
Semua salah mu tuan, jika saja kita fokus kepada pekerjaan, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Masalah yang bertubi-tubi datang silih berganti, belum lagi masalah di Swalla, sekarang masalah terbesar Ham kehilangan kualitas penjagaannya, kemana ia harus mencari dua gadis itu, sedangkan akhir-akhir ini ia tidak fokus membuntuti.
“Awas saja kalau mereka berdua kenapa-napa, aku tidak akan membiarkan itu terjadi Ham.” Ancamnya kepada Sekertarisnya itu.
Ham sudah tidak peduli omongan Sean lagi, ia hanya memikirkan nasib kedua gadis itu.
takutnya Kedua saudari Sean itu tengah di tangkap karena ada pihak ketiga dari proyek pembangunan Mall di pasar tradisional.
itu yang ia pikirkan.
sedangkan sean sudah teramat cemas, takut kedua adiknya menjadi korban pelecehan seksual, yang semakin marak terjadi di kota metropolitan.
Kalau mereka sampai kenapa-napa aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Mereka mencari dari bar ke bar lain, dari perkumpulan anak muda dan tempat-tempat yang tersirat di benak mereka. sialnya handphone dua gadis itu tidak terlacak sama sekali.
_________
Dua gadis tengah di sekap di rumah seorang pria. dia bernama Usman, teman lama Dinia.
Usman tidak ada pilihan lain. untuk mengancam orang-orang Swalla ia terpaksa menyandra dua anggota keluarga Swalla, mungkin dengan ini ia bisa menjaga pasar agar tidak di gusur paksa dan di jadikan Mall.
“Mari mbak makan, maaf makanan kami tidak ada yang enak.” Ujar seorang anak perempuan bernama Siti, dia adaik satu-satunya Usman, mereka tinggal berdua dan sudah tidak memiliki orang tua.
“Dek kami boleh tahu kenapa kami di Sandra? kami salah apa?” tanya Lipa dan Alenta.
“Maaf kak saya tidak tahu, tapi kakak tenang saja, Mas Usman tidak akan menyakiti kalian dia pria yang lemah lembut.
__ADS_1
kita makan dulu yok kak.” ujar siti.
“Kalau boleh tahu Kemana perginya Abang mu itu?" tanya Alenta.
“Biasa, kalau malam-malam begini mas Usman dan pria-pria kompleks lainnya kumpul untuk musawarah.” jawab Siti lagi.
“Musawarah apa? Abang kamu Anggota lurah?” tanya Lipa.
“Bukan kak, beberapa bulan ini, pasar diancam gusur oleh perusahaan besar, katanya mau di jadikan Mall, tapi warga sekitar menolak. Karna memang hanya pasar sumber penghasilan warga sehari-hari, kalau pasar di gusur. para pedagang mau jualan dimana? para rakyat kecil mau belanja dimana? kami hanya orang miskin ngga sanggup belanja di Mall.” tutur Siti.
“Yang sabar ya Siti, semoga saja kalau sudah besar kamu dan Abang kamu bisa hidup layak.”
“Amin kak, ayo kak kita siap-siap makan sebentar lagi Mas Usman datang.”.
“Iya.” Serentak Lipa dan Alenta.
“Assalamualaikum Ti.”
“Waalaikumsalam mas.” Mas sudah pulang mari makan mas.
“Iya dek.” Usman mengelus kepala adik kesayangannya.
melihat paras Usman, Lipa dan Alenta kaget, pasalnya mereka mengenal peria itu.
saat Kakek Wijaya berkunjung Usman ikut serta dalam rombongan Wijaya dan Fhiari.
“Kamu?” Alenta dan Lipa bersuara.
“Selamat malam bak, mari mbak.” begitu sopan mempersilahkan Lipa dan Alenta makan.
__ADS_1
“Kamu kenapa nyandra kita. salah kita apa sama kamu.” dua gadis itu murka.
Usman Tersenyum.
“Mbak berdua tidak bersalah.”
“Kalau gitu lepasin kita donk, dan kembalikan handphone kita.” ujar galak Lipa.
“Maaf mbak, saya tidak punya wewenang untuk melepaskan mbak berdua, dan ponsel mbak berdua ada di tangan ketua.”
Lipa dan Alenta menggaruk kepala, mereka tidak tahu apa-apa tapi malah di Sandra.
*********
Epilog
Sudah subuh, Sean belum pulang kerumah, ia dan Sekertaris Ham masih sibuk mencari dua adik itu.
sampai pak Prem menghubungi Ham.
“Halo pak Prem ada apa?"
“Nona tuan Ham!, nona sakit, tolong bawa tuan muda pulang.”
“Nona muda Sakit apa pak Prem?” tanya Ham, membuat pria yang ada di kursi belakang begitu Kawatir.
“Apa? Dinia ku sakit? kenapa mereka tidak memberitahu dengan cepat. cepat Ham kita pulang.”
“Baik tuan.”
__ADS_1