Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Sebuah pertunjukan part 2


__ADS_3

Semua gara-gara keinginan absrut Dinia, Semua jejeran Keluarga membentuk barisan, menyanyikan himne Disney yang di karang oleh Prem.








(Anggap saja Himne.)


“Alkisah.” Prem dan Delete mulai bicara, sebagai MC kehormatan.


“Di kisahkan seorang gadis cantik yang baik hati yang sedang bersedih karena diperlakukan tidak adil oleh ibu tirinya. karena ketabahannya gadis cantik itu di persunting oleh pangeran dari kerajaan.


bagaiamana kelanjutannya, mari kita saksikan "Legenda Cinderella." berikut ini.” Begitu MC Prem dan Delete membacakan secara bergantian.


Prok prok prok.


Dinia memulai dengan tepuk tangan yang meriah, di bangku penonton, Ia dan sang suami duduk berdampingan seperti anak muda yang sedang berkencan, Sean selalu mengaitkan tangan Diniah di gandengan begitu enggan melepaskan.


Pertunjukan pun dimulai,


Alenta dengan baju usang dan celemek khas pembantu di tubuhnya, memegang gagang sapu, dengan mimik wajah bersedih memasuki panggung.


“Aku adalah Cinderella, Upik abu yang terhina. pekerjaan ku beres-beres rumah, bertani dan juga memeras susu lembu betina, semua ku kerjakan dengan terpaksa, karena ibu tiri ku begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan.” Curhat Cinderella' di depan Dinia.


Membuat Dinia meringis di tempat duduk, tapi ia suka dan sangat menikmati.


“Dear apa kau suka?” tanya Sean kepada istri tercinta.


“Suka, suka, suka. terimakasih Sayang.” ujar Dinia mengucap kata sayang, berarti suasana hatinya sedang senang.


Sean berbunga-bunga, tidak sia-sia ia menyuruh para orang-orangnya untuk pertunjukan ini. dia mendapat hadiah yang setimpal, panggilan sayang dari Dinia.


“Dear boleh aku meminta? bisakah kau memanggilku seperti itu di setiap detik, menit, jam dan setiap saat.” ujarnya memohon.


Plakkk.


“Diam.” Dinia yang menyaksikan mulai risih dengan Sean.


“Baik.” Sean menurut, tidak apa Dinia cuek padanya, asalkan Istrinya itu bahagia menyaksikan pertunjukan ia pun turut bersuka cita.

__ADS_1


Kembali ke pertunjukan.


“He Ella, yang bersih ya,” Aina sebagai adik tiri Cinderella mulai berkata.


“Cat." Prem menyela.


“Aduh nona, coba lebih ketus dan lebih zdolim lagi.”


“Maaf pak Prem Aina ngga bisa.” Adu Aina yang memang tidak bisa sejahat itu.


Jika bukan karena kekurangan pemain, Aina tidak akan di rekrut jadi pemeran antagonis wanita, berhubung pemeran yang lain sudah mendapatkan peran, terpaksa Aina harus menerima peran lacnut ini.


“Ya sudah lah nona,” dengan perasaan bersalah Prem menghadap Dinia.


“Nona muda maaf.”


“Tidak apa-apa pak Prem, biarkan saja seperti itu, aku suka.” balas Dinia.


Don't worry


Kembali ke cerita.


Cinderella di tugaskan membuat kopi untuk ibu tirinya, ia pun membawakan kopi pesanan sang ibu tiri.


“Silahkan di minum bu.”


sepersekian menit pun ia menjambak rambut Cinderella.


“Aduh Bu ampun.” adu Cinderella kesakitan.


“Ella, Upik abu yang terhina, sampai kapan kamu memanggil saya ibu, saya bukan ibu kamu. panggil saya nyonya.” Ujar Menty dengan penghayatan.


Prok prok prok.


Dinia memeberi tepuk tangan untuk peran Menty,.


Perfect.


“Kamu itu anak tiri, jadi jangan panggil ibu kami sebagai ibu, sadar dirilah gadis abu.” Nosi yang berperan sebagai kakak tiri mulai menganiaya Cinderella.


“Ampun kak.” Cinderella meringis kesakitan.


Tok tok.


Suara pintu di ketok. mengalihkan perhatian semua orang.


Seketika perawakan sangar ibu tiri berubah ramah kala tahu siapa yang datang.

__ADS_1


“Prajurit istana.”


Sang prajurit memberi undangan pesta ulang tahun pangeran.


dengan segala kegembiraan dan suka cita ibu tiri menerima undangan.


“Dengan senang hati, saya dan anak-anak saya akan hadir kepesta yang mulia pangeran.”


“Yuhhu, aku pasti tamu gadis tercantik, dan pangeran akan terpikat padaku.” Aina mulai mampu mendalami perannya.


“Aku juga tidak mau ketinggalan, aku akan memikat pangeran dan menjadi permaisuri di istana.” tambah Kaka Tiri yang di perankan Nosi.


Lihat betapa percaya dirinya dua gadis itu.


“Benar anak-anak Ku, hanya kalianlah yang pantas mendapatkan cinta dari pangeran, hahaha.” ibu tiri menyemangati kedua putrinya.


“Hmm Bu, aku juga ingin ikut?” Cinderella meminta.


Menyulut emosi tiga wanita itu.


“Apa katamu, tidak bisa. kau hanya tukang bersih-bersih. mana mungkin bisa pergi ke tempat semewah itu.” Nosi.


“Jangan mimpi kau bisa pergi dasar gadis abu.”


Dengan segala kekecewaan, dan kesedihan yang datang berkelabat menyulut hatinya, Cinderella menepi di sebuah gudang di dalam rumah.


sedangkan ibu tiri dan saudara-saudaranya, sudah pergi ke pesta sang pangeran.


di dalam keheningan yang berbalut kesedihan. sesosok kurcaci menemui Cinderella.


menyerahkan sepasang sepatu kaca.


“Apa ini? siapa kamu?”


“Aku adalah kurcaci yang di suruh ibu peri untuk membantumu pergi kepesta, pakailah sepatu ini Cinderella, tapi jangan lupa kembalilah ke rumah sebelum jam dua belas malam.”


“Baik, sampaikan terimakasih ku untuk ibu peri.”


di suasana pesta, para pelayan berperan sebagai bangsawan yang menghadiri pesta, riuh kian menantang di pendopo itu, memunculkan kerut di dahi tampan Sekertaris Ham yang berperan sebagai pangeran tampan.


Sila, jika bukan karena perintah tuan, aku tidak Sudi berdiri di pertunjukan konyol ini,


Ham dengan segala keaeogananya mulai risih. Prem menatapnya yang belum bereaksi, seolah memberikan isyarat.


“Ayo tuan Ham, laksanakan peranmu dengan sebaik-baiknya." seperti itu arti pandangan prem di balik layar.


Persetan dengan pertunjukan bodoh ini, aku tidak Sudi menjadi pangeran, aku lebih baik menjadi Ham, aku tetap aku.

__ADS_1


__ADS_2