Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Tidak percaya.


__ADS_3

Menutup mata dalam-dalam, tidak ada lagi keraguan bahwa dirinya akan aman, Dinia kenaikkan selimut sampai ke pinggang, tersenyum bahagia saat memasuki ambang mimpi.


di luar rumah, mobil selertaris Ham terparkir, Dua orang itu keluar dari mobil, Sean dan Ham.


sedangkan Prem menunggu di depan rumah.


“Selamat malam tuan muda.” ucap Prem sambil menunduk.


Sean mengangguk,


“Apa dia sudah tidur?”


“Nona muda sudah tidur sejak tadi tuan.” jawab Prem.


“Baiklah.


Kau pulanglah Ham,”


“Baik tuan, selamat malam dan selamat beristirahat.”


Sean mengangguk, lalu berjalan di ikuti Prem memasuki rumah.


“Apa saja yang dia lakukan tadi siang, apa dia menyusahkan kalian.”


“Tidak tuan, nona hanya sedikit marah saat Karbonara terus mengguruinya.” adu Prem.


“Hmm.”


mereka memasuki kamar Sean, pak Prem membantu Sean membuka jas dan mempersiapkan air mandi untuknya.


“Pak Prem, lain kali tidak usah mempersiapkan semua untuk ku, biar Dinia saja yang melakukannya.”


Eh, apa tuan akan membongkar rahasia anda sekarang?.


batin Prem bertanya-tanya.


“Baik tuan.”


“Setelah mandi aku akan tidur di kamarnya.”


“Oh iya tuan.”


Prem mengangguk mengerti, lalu duduk di sova sambil menunggu tuan mudanya selesai.


setelah beberapa saat, Sean keluar dari kamar mandi, dan Prem langsung menyiapkan kostumnya.


“Tuan mau pakai sekarang?”


“Tidak, aku tidak ingin memakainya.” sahut Sean.


Apa itu artinya tuan akan mengaku dan mengakhiri sandiwaranya malam ini, syukurlah Ku harap tuan dan nona Diniah bisa mengerti satu sama lain dan hidup bahagia.


Prem bergumam.


Masih memakai Jubah mandi, Sean langsung beranjak menuju kamar Dinia, dan pak Prem mengurus kamar itu agar kembali rapi.


“Syukurlah Akhirnya tuan muda mengakhiri juga, Akhirnya semua orang seisi rumah akan sangat bahagia. dan tidak ada kesalahan pahaman di antar nona dan tuan muda.”


******


“Good night, Dear.”

__ADS_1


Suara itu lembut menyapa telinga, jemari Sean tidak bisa berhenti mengitari wajah giok wanita dua puluh lima tahun itu.


hmmm.


Dinia mulai melenguh, sedikit terusik dengan kelakuan suaminya.


“Apa kau tidak tertarik untuk bangun Dear?” Sean berbisik di telinga Dinia, membuat wanita itu tersenyum dalam mimpinya. entah apa yang ia mimpikan.


Setengah sadar Dinia mencoba menikmati sentuhan-sentuhan dan deru nafas yang menyapa kulitnya, rasanya sedikit bahagia bermimpi mesum tanpa ada yang tahu.


pikirnya dalam setengah sadarnya.


“Dear.” Sean terus memanggil Dinia, mengusap pinggang itu dengan nakalnya.


“Kau mau aku membangun kanmu dengan cara apa.”


Dinia menerawang dalam tidurnya,


Kenapa tokoh ini sangat nyata., bukan kah aku sedang bermimpi!


Dinia membuka matanya saat tangan Sean meraba dadanya.


“Haa!” Dinia menangkap tangan itu dan meremuknya.


“Sialan, apa yang kau lakukan.”


Sean meringis kesakitan, kala tangan kirinya di remas oleh wanitanya.


“Kau, berani sekali ya.” Sean mengambil alih kekuasaan, mengunci tubuh Dinia di pelukannya, membuat wanita itu tidak bisa apa-apa.


“Lepaskan aku.” Dinia menggertak.


Sean mencium bibir merah muda milik Dinia membuatnya merekah.


“Ah.” Dinia mendesah perlahan, Dinia tidak bisa munafik, saat Sean menyentuh area sensitifnya, hatinya bergejolak.


“Hehe, sepertinya kau menginginkannya.” Sean menggoda.


“Tutup mulutmu kurang ajar, cepat lepaskan aku, kau harus tahu aku adalah istri kakek mu, kami sudah melakukannya dan sebentar lagi aku akan hamil anaknya, lepaskan aku bajingan.” teriak Dinia murka.


“Apa itu artinya aku akan memiliki paman atau bibi.” tanya Sean, tidak berhenti dengan kegiatannya membuat Dinia semakin kesal saja tapi tidak kuasa menolaknya.


“Iya, jadi lepaskan aku,”


“Tidak, aku berniat menambahnya satu, kau akan melahirkan dua, satu punya kakek dan satu punya ku, bagaimana dear?” goda Sean sambil mengulum jemari Dinia.


“Biadab tidak bermoral, aku tidak akan pernah Sudi di sentuh orang yang bukan suamiku, menyingkirlah iblis terkutuk.” Dinia sangat murka, tentu saja, dia adalah gadis yang suci. yang tidak akan mau berzina dengan pria lain meski itu menggoda.


kau pikir aku wanita macam apa ha, rahim ku suci, hanya akan mengandung keturunan dari pernikahan yang sah, Aku bukan wanita murahan.


Dunia menggigit lengan Sean, perlawanan demi perkawanan ia lakukan, tapi sepertinya keberuntungan tidak selalu berpihak kepada orang yang benar.


ia harus melalui malam di perkosa oleh suami sendiri.


Aku bembencimu, sangat membencimu Sein.


Di tengah kesakitan, Dinia meneteskan air matanya, mengutuk pria asing yang menyentuhnya.


perasaannya hancur, di nodai oleh cucu tiri, membuatnya kehilangan harga diri.


______________________________________________

__ADS_1


Sepeeti biasa saat pagi Delete selalu datang ke kamar Dinia, membantu wanita itu mempersiapkan paginya.


Di atas tempat tidur, Dinia menggeliat karena terusik dengan cahaya mentari yang mudik ke Indra penglihatannya.


wanita itu merentangkan otot-ototnya yang terasa remuk tak berdaya.


Dinia terheran, ketika melihat tubuh polosnya hanya di balut selimut, ia sangat marah kala kisah kasih cinta semalam mengulang di kepalanya.


“Sialan, biadab tak beretika.” Ujarnya murka. sambil menghentakkan kaki di atas kasur.


“Nona muda mandilah, saya sudah menyiapkan segalanya.”


Dengan murkanya Dinia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang di nodai cucu tiri,


“Sial, menjijikkan.” Dinia membersihkan tanda merah yang sangat banyak itu dari tubuhnya menggunakan spons Mandi, tapi stempel kepemilikan itu terlihat serasi dan melekat tak terlepaskan.


“Sial, sial, sial.” Wanita itu sangat marah.


ayolah siapa yang tidak marah jika berada di posisi Dinia, siapa yang akan rela di nodai begitu saja, semua wanita pasti akan sangat kecewa dan ingin gila.


Dinia selesai mandi, ia mengganti pakaiannya di ruang ganti, lalu bergegas menemui suaminya.


Dinia membuka pintu itu tanpa aba-aba, lantas masuk begitu saja, untung saja Sean sudah stenbay dengan kostumnya.


“istri ku, ada apa.” tanya Sean sambil tersenyum riang.


Dinia yang semula datang dengan gayanya yang seperti ingin menantang tiba-tiba berlari memeluk kaki Sean yang terlentang.


“Maafkan aku, sudah menghianati mu, aku tidak bisa menghindar dan tidak kuasa menghindar.”


“Apa yang kau bicarakan istri ku.” ucap Sean, kura-kura di atas perahu–pura-pura tidak tahu.


Dinia mendongakkan wajahnya, menatap pria tua dengan air mata yang terus merembes di wajah.


“Kenapa kakek tidak menikahkannya saja.” lantas bangkit dan duduk di samping Sean.


“Ayo kek, kita nikahkan sein dengan wanita pilihannya.”


“Memagnya kenapa kita harus ikut campur dengan urusannya, dia sudah dewasa kan, biarkan dia saja yang mengurusnya.” ujar Sean, ingin tergelak tapi Ian Tahan.


“Apa kau akan percaya padaku saat aku mengatakannya.” ucap Dinia.


“Tentu saja istri ku, memangnya apa.”


“Dia menodai ku.” ucap Dinia Lantam, seakan kehilangan kendali untuk merahasiakan.


“Hus, hus. Jangan bicara sembarangan istri ku, Sein tidak mungkin melakukan hal bejat seperti itu.” sangkal Sean.


“Kakek tidak percaya padaku!”


”Mungkin kau berhalusinasi istri ku, karena kau mendambakan pria muda dan tampan. apa kau terluka menikahi pria tua.”


Dinia mengepalkan tangannya, ingin meghadiakannya itu kepada suaminya, tapi ia tahan.


“Kau pikir aku wanita apaan, jika aku mau aku sudah melakukannya kepada siapa saja, Sekertaris Ham bahkan pak Premium. tapi aku bukan wanita yang seperti itu.


ku pikir kau adalah kakek tua yang mengerti perasaanku karena kebaikan mu, tapi ternyata kau tua Bangka yang sama mengesalkannya dengan cucu mu, aku membencimu dan keluargamu.” Dinia berlari menuju kamarnya.


saat tidak ada yang mempercayainya, Air matanya meleleh seketika.


rasanya sakit, seperti di hujami Selaksa belati.

__ADS_1


di pendiriannya, Sean terlihat bahagia, melihat ketulusan Istrinya. tapi ia sedikit murka saat Dinia menyebut nama Ham dan Prem.


“Kenapa harus mereka, oh jadi kau tertarik kepada mereka ya.” Grutunya kesal.


__ADS_2