
Dinia sedang memetik bunga di taman samping rumah, hari ini ia kembali les dengan Karbonara.
Jlebb jlebb.
Suara gunting terdengar menantang di telinga, istri tuan muda itu sedang menyusun bunga pertamanya.
“Nona lakukan dengan baik.” kritik Nara saat melihat hasil rangkaian yang senonoh itu.
“Malas ah, aku mau makan saja.” ujar Dinia ia melenggang dengan langkah merenggang.
“Astgafirullo, itu wanita atau gorila.” gumam Karbonara sedikit kesal.
”Nona perbaiki cara berjalan anda, cara berjalan anda yang sekarang sangat memalukan.”
“Hust, jangan memperotes cara melangkah nona, karena semalam nona dan tuan muda sedang melakukannya untuk pertama kalinya.” bisik Delete di telinga Karbonara.
“Astaga! Aku tidak salah dengar, kabar yang menggembirakan.” Sahut Nara.
Dan ternyata Prem tidak luput dari kabar itu, dia ikut menguping pembicaraan Del dan Nara.
“Kapan? Kenapa tuan tidak memberi tahu saya.”
Plakkk.
“Memangnya siapa kamu, sampai-sampai tuan harus menginformasikan setiap kegiatan pribadinya.”
“Aku seorang pelayan, dari kecil aku sudah mengetahui semua hal peribadi mengenai tuan muda.
Seharusnya tuan menanyakan pengalaman padaku, aku akan membantunya.” ujar Prem
__ADS_1
“Ih gayamu, kau sendiri sampai sekarang masih jomblo, sok-sokan mengajari tuan muda.”
“Aku jomblo karena tidak menemukan gadis yang tepat.”
“itulah, kau terlalu pilih-pilih, jadinya tidak laku, apa kau tidak takut pak Prem, kata Rasulullah pria yang tidak menikah padahal dia mampu dia bukan dari golongan Rasulullah.”
“Kau juga sama kan perawan tua.” Prem tidak mau kalah.
“sudah-sudah, kalian sama saja, mungkin kalianlah jodoh yang di ciptakan tuhan.”
“Apa? Mana mungkin, ngga sudi aku mah sama dia.” sungut Delete.
“Apalagi saya, nauzubillah.” balas Prem.
“Kalian hati-hati, biasanya benci jadi cinta lho.”ujar Karbonara lalu akhirnya melenggang menghampiri Dinia, dan mengoreksi cara makan istri tuan muda itu.
“Turunkan kaki anda nona, pakai sendok dan garpu, makan jangan terlalu membungkuk Nona harus ingat jika nona harus menjadi wanita yang Elegan.”
Siang hari, Dinia sedang menyaksikan film action di layar kaca, di temani Bibi Del dan Nara.
“Nona bisakah kita ganti acaranya, tuan muda tidak memperbolehkan anda menonton film aksi Seperti ini, katanya hati Anda akan keras saat menyaksikan adengan-adengan mengerikan seperti itu.” Nara mengkritik lagi.
“Aku tidak tahu apa motif kalian ingin merubahku, tapi aku hanya ingin memberi tahu, bahwa itu sudah terlambat, aku yang sekarang adalah aku. Dinia Basori Wijaya, watak dan kepribadian ku Tidak ada yang bisa merubah, kecuali dengan ijin yang punya cerita.”
“Tapi nona bukankah menjadi wanita yang lemah lembut sangat di anjurkan dalam Islam, apa anda tidak takut berdosa karena menyerupai laki-laki.”
“Diamlah Karbonara, kau tidak bisa melihat ya, dimananya aku terlihat seperti pria.” bentak Dinia.
Nara melihat nona mudanya seksama, lalu menggeleng.
__ADS_1
“Tidak ada nona, tapi anda sangat bar-bar dan tidak beretika.”
“Selagai aku masih melaksanakan perintah Tuhanku, dan aku tidak memberatkanmu ku mohon jangan mengusik ku.”
Suara Dinia meninggi, membuat Nara dan Del tersentak ngeri.
Dinia meninggalkan ruang televisi,menuju kamarnya.
“Apa nona benar-benar marah.” tanya Nara khawatir.
“Entahlah Nara, sekarang lebih baik pulanglah, biar aku menghibur nona.”
“Baik Del, terimakasih ya.”
Habis lah, aku pasti akan di telan hidup-hidup oleh sekertaris Ham.
******
Gedung pencakar langit Swalla group, ruangan di lantai paling atas, dimana Sean berada sekarang.
“Apa dia makan sore ini? Kau bilang dia mengamuk kepada Nara.” tanya Sean.
“Benar tuan, Nona muda marah-marah perihal les itu, apa baiknya kita hentikan saja tuan.”
“Hm, Dia memang tidak tomboy-tomboy amat, yah kita akhiri saja, aku takut dia tidak semenarik sekatang kalau dia berunah sesuai standar Wanita.”
“Baiklah tuan saya mengerti.”
Ham meninggalakan ruangan, sedangkan Sean tersenyum kegirangan.
__ADS_1
“Malam ini akan menjadi malam yang panjang.” batinnya, menutup cerita dengan seringaiannya.