Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Indahnya Reuni


__ADS_3

Di dalam ruangan meeting lantai lima, Rapat Direksi kembali digelar pagi menjelang siang ini.


di pimpin oleh sang Presdir kondang yakni Sean Arsaga Dinata.


Semua orang tengah fokus dengan proyek yang ada, sedang kan sang bos itu masih merana di dalam hatinya, tanpa tahu apa sekarang yang sedang mereka bahas.


hingga sampai di ujung acara, Sean dengan mudah menutup rapat temu dengan pidatonya, lalu keluar dari ruangan bersama Ham.


Menuju ruangan Presdir yang berada di lantai tertinggi.


“Ham.” lirih Sean menatap Sekertaris Ham dengan mimik tidak karuan, Asmara para hati masih membekas di relung hati.


“Iya tuan.” Jawab Ham.


“Apa dia menyukaiku juga?” bertanya dengan mimik penuh tanda tanya.


“Tentu saja tuan, wanita mana yang tidak menyukai anda.” balas Ham menghibur.


“Jangan bohong, tidak usah menghiburku dengan kebohongan.”


“Tuan, saya tidak bohong. nona memang menyukai anda.” Ham.


“Mana buktinya kalau dia menyukai ku.” Sean berujar membuat Ham bungkam.


“Bukti ya.” Ham menggaruk kepalanya, bukti semacam itu? tentu saja dia tidak punya.

__ADS_1


“Tuh kan, kamu tidak punya buktinya.” Kesal Sean, lalu meninggalkan Ham di depan ruangan.


Kenapa tuan ngambek sama saya, seharusnya tuan bisa sadar sendiri kan, apa nona menyukai anda atau tidak.


Batin Ham.


____


Di ruangan meeting yang tadi, setelah Sean dan Ham pergi, Direktur Gonggong (tokoh baru.) mulai membuat suara lagi.


“Presdir sungguh tidak becus.” Ujar terang-terangan seperti anjing yang menggonggong.


“Sudah hampir enam bulan proyek ini belum ada perkembangan.”


“Jika terus saja seperti ini, proyek ini akan gagal bahkan sebelum pondasi didirikan.” ucap Gong lagi, sambil menyeringai, ia Berkata.


“Kalau diantara tuan-tuan sekalian banyak yang setuju, saya akan mengajukan permohonan dan mengambil alih proyek besar ini.”


“Setuju, kami setuju.”


***********


Di sudut ruko bang jali yang panas, lima orang perempuan sedang asik berpadu pandang–menikmati reunian, sambil membahas sedikit ketidak Adilan.


“Jadi kamu di pecat oleh Sekertaris gadungan itu!” seru Dinia, tidak usah di ragukan lagi, Pria bernama Ilham itu benar-benar menyayat hati.

__ADS_1


“Iya nona,” Jawab Max dengan raut wajahnya yang ceria seperti menggambarkan ketidak mengapaan, padahal jelas-jelas ia membutuhkan itu sebagai pekerjaan.


“Lalu sekarang kau kerja dimana?” tanya Dinia peduli.


“Sekarang saya jadi kuli nona.” jawab Max apa adanya.


“Astagfirullah hal-azdim.” Sungut Aina dan Lipa di dalam hati. begitu miris.


“Astaga, kau bekerja sebagai kuli gara-gara kekasih ku memecat mu?” Ujar Alenta Penh percaya diri bahwa Ham adalah kekasihnya, wanita kurus tinggi langsing itu ikut memberi komentar, ia tidak habis pikir kenapa Ilham melakukan itu.


“Benar-benar Sekertaris itu, tunggu saja sampai rumah, kali ini dia dan tuannya tidak akan ku maafkan.” Kesal Dinia.


“Kakak ipar, kenapa kak Sean juga ikut, dia ngga tahu apa-apa kan.” cegah Lipa, memebela Abang kesayangannya.


“Bodo amat, dia tetap salah di mata ku karena sudah berani menipuku.” ternyata dendam itu masih berkarat di hati Dinia.


Semua orang ikut terbungkam jika Dinia mengungkit masalah itu, karena mereka sendiri juga ikut terlibat.


“Max, kamu jangan Kawatir. masalah HAM aku bisa mengatasinya–kamu akan kembali bekerja seperti semula.”


“Baik nona, terimakasih banyak.”


Di dalam perbincangan panas, pesanan mereka pun datang. membuat hidung mereka kembang kempis satu persatu.


Harumnya,,,, kenikmatan yang berujung penderitaan.

__ADS_1


__ADS_2