Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Hal yang lain


__ADS_3

“Siapa bilang ini pelecehan, Gadis ini adalah istri ku, tidak ada salahnya kan aku berbuat hal wajar.”


Gumam Sean di dalam hati,


sekarang pria itu sudah merangkak keatas tubuh Diniah.


Di pandangnya gadis itu dengan pekat, meneguk salivah.


Sean menyingkir dari posisinya,


Tidak! untuk apa aku bersembunyi-sembunyi begini, bukankah dia milikku.


Batinnya, timbul seringai tajam.


Sean menyalakan lampu, lalu berbaring miring menghadap diniah. pria itu sibuk membenarkan poni Diniah yang berantakan.


Mengelus Wajah itu sampai sang empu terusik.


Plakkkkkkk


Dinia menampar tangan yang mengitari wajahnya, meremas tangan itu dengan sekuat tenaga.


“Auh.” Sean meringis kesakitan, Gadis tomboy itu tenaganya bukan mainan.


“Apa yang kau lakukan bedebah!” Dinia melotot kearah Sean.


“Mengunjungi kamar nenekmu di malam hari apa kau tidak punya sopan santun.


Anak nakal.” Diniah menjewer kuping pria yang ia anggap cucu besarnya.


“Beraninya kau menjewerku.” Ujar Sean dengan suara Seraknya yang menakutkan.


“Kenapa? kenapa aku tidak berani menjewer anak nakal sepertimu. berani-beraninya datang ke kamarku, menggerayangi wajahku, kau pikir ini adonan donat bisa di grab-grab semaunya.” Protes Dinia tidak terima.

__ADS_1


“Kenapa memangnya, kau kan ist-ri.... kakek ku.” Ujar Sean terbata.


“Justru Karena aku adalah istri kakek mu,.kau tidak boleh seenaknya berbuat padaku Jainuddin.” Bentak Dinia galak.


“Aku Sein bukan Jainuddin.” protes Sean lagi.


“Terserah, aku tidak peduli kau Sein atau Udin, yang aku sesalkan kenapa kau mengunjungi kamar ku saat aku tertidur.” Dinia berdiri, berjalan menuju pintu lalu berkata sambil berkacak pinggang.


“Hei anak muda, kau mesum atau bagaiman?


Atau jangan-jangan, kau ingin membunuhku karena takut harta warisan kakekmu akan jatuh ke tanganku haha.” ujar Dinia, di akhiri dengan suara tawa yang menggema.


Cihhhh gayanya,


sok pintar, mengenai penyamaran ku saja tidak tahu, bagaiamana dia bisa menyimpulkan aku akan membunuhnya karena iri, Gadis ini benar-benar tidak tahu ya kalau aku menginginkannya.


Batin Sean.


Sean berdiri dari ranjang, menghampiri Diniah yang mulai gamang.


“Hei apa yang kau lakukan.” Dinia menghindar. melangkah mundur inging keluar dari kamar.


dengan cepat Sean merangkul pinggang ramping itu dan memeluknya erat.


“Tendang aku dari jendela jika kau bisa melakukannya nenek.” Ujar Sean dengan seringai.


Apa Dia gila, kenapa memelukku dengan erat begini, ini tidak benar.


Dinia mulai ketakutan.


Sean membawa tubuh itu keranjang, menghempaskannya dengan manja.


“Sialan, Anak kurang ajar.” Bentak Dinia.

__ADS_1


Sean menekan lengan Dinia, mencium bibir itu untuk pertama kalinya.


“Au.” Sean kembali menjerit saat Dinia menggigit bibirnya.


Sean menatap Dinia yang juga menatapnya dengan amarah.


Lalu menciumnya lagi.


Plakkkkkkk.


tamparan panas mendarat di pipi Sean.


Sean belum Jera dan masih berusaha mencium gadisnya.


“Hentikan.”


Diniah menampar lagi pria itu, dia sudah di puncak kesabaran.


“Kau menolak ku, tidak kah kau tahu berapa besar dosanya itu.” Ujar Sean dengan wajah merahnya.


“Cuihhh.” Diniah meludah Sean.


“Apa yang kau bicarakan sialan. kau benar-benar kelewatan.” Diniah beranjak ingin kabur tapi Sean menangkapnya dan menjatuhkannya di ranjang kembali.


Sean sudah di puncak keinginannya, ia menindih tubuh Diniah lalu mengecup wajah manis itu.


“Lepaskan aku.” Perintah Diniah yang tidak Sean dengarkan.


Sean mengitari leher putih jenjang itu yang membuatnya semakin bergairah.


“Hentikan ku mohon.” Tangis Diniah pecah, gadis tomboy yang sangat jarang menangis itu mengeluk-eluk sisi perikemanusiaan Sean, melihat istrinya menangis membuatnya tidak berdaya dan harus melepaskan.


Pria itu meninggalakan Dinia dengan wajah tidak karuan, kekecewaan yang mendalam.

__ADS_1


__ADS_2