
Kediaman Dinata sekarang lebih mirip seperti aula casting, para pemain sibuk mendalami peran masing-masing.
“Cermin, cermin ajaib. katakan siapa yang paling cantik di negeri Insan lucnat ini.” Ujar Menty membacakan ulang dialog naskah yang ia terima dari Prem.
“Tunggu dulu? kau tidak salah pak Prem? kenapa aku berperan sebagai nenek penyihir.” Protesnya tidak terima.
“Astaga nyonya, memangnya peran apalagi yang anda dambakan disini, penyihir sudah sangat cocok dengan karakter anda, sudah ya. saya sibuk.” Prem menjawab, kemudian mengarahkan kembali pelayan yang banyak untuk mendekor panggung serupa istana Disney.
“Perbaiki pojok sana, ini juga poles sedemikian rupa agar kastilnya terlihat nyata.” Prem.adalah orang tersibuk setelah itu baru Delete. semua tanggung jawab di serahkan kepada mereka berdua.
“Dasar Prem sialan, bisa-bisanya dia memberiku peran sebagai burung gagak.” Alenta juga perotes. pasalnya dia diharuskan menjadi burung gagak dengan kostum hitam di seluruh tubuhnya.
“Nona Alenta, tubuh ramping Anda mendukung karakter gagak dalam cerita snow white.” Prem memberi alasan.
Tapi Alenta tidak bisa terima, apalagi ia harus bersuara persisi seperti burung kematian itu.
“Ngaakkk ngaaakk.” Begitu Alenta menirukan suara gagak.
“Perfect. semangat semuanya. selesai ini kita lanjut ke cerita Cinderella ya.” Prem begitu semangat mengarahkan para tokoh-tokoh berharganya.
“Tunggu dulu? dimana pemeran utama pria dan wanita?” Prem mulai merasa ada yang janggal, tatkala melihat dua tokoh utama yang telah ia tentukan diam-diam tidak ada di aula.
“Nona Lipa? anda dimana? Dokter Fhiari? anda dimana?”
Di situasi atap yang sunyi, bahkan semesta berpihak pada Lipa. tubuh itu begitu enggan meninggalkan Fhiari yang ditindihnya.
“Bisa bangkitkah? agak berat soalnya.” begitu Fhiari memperhalus bahasa agar Lipa mau beranjak dari atasnya.
__ADS_1
Dengan senang hati gadis itu berdiri, membantu serta Fhiari berdiri.
“Jadi bagaiamana Dokter? mau kan menikah denganku!” penuh harap dan tidak menerima penolakan.
Fhiari sungguh berada dalam situasi gamang, sejak awal ia tidak menyukai Lipa rasa sukanya kepada Aina, dan tanpa di sangka gadis itu malah melamarnya di atas atap rumah, dengan sound romantis pula.
Lagu-lagu romansa tersetel sempurna, entah dari mana sumber suara itu, yang pasti Lipalah yang mempersiapkannya.
Dengan segenap Cinta, Lipa mengulurkan tangan kepada prianya.
“Mau menari?”
“Tidak.”
“Ayolah say, aku tidak suka penolakan.” Lipa menyambut jemari yang stanbye di saku jas pria itu, memutar tubuh Dokter muda dengan gaya Euforia.
“Ayolah ini sangat mengasyikkan.” ujarnya lagi seperti dhubber Barbie yang lagi viral itu.
“Sudah cukup nona." Fhiari tetap saja menolak meski tubuhnya berkata. Yes lanjutkan.
Sampai pada akhirnya, Fhiari benar-benar mengambil alih kendali, menghentikan segala yang telah terjadi, menepis genggaman Lipa pada bahunya.
“Sudah cukup.” bentaknya.
membuat Lipa merundung nestapa.
“Maaf dokter, aku pikir anda suka dansa.” ujar Lipa menepis kekecewaan karena penolakan Fhiari.
__ADS_1
“Aku tidak suka.” jawab Fhiari singkat.
“Lalu, apa lagi yang tidak kamu sukai dokter?” Lipa bertanya lagi.
“Kamu.” jawab Fhiari lalu berjalan dan seolah berlalu.
Lipa terdiam sejenak, tindakan ini adalah penentuan,, patah hati sebentar atau sakit hati yang berkepanjangan. Lipa langsung menarik Fhiari dan mencium bibir merah berisi.
Melepas sengatan Lipa di bibirnya, Fhiari memberi tatapan kesal kepada gadis yang begitu berani merebut ciuman pertamanya.
“Apa kau gila, kau tahu berapa banyak dosanya. mencium seseorang yang bukan muhrim kita.” Ujar Fhiari gusar.
“Hust, Aku menyukaimu Bang Fhiari.” Lipa merebut sekali lagi, bibir indah Fhiari membuatnya candu.
*****
Epilog.
“Dear, kenapa kau tidak memanggilku sayang lagi?” Sean begitu menyesali hal-hal yang tidak di ulangi oleh Dinia. panggilan sayang ini misalnya. Dinia hanya mengucapkannya sekali saja dan tidak pernah mengatakannya lagi meski Suaminya meminta.
“Kau pikir aku akan tertipu lagi? kemarin kau janji ingin memberiku istana, Pertunjukan princess Disney yang nyata, mana buktinya. dasar tukang kibul.” Balas Dinia dengan juteknya.
“Dear, kau mau cerita Disney yang seperti apa? kau mau pementasan yang seperti apa?” tanya Sean antusias.
“Aku ingin pementasan cerita-cerita Disney yang elok, semua tokoh harus hidup, bahkan tokoh semut sekalipun. kau mau membuatkannya kan sayang.” ujar Dinia.
Apalagi yang Bisa Sean katakan, panggilan sayang yang di ucapkan terakhir oleh Istrinya membuatnya hampir terbang melayang, se spesial itukah panggilan sayang dari Dinia baginya, sampai memerintah setiap anggota rumah memiliki peran penting di setiap drama yang akan di pertontonkan.
__ADS_1
sungguh mengherankan bukan, dan tidak pernah terpikirkan, bahwa ternyata ada juga orang seperti mereka.