Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Gigitan Mematikan


__ADS_3

“Dear.” Sean bergelayut manja di punggung Dinia. Meski beberapa kali memanggil, wanita itu sama sekali tidak menggubrisnya.


"Nia, Istri ku."


Dinia sengaja tidak menggubris, karena ia ingin bermanja-manja dengan Sean malam ini.


Ia sudah berimajinasi bahwa Sean akan membujuknya ketika ia jual mahal nantinya.


“Dear.” Sean terus saja memanggil.


“Apa?” Jawab Dinia setelah beberapa kali Sean memanggilnya.


“Kau ngapain.” Sean mengangkat kepalanya,mengintip aktivitas Dinia yang telah berani-beraninya membelakanginya.


“Aku sedang melihat hasil USG sayang. Kenapa? Kamu butuh apa biar ku ambilkan.” Dinia langsung mengubah posisi baringnya menghadap Suaminya.


“Aku butuh kamu.” Sean langsung mengecup bibir Dinia yang berisi.


“He.” protes Dinia.


“Kenapa?” Sean mengerucutkan keningnya melihat ekspresi monyong Dinia, yang tetap cantik dimatanya.


“Bilang-bilang dong kalau mau cium.” Dinia lantas mengambil handphone di atas nakas seraya berkaca dan membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan.


Tidak lupa ia memeriksa nafasnya apa masih segar.


“Sudah, kamu boleh cium.” Ujarnya kepada Sean.


Melihat tingkah Istrinya, Sean tergelak tak karuan. Perutnya kram karena tertawa.


“Ayo, cepat lakukan.” Dinia mengguncang-guncang tubuh Sean.


Sisi keganjenannya tiba-tiba saja terangsang malam ini.


“Kamu ini kenapa sih, Dear.” Sean menyentil hidung mancung Dinia.


“Kamu yang kenapa Sean, tadi main cium-cium aja. Sekarang di suruh malah cekikikan.” Dinia kesal. Ia kembali memutar hadapan membelakangi Suaminya.


“Jangan marah. Sini aku cium.” ujar Sean sambil mengecup tengkuk putih Dinia beberapa kali.

__ADS_1


“Tidak usah.” Dinia menjauhkan badannya dari Sean sementara tangannya menggenggam erat tangan Sean yang memeluknya.


Ini adalah bagian dari imajinasinya, bahwa Sean akan menggelitiknya Seperti malam-malam sebelumnya.


Dan mereka bercanda ria sampai menjelang pagi.


Itulah aktivitas paforit Dinia belakangan ini, selalu dimanja dan di perhatikan.


Namun kali ini tidak seperti biasanya.


Sean melepaskan pelukannya, ia sudah menemukan mainan baru yaitu foto USG 4D buah hati mereka yang sangat mirip dengannya itu.


Lantas ia membiarkan Dinia menjauh ke sisi ranjang.


Plakkk.


Dinia merebut foto hasil USG dari tangan Sean, membuat pria itu menatapnya keheranan.


“Kenapa?” Dinia membentak.


“Kenapa kau tidak membujukku saat aku menghindar, kenapa tidak melakukannya dan menciumiku dengan paksa. Biasanya kau kan seperti itu.


Dinia memarahi Sean begitu saja.


“Baiklah dear, akan ku lakukan.”


“Terlambat.” Dinia langsung menendang Sean dengan kedua kakinya dengan sangat energik.


Sampai-sampai ia ikut terjungkal sedikit kebelakang.


Brukkkk.


Pria itu terjatuh dengan keadaan tersungkur.


“Nia, kau mau membuat ku marah.” Sean dengan kondisi kepala menyentuh lantai seakan kesulitan untuk berkata-kata.


Dinia tidak peduli.


Ia kesal karena Sean mengacuhkannya, Sementara saat ia tidak ingin di ganggu Sean malah bersemangat menggodanya. Dan sekarang ketika ia ingin di ganggu Sean malah lepas tangan dan memilih mengabaikannya yang juga merindukan sentuhan-senruhan tangan suaminya.

__ADS_1


Dinia sangat jengkel, benar-benar gusar kali ini.


Sean juga begitu, dia yang selalu di agung-agungkan mendapat perlakuan seperti itu oleh Dinia tentu saja ia akan murka. Meski cintanya kepada dini begitu besar.


Sean berdiri dan ingin membentak balik Istrinya, setidaknya menegur wanita itu agar tidak berbuat yang demikian lagi.


Namun sebelum ia melafalkan kata demi kata keritikan, ia sudah lebih dulu luluh oleh air mata Dinia yang deras bagai air hujan.


“Dear, Maaf.” ia membelai pipi Dinia yang menangis Bombay di bawah bantal.


Akhir-akhir ini mood ibu hamil itu sangat tidak bisa di prediksi.


Kadang sangat ceria, kadang sangat melow. Sean sendiri sampai kebingungan menghadapi sikap Dinia yang selalu berubah-ubah seperti cuaca.


“Ummmhhh.” Sean merangkak keatas Dinia. Menyatukan pipi mereka.


“Apa cantik ku, kenapa menangis.”


“Kamu, tanya saja sama diri kamu sendiri.” Dinia menjawab di sela isakan.


Sean hanya tertawa, karena setelah kalimat Dinia itu, ia tidak mendengar dengan jelas celotehan Istrinya yang sedang menangis sesenggukan.


“Ngingngingngingngingngignginginginging.” hanya itu yang bisa ia dengar dari mulut Dinia yang hidungnya tersumbat karena terlalu serius menangis.


Sean di bawah tekanan ketawa dan cekikikan. Mencoba menahan dengan sekuat tenaga.


Pria itu turun dari atas tubuh Dinia.


Lantas ocehan tidak jelas dini semakin keras.


“Tuh kan,malah di tinggal. Hinggghhhhhhh.”


“Iya sebentar Sayang.” Sean mengambil kotak tissu dan kembali duduk diatas ranjang.


“Jadi kamu lagi kesal nih ceritanya.” Sean mengusap ingus Dinia yang berlebihan.


Dinia langsung duduk dan tidak menjawab pertanyaan Suaminya. Lantas menggigit lengan Sean dengan sekuat tenaga.


Seolah menjadi penjawab dari pertanyaan-pertanyaan Sean.

__ADS_1


“Dinia.” Sean yang kesakitan langsung mendorong kepala Dinia agar melepaskan gigitan mematikan itu.


__ADS_2