Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Gawat darurat


__ADS_3

Di kamar Aina, Lipa dan pemilik kamar itu sedang menyaksikan tiga orang yang berada di taman belakang–menggunakan teropong milik mereka.


“Dek, kira-kira Kak Ham bakalan menerima kak Alen ngga sih kali ini?” Lipa memulai bicaranya.


Aina yang sedang menggabung warna hanya angkat bahu dan cuek jika bicara masalah Sekertaris kakak mereka.


“Aku jamin, kali ini Kak Ham bakal ngga bisa berkutik, gila sih kak Alen jago banget buat orang terpikat, kurusnya itu lho, membahana.” ujar Lipa lagi, semakin tertarik menggibah.


“Kak Lipa udah deh, mending kak Lipa tidur siang sana, ngapain urusin urusan orang.” bentak Aina kepada kakaknya itu.


“Ya ampun dek, orang cuma Cerita kok, kamu kenapa sih, pms ya?” Lipa menghampiri.


“Bukan lho kak, Aku kesal aja sama kak Ham, masa dia pecat kak Max gara-gara kita pergi ke pasar waktu itu.” aduh Aina yang teramat kesal.


“Lebih parahnya kak max udah di catat di buku hitam pekerja di keluarga Dinata.” adunya lagi.


“Apa dek? cuma gara-gara itu?” Lipa tidak terima.


Aina hanya mengangguk, meski mereka protes kepada Ham, tapi tetap saja keputusan pria itu tidak bisa di gugat.


“Kak Ham kebangetan.”


*****


Alenta melemparkan catur ke meja.


Bosan.


“Kapan aku bertemu kakak ipar? kita sudah dua jam lho main catur, aku bosan.” Lirih Alenta kepada sepupunya itu.


“Kau sungguh tidak sabaran ya.” ujar Sean, terkekeh gemas dan mengacak rambut pirang gadis di hadapannya.


“Ham jelaskan dulu protokol keamanan kalau ingin bertemu Dinia ku.” Ujarnya tersenyum bahagia.


Idih, dia tersenyum menyebut nama Istrinya, secantik apa sih Wanita itu sampai bisa menaklukkan pria anti Wanita ini.


Batin Alenta menerawang.


Demi menjelaskan apa protokol keamanan untuk menemui Dinia, Ham duduk di samping Alenta. membuat gadis itu GR ngga ada obatnya.


“Ih Beb Ilham main nyosor aja, ngga nyangka.” ujar Alenta Sambil cengengesan, dan itu menyebalkan bagi Ham.


“Jangan GR kamu, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting.” ujar Ham.


“Aku udah tahu itu apa,” ujar Alenta. sambil tersenyum manis mengulurkan jemari lentiknya.


Grebbbbb.


Ham meremas jemari itu seakan remuk.


Rasakan ini.


“Duh Tangan ku, Kamu galak banget sih Beb.” protes Alenta lalu meniupi jemarinya.


Sean hanya tergelak melihat tingkah kedua manusia itu.


seperti Tom and Jerry versi manusiawi.


“Dengarkan aku bicara.” ujar Ham, lalu mulai menjelaskan dengan rinci mengenai penyamaran yang telah berlangsung selama lima bulan itu.


Di tempatnya, Alenta hanya manggut-manggut tanpa tanya, baginya itu adalah hal lumrah, mengingat tingkat keanehan Kakak sepupu dan Sekertarisnya.


“Aku mengerti, jadi kapan kita temui Kakak ipar.” Ujar Alenta tidak sabar.


“Jika kau sudah siap, kita pergi sekarang.” Balas Sean, langsung berdiri dari duduknya.


Alenta dengan riang mengikuti kakaknya.

__ADS_1


Di kamar Dinia, Prem dan Delete sedang menyuguhkan makanan yang begitu menggiurkan, tapi perasaan ingin menyantap tiba-tiba hilang begitu saja kala air liur terasa sepat.


Dinia hanya bisa menelan ludah yang tidak enak itu.


Dia lapar dan lemas, tapi saat ini ia tidak ingin makan apapun, perasaannya ingin mual terus-menerus.


“Nona makanlah sedikit saja.” Pinta Prem memohon.


“Benar nona, nanti anda sakit.” Cemas Del.


“Taruh saja di situ, nanti aku akan makan kalau sudah berselera.” ujarnya sambil asik membolak-balik majalah muslimah di tangannya.


“Pak Prem coba lihat busana ini, cantik kan.” Dinia menunjukkan pakaian muslim syar'i yang ada di lembar majalah itu.


“Cantik nona, anda menginginkannya, saya akan memesankan beberapa untuk anda.” jawab Prem.


Dinia hanya tersenyum, secantik apapun itu dimatanya, ia belum siap memakainya.


Selang beberapa menit, tiga orang mendatangi Dinia, salah satu diantaranya adalah orang yang telah membodohinya.


Lihat wajah tanpa dosanya, diammasih bisa bermuka dua jika aku melakukan sesuatu padanya?


Oh tidak! jangan bilang Dinia ingin membalas kekesalannya sekarang.


“Wah cucu ku kau kemari?” Ujar Dinia, sangat tumben bersikap ramah.


“Iya nek, bagaiamana keadaan mu, Prem bilang nenek tidak mau makan.” Ujar Sean.


Alenta yang belum terbiasa merasa ingin tertawa melihat sandiwara yang kaku itu.


Byuset dah, kenapa kak Sean sebodoh ini sih, Istrinya di di main-mainin.


“Oh ya cucu ku, dia siapa.” Tanya Dinia, ia tidak mengenali wanita kurus kerempeng itu.


“Dia adik sepupu ku nek, namanya Alenta.” ujar Sean memperkenalkan Alenta.


Menyenangkan.


“Oh baiklah, Selamat datang ya Alenta, kau bisa memanggilku kakak seperti yang di lakukan Aina dan Lipa.” Ujar Dinia.


“Baik kak, oh ya kakak lemas sekali, aku punya vitamin untuk ibu hamil, kakak harus mencobanya, jangan lupa minum susu juga ya.” Alenta mendekati Dinia, dengan profesinya sebagai dokter kandungan itu, ia menyarankan banyak hal untuk Dinia.


“Baik Terimakasih Alenta.”


“Sama-sama kak.”


Sebagai dokter yang tahu cara menyenangkan pasiennya, Alenta mencoba menyuapi Dinia dengan paksa.


“Aku tidak mau.” Dinia menolak.


“Ayolah kak, untuk bayinya.” ujar Alenta meminta.


Sean menatap Dinia yang tidak mau makan sedikit pun itu,


wanita itu cengengesan kearahnya.


“Sepertinya akan sangat enak jika aku di suapi Suamiku, Pak Prem tolong panggilkan suami ku,” perintah Dinia. bibirnya menungging senyum pembalasan.


Rasakan, akan ku lihat sebaik apa kamu bersandiwara.


“Ah nona, tapi tuan besar tidak boleh di ganggu.” ujar Prem, ia menatap ke arah Sean keringat dingin mengalir di pelipisnya.


“Sayang sekali ya, padahal aku hanya ingin makan kalau ada kakek tua.” ujar Dinia, lalu menolak suapan yang di berikan Alenta.


“Biar aku yang memanggil kakek kemari.” ujar Sean, lalu keluar dari kamar Dinia, semua wajah sudah tegang kecuali Dinia, yang tertawa sinis di dalam hatinya.


Rasakan itu.

__ADS_1


Prem ikut menyusul tuan mudanya, guna membantu pria itu memakai kostumnya.


“Cepat pak Prem,” ujar Sean tidak sabar.


“Baik tua.”


Prem membantu, setelah selesai kedua pria itu menuju kamar Dinia.


Di tengah ketegangan, muncul dua orang dari ambang pintu, kakek tua yang berjalan rapuh menuju Dinia dan pak Prem mengikur di belakangnya.


“Kau memanggil ku istri ku.” ujar kakek tua.


“Iya kek, aku ingin di suapi oleh mu, boleh tidak.”


“Tentu saja istri ku.” Kakek tua menghampirinya, menyuapi Dinia. hebatnya Dinia merasa Makanan itu begitu enak untuk beberapa suapan, hingga akhirnya sepat kembali.


“Habiskan ya istri ku.” ujar Kakek tua.


tapi dinia menolak.


“Ngga mau, sudah cukup.” tolaknya.


“Oh ya pak Prem, cucu laki-laki ku yang tampan itu dimana ya? aku tidak melihatnya, Kemana dia.” ujar Dinia.


Gawat.


Wajah-wajah itu berubah pias, bagiamana mungkin mereka bisa mendatangkan satu orang dua karakter bersamaan, sungguh tidak mungkin kan.


“Tuan sedang ada panggilan meeting di kantor.” ucap Prem cepat.


“Tapi kan Sekertaris Ham masih disini? jadi dia pergi sama siapa.” ujar Dinia, dia sudah sangat pintar sekarang.


Prem dan Ham terhenyak, mereka menggaruk kepala frustrasi.


sepersekian detik itu Prem mengedipkan mata memebri kode kepada Ham.


“Astaga aku lupa! pasti tuan muda sudah menunggu, aku akan pergi selamat tinggal semua.” ujar Ham lalu melenggang.


“Tunggu!”


Cegat Dinia.


“Dia belum pergi kan, aku mau melihatnya sebentar saja.”


“Tapi nona.” cegah Prem.


“Jika kalian tidak mau membawanya kemari, aku yang akan melihatnya.” Dinia melenggang pergi, sengaja bertoleransi untuk Sean mengganti kostumnya.


entah kenapa permainannya menyenangkan baginya.


Saat Dinia pergi, Sean dan Prem tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berubah bentuk.


mereka langsung pergi ke kamar Sean.


“Tuan anda tidak apa-apa seperti ini?”


“Tidak apa-apa! asalkan Dinia mau makan.” Ujarnya.


Dinia sengaja turun melewati tangga, agar Sean memiliki ruang dan waktu untuk bersandiwara.


sesampainya di lantai bawah, Dinia sudah menduga, bahwa Prem dan Sean sudah berada di ruang utama.


Wah wah, sandiwara mereka menakjubkan, apa aku sarankan saja mereka membangun stasiun tv untuk menayangkan akting berbakat ini?


Batin Dinia.


Di kamar Dinia, Alenta sang duta kurus kerempeng itu sedang terbahak-bahak menyaksikan peran yang ada, sungguh itu lebih menarik dari layar lebar yang di iklankan di layar kaca.

__ADS_1


__ADS_2