Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Masih Di Misi Yang Sama


__ADS_3

Di tengah-tengah terik panasnya Surya, Prem dan Delete kehilangan Dinia, kedua pelayan itu begitu panik. mereka akan menjadi donat di tangan Sean kalau tidak segera menemukan wanita berharga milik tuan muda mereka itu.


“Aduh, mati kita Del, tuan muda tidak akan membiarkan kita hidup kalau tahu seperti ini.” Sesal Prem, seharusnya ia tidak boleh memberitahu Dinia pasal hilangnya Lipa dan Alenta. Jadi akhirnya seperti ini. Dia yang lagi-lagi menanggung akibatnya.


“Kamu salah pak Prem, yang harus mati itu kamu. Kan kamu sendiri yang berinisiatif membawa nona muda kemari, aku hanya mengikuti mu.” Delete mengilak.


“He Maimunah! coba pikirkan lagi.” Prem membentak Delete.


“Yang berinisiatif kemari siapa?”


“Kamu pak Prem.”... jawab Del.


“Yang ikut menjaga nona siapa?” Tanya Prem.


“Aku pak Prem.” jawab Del.


“Jadi yang salah siapa?” tanya Prem.


“Yang membawa nona sama yang menjaga nona.” jawab Del.


“Jadi yang harus di hukum?” tanya Prem lagi.


“Jelas kamu dong.” jawab Del.


“Trus siapa lagi setelah itu.”


“......” Del hanya terdiam, tidak bisa menjawab. Sejurus dengan itu keduanya meraung-raung di tanah. hanya bisa menunggu takdir yang akan menebas leher mereka.


Sedangkan yang sebenarnya.


fakta dari kehilangan Dinia. Usman adalah dalang itu semua.


di dalam rumah kumuh itu, Dinia duduk di samping Siti, sambil fokus mendengarkan penjelasan Usman mengenai penyekapan Lipa dan Alenta.


“Jadi, kamu ingin membebaskan Lipa dan Alenta secara belah pihak?” tanya Dinia.


“Iya Mbak Nia, saya tidak tega.” jawab Usman sambil nunduk.


“Memangnya kamu siap di amuk warga?” tanya Dinia lagi.


Usman mengangguk pasti, lantas menatap Lipa yang mengancam sambil memberi isyarat jewer dengan wajah jutek.


“Iya mbak Nia, Saya tidak masalah kalau memag harus di amuk warga.., saya akan menyelesaikan masalah pasar dengan tidak menggunakan orang sebagai tawanan.”.


“Bagus, inilah Usman yang aku kenal.” Dinia menepuk-nepuk meja.


“Jangan Kawatir, biarkan dia saja yang akan menanggung akibatnya nanti. aku punya rencana.”

__ADS_1


*******


Di tengah-tengah kerumunan, dua orang pelayan sudah lemas terkapar.


sudah tidak sanggup bila harus menyelami lautan manusia yang jumlahnya ribuan.


Prem menatap Delete dengan damai, mungkin inilah detik-detik terakhir ia bisa melihat wanita yang sering berdebat dengannya itu.


“Mungkin aku akan merindukan mu nanti.” ucap Prem yang membuat hati Del mengharu biru.


Tunggu! ini bukan ungkapan cinta kan?


Di tengah-tengah kepasrahan. Sebuah tangan putih mulus terulur. Jari manisnya dihiasi cincin mahal yang familiar, bertuliskan huruf S dan D.


SD?


Sekolah Dasar?


buka! bukan seperti yang kalian pikirkan.


SD, Sean Diniah.


Cincin nikah itu membelalakkan mata Delete,


“Habislah.” ia langsung berdiri di dalam kepasrahan.


Jangan-jangan, tuan muda mengira Prem adalah nona muda.


“Kenapa kau disini, Dear.” Sean langsung mencium kepala Prem yang di tutupi jilbab dan niqab itu.


ia tidak tahu, mengira Prem adalah istri cantiknya.


“Tuan.” dengan nada gemetar, Delete ingin menjelaskan.


namun Sean segera memotong ucapan Del.


“Sudah Bibi, aku tidak akan memarahimu karena membawa Nia ku kemari,.” Sean tersenyum kearah bibi Del.


Astaghfirullah.


Delete ingin sekali pingsan.


ia tidak tahu harus bahagia tau menagis.


ya, untuk saat ini tuan mudanya tidak akan marah. tapai bagaimana jika sampai di rumah. dan Dinia belum juga di temukan.


Mereka semua pasti akan kehilangan kepalanya masing-masing.

__ADS_1


“Ya Robb, ya Robb. lindungi kami semua ya Allah. Dengan segala Keangunganmu.”


Delete harap-harap cemas. ia belum bisa tertawa meski adegan di hadapannya menggelitik di dada.


bagaiamana tidak, Sean selalu mendekap Prem yang ia kira adalah Dinia.


Keduanya hanya duduk di atas singgasana selagi Ham menyelesaikan kekacauan yang terjadi.


Delete ingin sekali tertawa jika tahu nyawanya tidak dalam bahaya.


_____________________________________________


Semua kerusuhan akhirnya terselesaikan, kini mereka akan segera pulang.


“Semua sudah beres tuan, Nona Lipa dan Alenta sudah di jemput oleh nyonya...


Sekarang apa sebaiknya kita pulang saja.” ujar Ham, Pria itu juga tidak tahu. bahwa yang ada di dalam Sandra itu bukan lagi Lipa dan Alenta, melainkan seseorang yang sudah di gaji tinggi oleh Dinia.


“Ya, kita harus pulang secepatnya.”


ujar Sean sambil membenarkan jilbab Istrinya.


Jangan tanya seperti apa sekarang raut wajah Prem di balik cadar.


untung saja ia tidak melepaskan kostum itu sebelumnya, Karna kalau tidak. ia dan Delete akan binasa saat itu juga.


“Sayang, kau Kenapa?


kau butuh sesuatu? katakan saja padaku ya.” Sean lagi-lagi bicara pada Prem membuat Prem berdebar tak karuan.


“Tuan, nona sedang tidak enak badan dari tadi.” Delete berujar, namun ia segera menyesali kelancanga nya itu.


“Apa katamu?.” seperti yang di harapkan, Sean langsung marah dan memelototi Delete.


“Dinia ku tidak enak badan?.” Sean memeriksa tubuh besar Prem dan membalik-baliknya.


“Ini semua salah kamu dan pak Prem. kenapa kalian berdua membawa Istri ku ke tempat seperti ini. kalau sesuatu terjadi kepada Nia, awas kalian berdua.” geram Sean.


Habislah...


Prem dan Del semakin tak karuan.


“Buka pintunya Ham, kita harus segera pulang. istri ku tidak boleh kesakitan.” Sean semakin kesal.


“Baik tuan, silahkan.” Ham membuka pintu mobil.


Mereka melakukan perjalanan pulang, namun bagi Prem dan Del, ini adalah perjalanan menuju alam baka.

__ADS_1


__ADS_2