Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Dian yang Tak Pernah Padam


__ADS_3

Sean menatap dengan lemah mayst Rika, teman masa kecilnya itu benar benar sudah tiada. Dimas dan Vikal segera menuju tempat di mana mereka berada setelagh Gilang menghubunginya. Mayat Rika di masukkan ke dalam kantong jenasah lalu di bawah ke Rumah Sakit terdekat. Di dalam ambulans Sean duduk di samping mayat Rika tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia hanya menundukkan kepala sambil memegang tangan tubuh yang sudah tidak ada energi kehidupan di dalamnya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Sean termenung di dalam lorong Rumah Sakit sendirian. Ia duduk sambil menyandarkan kepalanya di dinding yang ada di belakangnya, jenasah Rika di masukkan ke dalam kamar mayat menunggu keluarana pulang ke Indonesia.


***


" Sean" panggil seorang gadis berambut pirang.


Sean menoleh, ia mendapati Rika yang masih berpakaian sekolah berdiri di pintu rumahnya.


" Kau datang?" tanya Sean basa basi.


Rika mengangguk tersenyum sambil mendekat ke arah Sean. Pada saat itu Rika masih kelas satu SMP sedangkan Sean sudah kelas tiga SMP.


" Apa kau tidak les hari ini?" tanyanya lagi.


" Lesku di mulai jam tiga, jamnya di undur hari ini" jawab Rika.


" Aku membawakan obat untukmu ku dengar dari ayahmu kalau kau sakit. Jadi aku meluangkan waktuku untuk menengokmu" sambungnya sambil menyodorkan setablet obat pada Sean.


" Aku tidak membutuhkannya. Aku sudah sembuh" tolak Sean.


" Secepat itu"


Sean mengangguk.


" Kau ingin makan apa, akan ku masakkan tawar Rika lagi.

__ADS_1


" Tidak perlu Rika, kau istirahatlah kau sendiri pasti capek" ujar Sean.


Rika diam, ia sangat sedih Sean menolak keinginan baiknya. Bukan tanpa alasan Sean bersikap demikian padanya itu karena Sean tidak seperti dulu lagi, pria itu sudah banyak berubah.


" Kenapa kau selalu begini Sean apa karena gadis itu?" tanya Rika menundukkan kepalanya.


" Tidak Rika, aku hanya merasa aneh kalau kau mencintaiku. Aku hanya menganggapmu saudara tidak lebih dari itu, jadi jangan memiliki perasaan yang lebih dari itu" jawab Sean jujur.


" Hanya" Rika sakit hati mendengarnya. Tanpa Sean sadari air mata gadis itu sudah keluar.


" Tapi kekasihmu itu bukan orang baik" ucap Rika pelan.


" Jangan bicara buruk tentang Vita. Vita tidaklah eea karena perasaanmu padaku tapi Vita adalah gadis terbaik buatku" kata Sean.


Rika melirik Sean sebuah senyum bahagia muncul di wajah pria itu saat membicarakan tentang kekasihnya.


" Kau jahat Sean, kita sudah bersama selama sepuluh tahun tapi kau tidak pernah mengerti perasaanku" Rika sudah tidak tahan lagi, ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya menangis di samping Sean.


Kepala Sean sakit, apalagi yang harus ia katakan pada Rika agar gadis ini mengerti. Berulang kali ia memperingatkan Rika, kata kata yang seperti apa lagi yang harus ia keluarkan.


Sean tidak tahan melihat Rika menangis, ia tidak tahu mendiamkan perempuan ini. Karena Sean tidak tahu harus melakukan apa akhirnya ia meninggalkan Rika sendirian di ruang tamu lagi dan lagi Rika semakin kecewa.


Keesokan harinya.


Rika menemui Vita. Ia menyuruh gadis itu untuk bertemu di sebuah Cafe.


" Hentikan ini Vita. Sean terlalu baik, kau tidak pantas berada di sampingnya" ujar Rika tanpa basa basi.

__ADS_1


" Kenapa aku tidak pantas bersamanya?" balas Vita sinis.


" Aku tahu sifatmu, kau hanyalah seorang monster yang bertopengkan malaikat" kata Rika tak mau kalah.


" Hah. Kau hanya cemburu padaku gadis kecil, kau sangat ingin memiliki Sean kan itulah sebabnya kau berkata macam macam tentangku. Iya kan" tantang Vita.


" Uhm, aku memang cemburu. Walaupun Sean selalu mengecewakanku, tapi aku akan menolongnya dari iblis sepertimu"


" Jangan terlalu percaya diri, kau tidak akan bisa melakukannya kau hanyalah seekor kecoa di mataku. Tapi ingat satu hal aku benar benar mencintai Sean terlepas dari dendam keluargaku" kata Vita lalu meninggalkan Rika di tempat itu.


Rika menatap kepergian gadis itu, dadanya bergejolak hebat menahan amarah. Ia sangat ingin menonjok wajah gadis rubah itu.


" Dia sangat pandai berakting" gumamnya seorang diri.


" Tidak mungkin, aku langsun mengatakan pada Sean Vita yang sebenarnya bisa bisa pria itu semakin membenciku. Apa yang harus ku lakukan" Rika menggaruk kepalanya mencari sebuah rencana.


Tapi dua puluh menit berpikir dengan keras, gadis itu sama sekali tidak menemukannya. Akhirnya dia keluar dari sana.


Namun ia tidak langsun pulang kerumahnya, malah ia pergi ke tepi pantai sendiriran. Suasana pantai saat ini sangat ramai mengingat hari ini malam minggu, malam yang di sakralkan bagi muda mudi.


Beberapa saat berjalan sendirian tanpa tujuan, Rika melihat Sean dan Vita di sana berlari lari tertawa seperti anak kecil berebut maianan. Sean sangat bahagia, Rika bisa melihatnya. Ia sudah sepuluh tahun bersama dengan Sean bukan waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain. Rika tahu betul bermacam macam perasaan Sean mulai dari senang, kecewa, takut, sedih walau memasang wajah datar sekalipun.


Dan malam ini, ia bisa melihat Sean yang sangat bahagia. Itu bukanlah kepura puraan tapi ekspresi yang spontan ia keluarkan karena hatinya sangat bahagia, tanpa ia sadari pipinya sudah basah karena air mata. Rika memegang dadanya, dadanya sesak. Jadi begini rasanya sakit yang sesungguhnya. Berkali kali ia di kecewakan oleh Sean tapi hari ini ia tidak bisa menahannya lagi terlanjur ia mencintai pria itu, karena tidak mau berlarut larut dalam kesedihan malam itu juga ia langsun menelepon neneknya di Belanda. Ia akan pergi jauh dari Sean.


Satu tahun di Belanda, ia mendengar kabar kalau hubungan Sean dan Vita sudah berakhir. Bukan tanpa alasan, Sean sudah mengetahui Vita yang sebenarnya. Rika senang mendengarnya tapi ia tidak ingin menemui Sean lagi, ia hanya berdoa agar pria itu mendapatkan pasangan yang lebih baik.


Sampai pada suatu hari ia memeriksa semua pesan yang di kirim oleh Sean. Sejak kedatangannya ke negara ayahnya ia tidak pernah mau mengangkat telepon atau membaca pesan dari Sean, Rika ingin melupakan pria itu. Tapi hari ini entah kenapa hatinya tergerak untuk membuka pesan pesan Sean, ia membacanya satu per satu. Dalam satu pesan ada yang berbunyi kalau Sean sangat menantikan kepulangannya ke Indonesia, ia sangat menyesal tidak mendengarkan perkataan Rika dahulu. Jangan sampai pertemanan mereka selama bertahun tahun hancur hanya karena seseorang yang tidak berguna.

__ADS_1


Rika tersentuh mendengarnya akhirnya ia kembali ke Indonesia tepat saat ia akan memasuki jenjang SMA. Rika berhasil masuk ke sekolah yang sama dengan Sean bukan untuk mengejar cinta pria itu lagi tapi karena ingin tetap berada di samping Sean sebagai seorang pelindung.


__ADS_2