Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Apa??


__ADS_3

Ham Libur dari dunianya yang menyibukkan, mendampingi Sean sepanjang hari, sekarang ini adalah waktu untuk dirinya, malam masih sangat panjang, pria bernama Ilham itu memutuskan berendam di bathtub beberapa saat.


mendengarkan musik favorit berbahasa asing itu, Ham terlihat menggerak-gerakkan jemarinya di pinggir bathub.


Drtttt drtttt.


suara gawai berderit pelan, memalingkan pria itu dari kenyamanan, sejenak.


Tuan muda.


"Ham, aku Rindu Dinia.” Begitu isi pesan singkat milik Sean, membuat Ham menggeleng pelan.


Jika tidak sanggup berpisah, kenapa mengijinkan nona pergi.


batinnya, ia memutar bola mata, malas. ini adalah kode untuknya agar melupakan Waktu berharganya, karena saat ini mungkin tuan muda itu sedang merindukan Istrinya dan ingin di antar ke rumah kakek nona mudanya itu.


Ham keluar dari kamar mandi, memakai kemeja Koko Putih di lengkapi sarung dan peci, pria itu melaksanakan shalat isya sebelum berlayar ke rumah tuan mudanya.


Tuannya yang berbunga-bunga Ham ikut memikirkan rumitnya.


****


Dikediaman keluarga Wijaya.


Wijaya sangat bahagia karena kedatangan tamu yang sangat dinanti-nantikannya, Dinia cucu kesayangannya itu.


“Makanlah,” Wijaya mempersilahkan.


“Terimakasih kakek.” Jawab Lipa dan Aina.


“Saya sangat senang kalian menyukai Dinia dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga.” ucap Wijaya haru.

__ADS_1


“Kakek, kami sangat menyukai kakak, anda jangan Kawatir, Kakak pasti akan bahagia hidup di keluarga Dinata.” ucap Lipa.


“Syukutrah, Aku sangat senang mendengar itu, selama ini aku sangat khawatir dengan keadaannya, tapi setelah mengetahui banyak yang mencintainya di keluarga itu, aku benar-benar sangat bahagia.” ucap Wijaya lagi.


“Kakek, aku pasti bahagia, jangan pusing-pusing memikirkan ku lagi.” Dinia menggenggam tangan kakeknya di atas meja.


Wijaya tersenyum, akhirnya rasa khawatirnya perlahan-lahan sirnah.


“Ngomong-ngomong, Kakek mengundang Fhiari kemari, sebentar lagi pasti akan sampai.” Ujar Wijaya.


“Kakek, tidak usah mengundangnya terlalu sering, dokter itu selalu sibuk,” ujar Dinia.


“Bukan, Dia sendiri yang meminta datang, setelah kakek mengatakan kau datang berkunjung, dia langsung pulang dari rumah sakit dan bersiap-siap kemari.” Ujar Wijaya.


Dinia hanya diam, menahan mual yang semakin berdesak-desakan ingin tumpah.


“Kakek, siapa Fhiari Itu?” Tanya Lipa.


“Iya kek.”


Selang beberapa waktu, tamu yang di maksud itu sudah tiba, Fhiari, si dokter muda dan tampan, pria itu tersenyum menyapa para insan yang ada di sana, memperlihatkan gigi putihnya yang mengkilap.


“Dek, lihat senyumnya menawan.” Bisik Lipa kepada Aina.


“Biasa aja,” sahut Aina dan terus memakan makanannya.


“Selamat malam Kakek, Dinia,


selamat malam semuamya.” ujar Fhiari.


“Fhiari, Perkenalkan mereka berdua nona dari keluarga Dinata.” ujar Wijaya.

__ADS_1


“Hai, aku Lipalhosy Rad-e Dinata.” Ujar Lipa memperkenalkan nama estetiknya.


“Oh hai.” Fhiari.


“Aku Aina shalbiya.” Ujar Aina menguncupkan kedua tangannya khas ukhti-ukhti.


“Oh hai Aina, nama ku Fhiari.”


Mereka melanjutkan makan, sambil bercanda gurau di malam yang indah.


Dinia sudah berkeringat dingin menahan segala yang ia rasakan dari dalam tubuhnya, rasanya sangat mual dan ingin mengeluarkan isi di dalam perutnya yang tidak seberapa itu.


Hoekkk.


Dinia berlari ke Wastafel.


tentu saja itu membingungkan seluruh penjuru rumah apalagi sang kakek.


“Dinia kau baik-baik saja.” Rasa cemas dan kelawatiran mulai mengudara.


Dinia terus saja mual tanpa ada yang ia keluarkan, wanita itu mengusap mulutnya, sambil berkaca, menatap wajah pucat ya.


“Aku sakit apa sih.” pikir ya.


“Dinia, apa kau hamil.” Ujar Fhiari, membuat yang lain tercengang.


APA????


Brukkk, Tubuh Dinia terjungkal ke lantai, syok parah, itu yang ia rasakan.


Jika aku hamil? berarti ini anak pria sialan itu!

__ADS_1


Oh Tuhan, ampuni aku.


__ADS_2