
Pagi itu, dengan terpaksa Sean meninggalkan Dinia di rumah.
Pasalnya beberapa menit lalu, ia menerima panggilan dari kedua adik kesayangannya.
“Kakak, tolong.” suara Lipa yang gemetar menahan tangis menandakan adik kesayangannya itu sedang tidak baik-baik saja.
Ia tak tahu dalam rangka apa para bajingan itu menyekap dua adiknya, Lipa dan Alenta.
Membuatnya murka dan bergegas dari rumah.
Sekarang ia tengah gelisah menuju lokasi, entah kenapa semua terasa hambar. Apa jadinya kalau kedua adiknya kenapa-napa. Mungkin Sean tidak bisa memaafkan dirinya karena sebagai kakak, tak bisa melindungi adiknya.
“Ini semua gara-gara kamu Ham!”
Entah kenapa, menyalahkan semua orang adalah hoby-nya dikala kesal.
“Maafkan saya tuan.”
“Tidak akan!”
Ia bersikap cuek dan hati dinginnya mulai kambuh.
“Sialan,”
Sean kembali mengumpat membuat Ham tidak tahu harus berbuat apa, jadi Ham hanya diam saja.
Brukkk.
Sean menendang kursi Ham yang menyetir di hadapannya, membuat pria itu kaget.
“Bisa-bisanya kamu setenang itu ya, padahal aku sudah sangat gelisah.
Beri solusi dong, Ah!”
Sean mulai kesal lagi, karena Ham diam dan tidak merespon kekesalan, padahal Sean sudah ingin diperhatikan oleh sekertaris itu.
“Apa tuan, kenapa?
Anda mau aku melakukan sesuatu.” Ham mencoba menghibur tuannya.
“Apa! Memangnya kamu bisa melakukan sesuatu. Menjaga adik-adik ku saja kamu tidak mampu.
Atau jangan-jangan kamu sudah tidak peduli lagi tentang keluarga ku.” imbuh Sean di sela kekesalan.
“Tentu saja aku peduli, keluarga tuan adalah keluarga ku juga.” Ham membalas.
Sean hanya membuang wajah hambar, sembari menopang dagu dengan tangan kanan, ia teringat Istrinya yang baru-baru ini selalu bersikap manja.
Ih bulu kuduk ku merinding.
__ADS_1
Gumamnya pelan.
“Anda baik-baik saja kan tuan.” tanya ham cemas.
“Hmmm.”
Suasana kembali hening, ini perjalan paling menggelisahkan bagi Sean.
“Aku tidak tahu harus apa Ham,” Sean kembali bersuara.
“Lipa dan Alenta dalam bahaya, tapi tak bisa ku pungkiri, sekarang aku rindu Nia. Mata tajamnya membidik ku di setiap lamunan, meski hanya bayangan. Tapi wajahnya begitu jelas di ingatan.”
Owalah.
Ham tersenyum kecil.
“Kamu menertawai ku ya.”
“Tidak tuan, saya hanya tidak menyangka. Di situasi segenting ini. Anda masih memikirkan nona.”
“Memangnya tidak boleh, Dinia kan istri ku, Milik ku, Jadi wajar saja kalau aku merindukannya setiap waktu.”
“Tentu saja boleh tuan, anda begitu mencintai nona ya.” gumam Ham pelan.
“Tentu saja. Aku sangat mencintainya.” Sean begitu antusias.
Dasar jomblo.” Sean tersenyum sinis menatap Pria jomblo amatiran di hadapannya.
Ham hanya diam saja, baginya jatuh cinta adalah sesuatu yang mungkin atau tidak akan ia lakukan,
Hmmmm.
********
Di bawah sinar matahari yang terik, sekarang mentari sudah berganti Surya yang menggigit.
Para manusia-manusia penghuni pasar mulai berbondong menyaksikan Sandra yang akan mereka gunakan untuk melawan perusahaan yang akan segera menggusur paksa pasar mereka.
“Tolak gusur.”
“Pasar adalah hidup warga, tolak gusur.”
“Kami warga wilayah pasar menolak adanya penggusuran.”
Antusiasme para warga dalam menghadiri demo semakin riuh, di bawah terik sinar matahari yang menyengat kulit. Mereka begitu bersemangat.
Dari kejauhan, Seorang wanita berkacamata hitam berpakaian tertutup, bahkan tidak ada sedikitpun kulit yang terekspos, kejuali wajah bagian atas, bahkan ia memakai cadar. Wanita itu tengah memperhatikan kerumunan. di dampingi dua pelayan, satu pria bertubuh besar, dan satu wanita bertubuh gempal.
Satu memayungi dan satu memberi minum dan mengusap keringat si wanita.
__ADS_1
Wanita itu membuka kacamata hitamnya, sambil menarik-narik jubah yang ia kenakan.
“Baju ini tidak nyaman. aku mau pake daster aja, pak Prem.” ujar Dinia, yang sedari tadi mengamati keberadaan Lipa dan Alenta yang belum juga nampak.
“Tapi nona, disini panas. Kulit anda akan terbakar kalau hanya memakai daster. lagi pula tuan akan marah kalau nona menampakkan aurat anda, jadi jangan lakukan itu nona.” tolak Prem, untuk memberikan Dinia daster.
“Oh, jadi kamu tidak mau membelikan aku daster?” Dinia bertanya.
Dan Prem mengangguk.
“Baik, Bibi Del. berikan baju yang persis seperti yang aku pakai, dan berikan dia memakainya juga.” ujar Dinia, menatap Prem dengan wajah memerah karena kepanasan.
“Baik nona.” Del langsung menuju mobil, dimana ada beberapa set pakaian yang di khususkan untuk dinia kalau ia pergi keluar rumah.
“Nah pak Prem, silahkan dipakai.” Ujar Delete, kalau soal menjahili kepala pelayan itu, Delete sangat bersemangat.
“Tapi, Non”
Prem bergetar.
“Pak Prem.” Dinia menatap Prem sambil memegangi perutnya.
Ya Tuhan, jangan bilang nona muda ngidam lagi.
Prem bergumam, wajahnya pucat.
Kalau benar Dinia ngidam seperti itu, dia bisa apa.
Setelah memakai baju khas jajirah Arab itu, Prem datang kembali ke samping Dinia.
Dan tiba-tiba, Dinia tersenyum sumringah.
“Gimana pak Prem, kamu suka busana itu.” Ujarnya dengan nada menohok.
Prem hanya mengangguk, karena kalau dia bilang tidak, Dinia akan menjadikan pengakuannya agar mendapat baju daster atau bahkan kaos oblong dan celana pria.
Ia tahu bagaiamana perasaan Dinia saat harus mengenakan busana muslim ini.
Tapi Prem tidak punya pilihan selain menuruti kata tuannya.
“Ingat! Dinia ku tidak boleh dilirik laki-laki manapun, kalau keluar rumah pastikan tidak ada bagian tubuh yang boleh orang lain lihat.
dan kalau di dalam rumah, biarkan Nia memakai baju muslim biasa. Dan jangan biarkan pria manapun menatapnya di rumah, termasuk kamu. Atau kalau tidak, aku akan membuat perhitungan bagi pria yang menatap istri cantik ku.....”
Begitu kalimat Sean dalam pemilihan kostum Istrinya sehari-hari.
Sean yang menginginkan bahkan menyusun dengan detail kostum seperti apa yang harus Istrinya kenakan.
Hmmm.
__ADS_1