
Pada umumnya wanita hamil memang tidak nafsu makan, tapi Dinia tidak bisa manja, gadis itu terus saja memasukkan makanan bernutrisi untuk bayi nya, meski perasaannya tidak enak dan ingin muntah.
jika ia sudah tidak kuat, ia menyelinginya dengan buah kesukaannya, berry-berryan.
“Nona muda, apa perasaan anda enak.” tanya Prem.
“Tidak, perasaanku tidak baik, seharian aku tidak menemukan suamiku, aku sudah mencarinya di mana-mana tapi tidak kunjung ku temukan, itu membuatku naik pitam..” Ujarnya sambil menyomot strawberry yang di sediakan di depannya.
“Dimana dia pak prettt.”
“Ah tuan besar sedang mengunjungi makam istri pertamanya nona.” jawab Prem asalan.
“Apa? kenapa dia tidak mengajak ku, jadi dia mau bernostalgia ceritanya, curang sekali dia.” Dinia ngambek, meraih piring berisi buah lalu melenggang menuju kamar.
“Kakak.” Lipa yang menuruni anak tangga ingin Menghampiri Dinia, tapi Prem dengan sigap menghalanginya.
“Apa sih pak Prem, aku ingin menemui kak Dinia.” ujar Lipa berusaha lolos, tapi Dinia keburu memasuki lift.
“Ih Pak Prem mah, gangguin kesenangan orang saja.”
“Nona Dinia jangan di ganggu Non, Karna nona Dinia sedang cemburu.” ujar Prem memberi alasan.
“Lha kakak ipar menggemaskan sekali, ternyata bisa juga cemburu samaa kak Sean.” ujar Lipa.
“Bukan non, bukan sama Tuan muda.”
__ADS_1
“Trus kakak ipar cemburu sama Siapa donk.” Lipa heran.
Prem berjalan menuju dapur,
“Ya sama kakek Tua.” pria itu hilang di balik tembok yang menghalang ruang makan dengan dapur.
“Astaga, sungguh membingungkan.”
******
Aina tidak berada dirumah, gadis itu sedang melenggang melabrak Sekertaris kakaknya karena sudah berani memecat Max tadi malam.
Gadis berusia dua puluh tahun itu memasuki ruangan Sekertaris Ham, lalu menendang kaki meja dengan kakinya, Dia yang berpenampilan seperti ukhti-ukhti itu menatap sangar kepada seorang yang duduk menatapnya datar.
Aina yang tersulut emosi langsung pergi menemui Ham di perusahaan keluarganya.
“Nona, apa kau tidak sempat mencuci tangan sebelum kemari, apa yang membuat mu Semarah ini.” tanya ham pura-pura tidak tahu.
“Kak Ham kebangetan tau ngga, Kak Max salah apa sampai kak Ham memecatnya begitu saja.” Kesal Aina.
Ham bangkit dari duduk, Menghampiri Aina.
“Jadi Max mengadu kepada anda.” Ujar Ham di barengi senyum sinis yang tertuju kepada Max.
“Dia pantas di pecat.”
__ADS_1
“Hanya gara-gara dia mengajak kami ke pasar.” Ujar Aina, tidak habis pikir, hanya dengan masalah se sepele itu Ham sampai bertindak sejauh Itu.
“Aina kecewa sama kak Ham.” ujar Aina, ia sadar Semarah apapun dirinya, ia tidak akan bisa mengubah keputusan Seorang Ilham Rajeksa.
Aina berbalik keluar ruangan dengan hati yang teramat kecewa, padahal dia sudah sangat bahagia memiliki Max sebagai supir peribadi mereka. tapi Ham malah memecat wanita itu.
Di dalam Ruangannya, Ham menghubungi anak buah suruhannya.
“Perketat keamanan, selalu jeli mengawasi nona Lipa dan nona Aina. jangan sampai mereka mengunjungi pasar lagi, jika para warga tahu mereka bagian dari Swalla group. aku tidak akan membiarkan hidup kalian tidur enak.” ujar Ham tidak main-main dengan ucapannya.
******
Di dalam kamar Kakek tua, Dinia menghabiskan waktunya, tidak ada yang tahu bahkan Prem tidak menyadari aksi nona mudanya.
”Membosankan, aku ingin melihat-lihat kamar ini dulu lah.” Dinia turun dari ranjang, Menghampiri kaca besar itu, Dinia berkaca sambil menggulung-gulung rambut panjangnya.
“Ternyata aku cantik juga,” Gumamnya, wahai pemirsa ini pasti bukan dirinya yang berbicara melainkan bawaan bayi yang membuatnya sedikit centil.
“Wah aku benar-benar merindukan tua Bangka itu, kapan dia selesai bernostalgia dengan istri pertamanya, sungguh menyebalkan aku sendiri mengakui bahwa diriku sedang merindukannya.” Guammnya.
Dinia membuka lemari, matanya terjenga melihat pakaian sang tua Bangka yang terlihat keren, bahkan sangat kekinian. tapi di antar itu Ada sebuah brangkas yang di kunci di dalam lemari, membuat Dinia penasaran apa isinya itu.
“Apa ini? ini seperti barang yang berharga, apa dia menyimpan harta Karunnya di dalam benda ini?” pikir Dinia bertanya-tanya.
Dinia berencana ingin membuka brankas itu, tapi tidak sekarang. wanita itu kembali berkeliling kamar, menatap sudut demi sudut ruangan, untung saja Dinia tidak tahu bahwa ada pintu rahasia di salah satu tembok yang tersamarkan itu, wahai pemirsa berdoalah agar ketajaman mata Dinia dapat menangkap hal-hal gaib di kamar itu.
__ADS_1