
Jasmine duduk menunduk. Ia sama seperti Yoona sama sama memperhatikan gelombang laut yang ada di bawah, seluruh badannya basah. Ia menggigil kedinginan.
Rambutnya yang terawat kini terlihat kusut. Air hujan beserta air matanya jatuh membasahi tubuhnya. Kini ia tidak bisa membedakan mana air mata dan mana air hujan. Lambat laun ia mulai mengerti mengapa ia bisa ada di sini.
"Jangan jangan aku di culik oleh pembunuh?" pikirnya.
Jasmine melirik yoona, gadis di sampingnya itu hanya menatap laut dengan tatapan kosong.
Menit berganti menit, hujan semakin deras.
**
Dimas bersembunyi di balik ilalang saat tembakan di arahkan padanya, ia dapat membaca gerakan Irabella rupanya gadis itu tidaklah mahir memakai pistol. Irabella memang handal jika menembak jarak dekat tapi kemampuannya di bawah rata rata jika sasarannya jauh darinya.
Dimas di untungkan di dalam hal ini mengingat ia dan Shanaya bisa menembak cepat dan tepat.
Dimas mengintip dari balik rerumputan. Sepi, ia tidak melihat Shanaya, Sean dan Vita tapi ia yakin kalau ketiga rekannya itu bersembunyi.
Ia hanya melihat Irabella sedang menengok sana sini.
" Di mana kalian. Hah, apa kalian takut. Setelah kalian berani masuk ke sarangku kini kalian ketakutan" teriak Bella.
Dimas tidak menggubris, ia hanya bersembunyi di tempatnya.
Bella terus melangkah ke depan sambil memegang revolvernya kuat kuat.
" Bella" tiba tiba Vita berdiri di sana.
Dimas menepuk jidat.
" Apa yang di lakukan gadis itu?" pikirnya.
Irabella tersenyum sinis.
" Mengapa?" tanyanya.
" Aku hanya kaget kita bersaudara. Aku tidak tahu kalau selama ini aku satu sekolah dengan saudaraku" kata Vita.
__ADS_1
" Kau memang sombong tidak mengenalku padahal selama ini aku selalu bangga ada di sampingmu" ucap Irabella.
Mendengar hal itu Dimas tersentak kaget.
" Apa?" Dimas tidak tuli mendengar kata kata Irabella. Suara itu adalah suara yang menggambarkan kerinduan yang mendalam , kerinduan seorang adik kepada kakaknya yang di pisahkan kecil. Ia tidak percaya Irabella bisa mengeluarkan kesedihannya.
" Tidak mungkin"
" Maafkan aku karena selama ini tidak mengenalmu tapi seharusnya kau mengenalkan diri padaku" ujar Vita.
" Tidak ada gunanya" balas Irabella.
" Aku datang ke sini untuk bertemu denganmu"
" Tidak. Kakak bohong, kakak ada di pihak mereka" kata Irabella.
" Hentikan ini Bella. Kau hanya di jadikan boneka oleh ayah, kau tidak boleh hidup sebagai seorang pembunuh kau harus hidup layaknya gadis gadis remaja pada umumnya"
" Aku tidak sama sepertimu. Kau punya ibu yang menyayangimu sedangkan aku tidak memilikinya" ucap Irabella.
" Aku akan bersyukur? aku beruntung??. Hahahaahahahaha ibuku tidaklah lebih dari manusia sampah. Ibu hanya hidup di dikte oleh ayah, apapun yang di katakan ayah pasti di turuti oleh ibu" Irabella tertawa.
" Tapi setidaknya kau menghormati ibumu" kata Vita.
" Tidak, tidak sudi sampai mati pun aku tidak akan menghormatinya. Aku ingin memiliki ibu seperti Bunda Merry bukan wanita yang selalu hidup di dalam aturan seorang pria" teriak Bella. Suaranya menggambarkan kebencian yang mendalam.
" Lalu sekarang apa bedanya kau dengan ibu, jika kau masih membunuh itu artinya kau masih hidup di aturan ayah. Jika kau membenci ibumu karena selalu menuruti kehendak ayah, apa kau tidak melihat dirimu. Kenapa kau membenci ibumu jika kau juga sama dengannya, sama sama hidup di bawah aturan ayah" balas Vita. Air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya.
" Kau ingin tahu mengapa? karena aku bertahun tahun di tempa menjadi seorang pembunuh. Andaikan, andaikan dari dulu ibu membawaku jauh dari ayah aku tidak akan jadi seperti ini. Aku tidak bisa mengubah diriku Vita, aku mendapatkan kesenanganku jika aku menghilangkan nyawa orang lain"
" Ini semua salah ibu, ini semua salah ibu karena ibu tidak membawaku jauh dari ayah" kata Irabella matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
" Aku akan membantumu, kita akan menghilangkan keinginanmu itu" ujar Vita.
" Tidak, tidak ada gunanya. Pergi kau dari sini, aku melepaskanmu karena kau saudariku" teriak Irabella. Ia gadis egois, Ia tidak ingin mendengarkan kata kata Vita lagi, keinginan yang besar meluap luap dari dalam dirinya yaitu keinginan untuk menghilangkan nyawa orang lain.
Revolver di arahkan pada Shanaya. Sejak tadi ia sudah melihat posisi detektif itu, ia hanya mengulur waktu karena Vita menghadangnya.
__ADS_1
Door. Shanaya menjerit kesakitan saat peluru mengenai tangannya di waktu yang bersamaan Vita melompat ke arah Irabella. Sekuat tenaga Vita berusaha mengunci pergerakan Irabella. Dimas dan Sean mendekat, mereka mengikat gadis itu. Kini Irabella berhasik di bekuk.
" Sialan" Shanaya memegang tangan kanannya. Darah segar mengucur dari lengannya.
" Tahan sedikit" Dimas merobek bajunya lalu diikatkannya pada lengan Shanaya.
" Keparat gadis itu, akan ku beri pelajaran" ujarnya emosi.
" Tahan emosimu. Kali ini kita beruntung, tembakannya meleset karena memang ia tidak handal dalam menembak jarak jauh. Andaikan ia mahir melakukannya pastilah kau sudah mati" ujar Dimas.
Irabella duduk di atas rumput, dua tangannya terikat ke belakang. Ia hanya menatap mereka diam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Sean mendekat ke arah gadis itu kemudian duduk di sampingnya.
" Santy" panggilnya.
Mendengar nama itu, Irabella membuang muka.
" Mengapa kau tidak menikmati saja hidup seperti gadis gadis di luar sana. Bersekolah, mempunyai teman, berbelanja, nongkrong dan sebagainya. Mengapa kau harus berada di pulau terpencil ini, tidak ada gunanya Santy" kata Sean.
Irabella tidak menjawab, ia hanya diam.
" Santy, mending kita kembali ke sekolah. Belajar seperti dulu, akan ku pastikan tidak ada yang mengejekmu lagi"
Masih tidak ada jawaban dari Irabella.
" Mengapa kau diam saja, setelah sekian lama kita tidak bertemu. Begini caramu menyambut teman masa kecilmu??" ujar Sean.
Irabella diam, ia melirik ke arah pria itu. Apa Sean sudah mengingatnya, pikirnya.
" Aku ingat semuanya, semuanya. Maaf karena sudah melupakanmu, mimpi itu benar seharusnya kau, bukan Vita" tutur Sean.
Irabella menatap pria itu dengan tatapan yang intens. Apa dia harus bangga sekarang karena Sean sudah mengingatnya tapi sayangnya Irabella sudah tak mempunyai perasaan macam itu. Selama bertahun tahun ia menghilangkan nyawa orang lain, empati dan simpati sudah tidak ada di dalam dirinya. Yang dia tahu ia memang mencintai Sean tapi tahunya hanya kata cinta saja namun perasaan cinta yang sesungguhnya ia tidak merasakannya.
Irabella menatap langit yang menghitam di sana. Di laut sedang hujan sebentar lagi hujan akan membasahi pulau itu.
" Sebelum hujan aku ingin mendengar suaramu jangan sampai di halangi oleh hujan" pinta Sean. Pria itu juga sadar kalau sebentar lagi turun hujan.
__ADS_1