengakhiri sandiwaranya ya.” kata Nosi.


“Emmm kenapa? kalain juga mau berterus terang sekarang.” ujar dini membuat Nosi tertawa kuda.


“He he maaf kakak ipar.” Tersenyum kuda.


“Kakak ipar tidak marah kan.”


“Tentu saja aku marah.” Dini terus makan dan menyaksikan tontonan yang itu-itu saja.


“Kami minta maaf.” Ujar Nosi.


“Mah ayo minta maaf juga.” ujar Nosi, ternyata Menty juga di situ, mengendap-endap karena malu.

__ADS_1


“Maaf Dinia.” Ujarnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Dinia menoleh.


“Aku tidak dengar.”


“Maaf menantu.” ujar Menty, kali ini sedikit jelas dan tangkas.


“Oh iya ibu mertua.” ujar Dinia.


ketiga orang itu saling berhadapan dan pada akhirnya saling tertawa gembira.


“Kakak nonton apa sih.” Tanya Nosi, ia menatap layar lebar dan menyaksikan film Barbie.


“Itu, membosankan.” tunjuk Dinia dengan dagunya.


“Kakak suka sekali ya nonton film-film seperti itu, kenapa tidak nonton Putri Disney aja.” ujar Nosi.


“Putri Disney? siapa itu.” Dinia kebingungan, memang sedari kecilnya, ia tidak seperti anak-anak perempuan pada umumnya, ia lebih gemar main mobil-mobilan dan memiliki koleksi mobil-mobil yang banyak.


Kalau tokoh Marvel baru ia tahu.


“Duh kakak, masa kakak ngga tahu sih.” Nosi segera menuju lift, ke kamarnya, mengambil kotak berharga semasa kecilnya, dimana dvd legend itu bersemi.


Nosi memutar DVD karakter Disney Cinderella, dan tidak di sangka, Dinia sangat menikmati, acap kali wanita itu bertepuk tangan dan tersenyum sumringah, bahkan tak ayal ia membandingkan tokoh cerita dengan orang-orang di sekitarnya.


“Ibu tiri Cinderella seperti ibu mertua.” ujarnya menohok, membuat Menty terhenyak.


“Masa sih? emang saya seburuk itu.” protes Menty.


“Ya sangat buruk.” jawab Dinia lalu bertepuk tangan saat happy ending di akhir cerita.


“Wahhhh mengesankan, pertunjukan yang sangat menakjubkan.”


“Kakak ipar mau lanjut tidak? aku masih banyak lho.” tawar Nosi.


“Mau.” Jawab Dinia sumringah.


tapi tiba-tiba Tiga orang gadis mendatangi.


Di sana, Lipa, Aina, dan Alenta sudah siap dengan outfit yang menggema, hanya Alenta sih yang berlebihan di penampilan karena ia belum tahu kemana tujuan.


“Kakak ipar ayo berangkat.” ujar Lipa.


seperti janji mereka semalam, sore ini mereka akan pergi reunian di pasar tradisional.


“Sekarang?” tanya Dinia. sungguh sangat di sayangkan padahal ia masih ingin menyaksikan DVD putri Disney milik Nosi.


“Nos, besok masih boleh kan.” ujarnya memelas.


“Tentu saja kak.” ujar Nosi.


“Ya sudah, ayo kita berangkat.” ujar Dinia meninggalakan adik ipar yang satunya dan ibu mertuanya.


“Mereka kemana sih? kok kita ngga di ajak.” Menty terlihat cemberut.


“Nosi juga ingin ikut kali, tapi ngga di ajak juga.” balas Nosi.

__ADS_1


“Eh Nak, itu si Dinia masa kecilnya gimana sih? Masa Disney princess saja tidak tahu.” cibir Menty.


“Mah udah deh, jangan gitu mukanya, muka-muka mau menggibah.” ujar Nosi, lalu pergi membawa barang berharganya, ya sekarang DVD itu begitu berharga, dengan itu Nosi bisa melakukan pendekatan dengan mudah kepada Dinia.


__ADS_2