Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Lukisan


__ADS_3

Dinia Basori Wijaya, Wanita yang membuat Sean menggila, meski pria itu tidak tahu perasaannya adalah sebuah cinta, tapi Ia sadar bahwa ia menyukai Dinia.


Di ruangannya, Dengan pemandangan kota yang terlihat jelas dari jendela, Sean menutup matanya, bayangan Dinia merasuki pikiran hingga akar-akar otaknya.


“Dia menggodaku.” ujarnya sembari tersenyum gatal. mengatakan Wanita itu menggodanya, padahal sang wanita sedang asik di lukis oleh cucu bungsunya.


“Apa hasilnya bagus.” Ujar Dinia bicara tanpa mengubah gerak dan bentuk fosenya, hanya bibirnya yang komat-kamit berbicara.


“Yaa, Tapi aku butuh sentuhan terakhir untuk perona kulitnya, aku lupa meletakkannya dimana, dan tidak menemukannya di kotak cat ku. aku akan mencarinya sebentar, tolong jangan merubah pose ya.” Ujar Aina lalu berlari menuju rumah.


“Yahh,, sampai kapan kami harus begini terus Aina, sudah hampir dua setengah jam aku dan Kak Dinia berdiri.” protes Lipa, tidak merubah posenya hanya bibirnya saja yang komat-kamit bicara.


“Sudahlah. tidak apa-apa, Sebentar lagi ini pasti akan selesai.” ujar Dinia, ia sangat tidak sabar ingin melihat hasil lukisan itu.


“Ya bagi kakak ipar ini tidak akan mengesalkan, Karna kakak ipar hanya berdiri dengan pose yang biasa, sedangkan aku hanya berdiri satu kaki, terjinjit pula, sambil menganga lagi.” ujar Lipa mengeluh.


Ctikkk.


Dinia menyentil bibir merah muda yang sedikit berisi itu.


“Sekali lagi kau memanggilku kakak ipar, aku pastikan bibirmu berubah bentuk tidak karuan.” ujar Dinia.


Lipa bersedekap dada lalu menyentuh bibirnya yang teramat manja.


“Aduh kakak, jangan kezam begitu donk, aku kan hanya khilaf.” Ujar Lipa membela dirinya.


“Hmm, awas saja kalau kau mengatakannya lagi.” balas Dinia. lalu tersenyum indah seperti yang ia lakukan lebih dari dua jam itu.


“Kakak, Kita istirahat dulu yok, Kaki ku pegal banget nih.” Ujar Lipa lalu menurunkan kakinya. Sera memijit-mijit betis itu.


“Eh eh, Jangan, nanti hasilnya ngga sama lho.” Ujar Dinia.


“Ayo lakukan lagi seperti yang tadi. pokoknya jangan berubah sebelum Aina menyelesaikan lukisan.


“Baiklah kak.” Lipa tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut saja.


Selang beberapa waktu, Aina pun datang, membawa cat perona pada kulit.


menyelesaikan lukisan yang teramat indah itu.


Di aula utama. Prem dan beberapa pelayan lainnya memasang lukisan itu di dingding, setelah sang lukisan bertengger di dingding, Semua mata takjub melihatnya.


“Wah kakak ipar keren, gayanya saat menyuapi ku sangat estetik.” ujar Lipa berdecak kagum , tapi malah dapat satu sundulan dari Dinia karena telah menyebutnya kakak ipar.


sedangkan dua orang wanita yang penasaran di ruang sana Mulai mendekat, memecah keramaian para pelayan yang berdecak kagum hanya Karna sebuah lukisan.

__ADS_1


“Lukisannya bagus pasti karena putriku Lipa, kalau tidak ada Dinia di dalamnya pasti bakalan lebih bagus lagi hasilnya.” Menty mengomentari lukisan itu.


dan semua orang melihat ke pose wanita yang berada di samping Dinia, Bibir menganga yang terlihat menyakitkan mata, kaki terjinjit yang membuat pelihatnya merasa tersiksa, benar-benar tidak secantik Dinia yang terlihat natural.


para pelayan itu tersenyum di dalam hati mereka masing-masing.


“Nyonya iri.”


“Iya nyonya iri.”


begitu tanggapan para pelayan itu.


Dinia mulai bertepuk tangan, memecah kerumunan dengan suaranya yang keras seakan sedang memakai toa.


“Sudah sudah, kembalilah ke tempat kalian bekerja, jangan membuat kerumunan ya.” ujarnya.


“Aaaa aku ingin minum jus, Bibi Del tolong berikan ini kepada Chef Ihh Norak, Aku ingin minum jus Strawberry mix semangka.” Ujar Dinia.


“Baik Nona.”


“Terimakasih bi.”


Dinia juga melenggang pergi, tapi tangannya di tarik oleh Lipa.


“Langkah kan kaki mu kalau ingin ikut dengan ku.” ujar Dinia, Dengan semangatnya Lupa menggiring Dinia melewati tangga.


“Kenapa ngga dari lift saja.” tanya Dinia.


“Ngga ah, dari tangga saja, agar lama jalan dengan kakak ipar.” ujar Lipa, Sepertinya gadis itu terobsesi dengan Dinia.


Plakkk.


Seperti biasa, Dinia melayangkan satu gebukan untuk gadis itu, tapi bukannya marah Lipa hanya tersenyum bahagia. baginya sebuah kehormatan bisa di sentuh oleh Dinia.


“Mah lihat Kak Lipa. sepertinya dia sudah mulai sinting. lama-lama tinggal di rumah ini bisa-bisa kak lipa mengidap penyakit gangguan jiwa.” ujar Nosi.


“Hus, jaga ucapan mu Nosi. jangan pikirkna itu lagi. sekarang kita harus mencari cara bagaimana pun caranya kita juga harus di lukis dengan indah seperti ini, Dimana adik mu Aina.”


________________________________________________


Dinia, Lipa, dan Aina berkumpul di kamar Dinia. dua gadis cantik dan manis itu teramat histeris bisa memegang barang-barang Dinia.


“Kakak, apa ini kakek mu.” Tanya Lipa setelah berhasil merebut album foto keluarga Dinia yang ia simpan di lemari nakas.


“Iya, Dia keluargaku satu-satunya.” Jawab dunia.

__ADS_1


“Dia sangat mencintai ku sepenuh hatinya.”


“Ouhhh kakak pasti rindu ya.” Aina mengelus pundak Dinia.


“Singkirkan tanganmu Aina, Aku merinding ketika ada orang mengelus-elus tubuh ku.” Sialan, itu mengingatkanku pada pria Durjana itu.


“Oh maaf Kak.” balas Aina.


Sebuah ketukan pintu, bibi Del datang membawa jus milik ketiga wanita itu.


“Nona, saya datang membawa jusnya.”


“Masuklah bi.” ujar Dini.


Delete pun langsung masuk membawa segelas jus milik Dinia, di lengkapi potongan buah semangka di dalam bejana.


“Lho kok cuma satu Bi, jus untuk Lipa dan Aina mana?” Tanya Dinia heran.


“Oh itu ya non, saya lupa.” Delete memainkan matanya kepada Lipa dan Aina. agar segera meninggalkan kamar Dinia.


“Duh bibi Del, cepat ambil dan antar kemari.” perintah Dinia.


“Tidak perlu kak, kami yang akan ambil sendiri iya kan Aina.” ujar Lipa.


“Benar kak, kami ambil sekarang ya.” ketiga orang itu pun melenggang pergi meninggalkan Dinia.


Hmm, Dinia mengangkat bahunya seolah cuek saja. tanpa ia sadari seorang pria sudah masuk kedalam kamarnya.


“Dear.” ujar Sean.


“Hei apa yang kau lakukan.” Ujar Dinia. ia akan meneguk jusnya, tapi tidak jadi karena Sean datang mengacaukan hatinya.


“Keluar sekarang juga.” Dinia menyeret Sean keluar pintu, tapi pria itu malah menarik Dinia kepelukannya hingga jus itu tumpah mengenai pakaian mereka.


“Apa yang kau lakukan.” gusar Dinia.


“Yah, nenek jusnya jadi tumpah. sayang sekali ya.” ujar Sean menyeringai sambil membuka kancing bajunya.


“Jangan macam-macam, hentikan itu.” Dinia panik, ia mengambil selimut lalu menutupi tubuh suaminya.


“Pergi ke kamarmu untuk mengganti baju. Sudah gila ya, ingin menggantinya di sini.” bentak Dinia galak.


“Nenek, cepat buka baju mu, kau tidak takut masuk angin apa?” Sean meraih Dinia kepelukannya, lalu merobek gaun itu dengan paksa.


“Lepaskan aku sialan.”

__ADS_1


__ADS_2