
Sesungguhnya Dinia tidak ingin hubungannya dengan sang suami seperti ini, renggang dan penuh dendam. tapi kekesalan di hati semakin menguap kala mengingat bagaimana dulu Sean menolaknya mentah-mentah.
tapi satu yang perlu di garis bawahi, dengan sikap Sean yang sekarang ini– apakah pria itu menyukainya.
“Tidak tidak! jelas-jelas dia menolak ku saat aku melamarnya di pasar, enam bulan yang lalu.” pikirnya berulang kali.
Tapi tetap saja ia berharap bahwa sekarang yang di rasakan Sean adalah sebuah perasaan suka, bukan hanya keseruan karena mempermainkannya.
Dia sedang tidak mempermainkan ku kan.
Pikirannya campur aduk, bahkan di saat-saat penting seperti ini yang ia pikirkan hanyalah suami menyebalkan itu.
Dinia dan keempat gadis yang lain sedang berkunjung di rumah kakek Wijaya, seperti biasa, saat mereka pergi ke pasar–hal yang wajib di lakukan mengunjungi rumah kakek.
Di ruang keluarga, Wijaya di kerumuni empat gadis yang begitu antusias menanyainya prihal tentang Dinia, mereka menginginkan cerita, atau sekedar kesukaan dan hal-hal yang tidak di sukai kakak ipar mereka itu.
“Ini siapa kok kakek baru pernah lihat.” Ujar Wijaya menunjuk Alenta. si kurus yang membahana.
”Nama saya Multitalenta Anjeline kek, Seorang dokter mata, dokter kandungan dan dokter hewan.” ujar Alen memperkenalkan diri.
“Kakek bisa panggil saya Alenta.”
“Wah kau seorang dokter juga, aku mempunyai cucu Seorang dokter juga, sepupu jauh Dinia.” Ujarnya, “Sebentar biar ku panggil dia kemari.” Wijaya langsung menghubungi dokter Fhiari.
“Kakak ipar punya sepupu kek.” tanya Alenta.
__ADS_1
“Iya sepupu jauh.”
“Orangnya seperti apa?”
“Dia tampan, tinggi dan putih.” balas Wijaya di barengi senyuman.
“Wahhh.” Alenta berdecak kagum bahkan sebelum melihat Sosok dokter Fhiari itu.
”Yeee kak Alenta jangan jelalatan, Dokter Fhiarai naksiran Lipa. udah deh Kak Alenta sama Sekertaris Ham saja.” Bisik Lipa ketelinga alenta yang sekarang sudah mengulum air liurnya.
”Siapa juga yang mau oleng dari Bang Ilahm, Forever Crush.”
Cibir Alenta yang tersinggung dengan kata-kata Lipa barusan.
Mereka lanjut mendengarkan kisah tentang Dinia dari kakek Wijaya.
sedangkan Dinia sendiri sedang asik melamun di teras samping rumah sambil menikmati pemandangan malam dengan rembulan yang benderang.
*****
Kediaman Dinata.
Sean turun dari mobil dan langsung di sambut hangat oleh Menty, tidak seperti biasanya. sekarang sang ibu itu terlihat ingin menjejalkan berbagai pertanyaan dan pernyataan.
“Kenapa keluar malam-malam Bu.” tanya Sean kepada Menty.
__ADS_1
“Di rumah sepi, ngga da siapa-siapa.” Ujarnya memasang raut iba.
“Sayang, tolong dong bilangin ke istri mu–kalau keluar rumah sesekali ajak mama.” rengeknya kepada putra kesayangannya itu.
“Kenapa ibu tidak ngomong langsung padanya.” Sean.
“Mama takut dia tidak mengijinkan mama ikut.” Sesalnya, seandainya dari dulu ia tidak boleh menunjukkan sikap angkuh di awal pertemuan dengan menantunya. dan sekarang ia kesulitan Pendekatan dengan Dinia.
“Sudah Bu, masuklah.” Sean menggandeng menty memasuki rumah.
“Masuklah ke kamar ibu.”
Sean mengantar Menty ke depan kamar, lalu bertanya kepada Prem.
“Kemana dia pergi? kenapa belum kembali.”...
“Nona muda dan ketiga nona sedang mengunjungi kakek Wijaya.” jawab Prem, ia harus wanti-wanti tidak boleh kecoplosan kalau Sebenarnya nona mudanya sedang mengunjungi pasar terlebih dahulu.
Atau kalau tidak, manusia besar di belakang Sean akan murka.
“Ham, suruh mereka kembali, aku ingin bertemu Dinia ku.” Ujarnya lalu berjalan kedalam kamar Kakek tua–yang sekarang menjadi kamarnya dengan Dinia sayang.
Lebih baik aku mandi dulu,
Sean mengeluarkan sebuah botol parfum mujarab yang di racik oleh orang-oramg ahli wewangian. parfum inilah yang membuat Sean selalu harum di dekat dinia. Sean tidak akan membiarkan istrinya merasakan bau tubuhnya, terlebih lagi saat Dinia hamil muda.
__ADS_1