
Demi Dinia, demi anak ku yang ada di perutnya.
motto yang di pegang teguh oleh Sean kali ini.
meskipun ia harus kelelahan dengan keinginan sang istri, yang berulangkali meminta Sean dan kakek disisinya. Sean masih sanggup melakukannya, asalkan Dinia tidak menyuruh Sean dan dan kakek berada di dekatnya dalam waktu yang bersamaan.
“Istri ku.” ucap kakek tua. nafasnya tidak karuan, sepertinya dia amat sangat kelelahan–Karena bolak balik mengganti peran.
“Iya kek,” jawab Dinia sok manis, tapi di dalam hati ia cengengesan, Rasakan itu tukang Kibul.
“Kita ke kamar ya, kau harus istirahat.” Ujar kakek tua Sambil mengelus punggung tangan Dinia.
“Tidak mau, kecuali kakek bawa Sein kemari, aku ingin melihat kalian berdua.” Ujar Dinia sambil mengelus wajah keriput itu. di dalam hatinya berkata.
Hoho bagaiamana sekarang? apa kau menyerah.
Dini tersenyum sumringah kala melihat kecemasan di sekitarnya.
Wahh aku bahagia.
batinnya.
Drtttt drtttt.
bersamaan dengan ketegangan itu, gawai Sekertaris Ham berderit, pria itu mengangkat telpon, dan berdalih kalau itu adalah panggilan tuan mudanya.
__ADS_1
“Sebentar, Tuan muda sedang menghubungi ku.” lalu mengangkat sambungan telpon.
“Halo tuan muda.”
“Apa tuan , anda terkenal hujan, baiklah saya akan menjemput anda.” ujar Ham bersandiwara.
“Ah nona maaf sekali ya, tuan muda sedang di luar sekarang saya Akan jemput nya dulu.” Ham melenggang pergi.
“Tapi sejak kapan dia pergi? dan kapan dia pergi tanpa Sekertaris Ham di sisinya.” protes Dinia
“Nona tidak tahu ya, tuan muda kan sering pergi sendiri kalau malam begini. iya kan bibi Del.” tambah Prem.
“Itu benar.” Delete ikut membenarkan.
Wahhhh wahh, kalian sungguh sangat pandai bersandiwara?
Wahai penduduk novelinta, berikan tepuk tangan yang meriah untuk Sean dan pelayanan, berikan penghargaan istimewa atas kerja keras dan bakat mereka.
Dinia masih tidak bisa terima, ia terus berfikir siapa yang di telpon oleh Sekertaris Ham itu.
***
Di lobi Mall mewah, Menty dan Nosi sedang terjebak hujan lebat, sialnya kedua perempuan itu tidak membawa mobil seperti biasanya, ini semua ulah Nosi, yang sok-sokan ingin terlihat sederhana dengan menaiki Bajai menuju Mall.
“Dasar Sekertaris sialan, kenapa pula memanggil ku Tuan, dia pikir aku laki-laki apa.” umpat Nosi yang mencoba menghubungi Ham tadi.
__ADS_1
“Diamlah Nosi, kau tidak pantas mengumpat seperti itu, ini semua memang salahmu kan, ngapain juga keluar harus pakai bajai. maksud dan tujuanmu apa?” ujar Menty teramat kesal dengan putrinya.
“Mama, kita harus belajar sederhana seperti kakak ipar, bukannya mama mau mengubah diri dan membuka diri mama untuk Kaka ipar, ya kita harus belajar sederhana seperti kakak ipar.” ujar Nosi.
”Ya ngga gini juga kali, sampai naik bajai, Jantung mama gemetar pas turun dari bajai tadi, lagian kamu aneh-aneh sih, kan masih ada Greb kenapa harus bajai.” protes Menty tidak terima.
“Ih mama memang ngga ngerti definisi sederhana itu seperti apa.” Cibir Nosi lalu memainkan kembali ponselnya.
Selang beberapa menit lalu, Ham datang dengan mobil mewahnya.
“Nona dan nyonya sudah menunggu lama?”
“Ternyata datang juga ya kamu kak Ham, Nosi pikir kak Ham lupa ingatan, sampai manggil Nosi tuan.” ujar Nosi galak.
“Maaf nona.” Ham.
“Sudahlah, ayo segera berangkat, mama capek pengen bobok.” Ujar Menty, langsung masung kedalam mobil yang terparkir di pintu masuk itu.
*****
Kali ini pendek dulu ya. lagi sibuk soalnya ngga ada waktu luang.
Sorry🥰.
to be continued.....
__ADS_1