
Gila.
Tatap geram terpancar dari mata dokter Fhiari, menghakimi gadis yang begitu berani.
“Anda tidak waras.”
Dengan urat malu yang mulai putus, Lipa menyeringai tajam.
“Aku sudah lama menyukaimu Dokter, aku jatuh cinta pandangan pertama.”
Persetan dengan cinta pandangan pertama.
Dokter Fhiari tidak mendengarkannya, ia langsung bergegas pergi, tapi sayang Lipa terlalu baik jika harus melepaskan tawanan.
Gadis itu kembali memeluk Fiari dan melakukan hal yang sama berulang kali.
Mencium dokter tampan itu.
“Kau benar-benar tidak bisa lolos kali ini dokter.” Gumama seorang wanita, yang tidak lain adalah Delete Sendiri.
Yang bertugas menciptakan suasana romansa dari alunan musik-musik klasik nan romansa, semua itu di kerjakan oleh Delete.
“Sedang apa kau disini bibi Del, di bawah tengah sibuk mempersiapkan pentas, kau malah menguntit orang yang lagi ciuman.” Prem tiba-tiba datang mengganggu.
“Stttt. Diam kau pak Prem, saya juga sedang melatih pemeran utama melakukan perannya dengan baik.” sambil menunjuk Dua muda-mudi di sana.
“Astaga, Itu nona Lipa? kenapa kau biarkan nona di cium pria.” protes Prem.
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa Prem, Nona Lipa yang mencium dokter Fhiari duluan, aku punya videonya, kau mau lihat tidak.”
__ADS_1
Prem dan Delete saling berpandangan, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama.
******
“Dear, ayo makan dulu.” Sean menyodorkan Suapan untuk Dinia, dan wanita itu menolak.
“Dear jangan merajuk terus, kasihan anak kita butuh makan.”
Dinia menatap Slow motion kearah Suaminya.
Membuka mulutnya lebar, lalu mengunyah makanan.
“Aku kekurangan nafsu makan.” Ujarnya.
“Tolong banyakin nasinya, kau menyuapi ku terlalu sedikit-sedikit.” Ujarnya lagi kemudian, lalu merampas Sendok dari tangan Sean, mengambil nasi mencontohkan seberapa banyak seharusnya sean menyuapinya.
“Sendoknya harus penuh.” Ujarnya sambil memperlihatkan sendok berisi full nasi, lauk, dan sayur.
“Baiklah dear.”
Dia bilang nafsu makannya turun, tapi makannya sama sekali tidak kurang.
“Jangan lama-lama.” perintah Dinia yang sok manja.
“Iyaa, iya dear.” dengan penuh cinta, Sean menyuapi istri tomboy yang manja itu.
****
Di sebuah sore yang indah, Setelah bangun dari tidur siangnya, Seharusnya sekarang Dinia akan mandi dan sholat ashar.
__ADS_1
tapi mager parah melanda dirinya, jangankan berjalan ke kamar mandi, bernafas saja rasanya sangat malas.
“Istri ku sayang, tolong hirup nafas mu, kenapa kamu menahan nafas seperti itu.” Sean memohon-mohon agar Dinia segera menghirup nafas dan membuangnya, sebagaimana selayaknya.
Tapi wanita itu tidak mengindahkannya, Ia menahan nafasnya hampir tiga hari, eh bukan maksudnya tiga puluh detik.
Mengandalkan penghitung angka di tangannya, Dinia hanya akan menghirup udara sekali 30 detik, itupun harus dengan permohonan sangat dari Sean.
“Istri ku, tolong lah. jangan menyiksa diri sendiri.” Sean sudah menjadi orang yang paling Kawatir sejagat raya.
Diniah menatap, lalu melepas semua udara yang di tekannya lalu menghirup udara baru.
“Aku mager, kamu bilang ada pertunjukan Disney! mana?” ujarnya menatap kesal.
“Dinia cintaku, iyaa sore ini ada pementasan. kau mau melihat kan?” ujar Sean.
“Mau.” Dinia antusias.
“Kalau begitu ambil nafas seperti biasa.” perintah Sean.
Dan Dinia melakukannya, bernafas seperti insan yang seharusnya.
“Allah kasih kesempatan bernafas untuk kita, kita harus bersyukur bukan malah menyia-nyiakan nafas yang masih ada. memangnya kau mau mati secepat itu?” Sean.
“Tidak.”
“Kalau begitu jangan lakukan lagi, itu tidak boleh.” Sean memeluk Dinia. memebelai rambut itu.
“Aku mau mandi.” Ujar Dinia.
__ADS_1
“Baik, kita mandi sekarang.” Sean membawa istrinya ke kamar mandi.
sebagai suami yang baik, Sean selalu ada.