Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Hujan Badai


__ADS_3

angin bertiup dengan kencang di sertai dengan bulir bulir hujan jatuh ke bumi. Para penduduk kota pada saat ini berdiam diri di dalam rumah sebab di luar keadaannya sedang kacau, di SMA Rajawali sendiri Jasmine meringkuk di bawah selimut,kedinginan datang mendera. Bunga teman sekamarnya sudah tidur dari tadi, entah kenapa sahabatnya itu sudah tertidur cepat tapi Jasmine sangat yakin kalau teman sekamarnya itu sangat lelah entah apa yang membuatnya capek hari ini. Tidurnya lelap di sertai wajahnya yang sayu.


Jasmine membuka gorden jendela, di luar keadaannya mendebarkan hujan tidak deras tapi angin yang bertiup benar benar kuat baru beberapa menit, ranting pohon yang sudah berusia puluhan tahun yang ada di taman sudah beberapa yang terlepas dari induknya.


" Hujannya deras sekali, seingatku terakhir kali badai ini terjadi sejak aku masih berusia enam tahun" gumam Jasmine.


Gadis itu kembali menutup gorden jendela, ia kembali menarik selimutnya lalu menutupi semua tubuhnya. Ia ingin tidur sore ini tapi bunyi deru hujan di sertai angin tidak mengizinkannya untuk berselam ke alam mimpi.


" Padahal hujan bisa membuatku tidur dengan nyenyak, tapi kali ini berbeda" Jasmine membolak balikkan posisi tidurnya berharap ia bisa menutup matanya.


Di ruangan osis, Sean dan Gilang baru menyelesaikan tugas mata pelajaran. Ada empat pekerjaan rumah yang harus di kumpul besok, membuat kedua pria itu masih berada di sana sampai jam lima sore.


" Apa Nanda sudah selesai dengan pr nya?" tanya Gilang saat tugasnya sudah selesai ia kerjakan.


" Entahlah, tapi aku yakin kalau ia pasti sudah selesai mengingat anak itu termasuk dalam jajaran anak yang rajin" jawab Sean.


" Rupanya ia tidak mau berbagi dengan kita yah" tutur Gilang.


Sean mengangkat pundaknya, sejak berakhirnya jam mata pelajaran tadi Nanda sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.


" Pulang"


" Apa kau tuli, di luar badai"


" Bodoh amat, aku ingin segera berpelukan dengan guling kesayanganku" ujar Sean mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan Gilang.


" Hah, dingin sekali" kata Gilang saat Sean membuka pintu, rambutnya berdiri di terpa angin yang datang dari pintu.


Sean melangkah pelan melewati beberapa ruang kelas yang sudah tertutup dari tadi, daun daun yang berada di halaman tertiup mengenai wajahnya serta hembusan angin membawa air hujan membasahi seragam sekolahnya tapi pria itu seolah tidak peduli. Ia membiarkan kemarahan alam pada sore ini mengenai tubuhnya.


Dari ujung sana, dua orang gadis yang bergandengan tangan sedang berlari lari kecil. Sean tahu kalau dari tadi mereka hujan hujanan melihat seragam mereka sudah sangat basah sampai apa yang tersembunyi di dalamnya menonjol ke luar.


" Mereka pulang dari mana?" pikir Sean." Mereka masih memakai seragam sekolah"


Sean kembali dalam mode tidak peduli tapi tubuhnya mulai bergetar karena menahan dingin. Semburat merah mulai muncul di ujung hidungnya.


" Hatchi"

__ADS_1


" Hatchi"


" Hatchi"


" Sial, rupanya aku ingin mandi air hangat" katanya lalu berlari ke arah asrama putra.


Setibanya di dalam kamar, pria itu segera meraih handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air hangat otomatis.


" Ah, benar benar segar. Mudah mudahan aku tidak sakit" gumamnya seorang diri. Tubuhnya benar benar lelah hari ini jadi mudah saja penyakit datang menghampiri.


Di dalam ruangan osis, Gilang masih duduk dengan tenang di atas kursi. Anggota osis yang satu ini melipat tangannya di dada sambil menutup matanya tak lupa pula ia menyanyi nyanyi kecil dengan lagu kesayangannya berharap ia tidak bosan menunggu hujan dan angin reda.


Walaupun mata dan mulutnya tegang sedari tadi, tapi telinganya sangat jeli mendengarkan apa yang sedang terjadi di luar. Beberapa menit kemudian, indra pendengarannya mendengar suara langkah kaki. Pria itu berhenti dari aktivitasnya, ia semakin mempertajam telinganya mencoba menerka apa yang di dengarnya tidak salah.


" Uhm, ada orang di luar tapi sepertinya ia hanya melewati ruangan ini" katanya saat suara langkah kaki itu menjauh. Tapi entah kenapa ada sebuah ketakutan yang muncul di dalam diri pria itu, keringat jatuh dari pelipisnya.


" Sial, kenapa aku berkeringat begini dan kenapa kakiku gemetaran" umpatnya.


Gilang berhati hati, ia dalam mode berjaga jaga sepertinya ada hantu yang mengintainya.


Tidak ada orang di sekitarnya, tapi ia tersenyum sepertinya ia sangat bangga datang ke tempat ini. Wanita itu berjalan pelan ke arah asrama putri.


" Halo, ini sudah sore dan lagi pula hujan deras. Kenapa kau berkeliaran di luar nanti kau kemasukan angin?" tegurnya kepada seseorang yang duduk di tangga menuju lantai dua.


" Aku menunggu seseorang" ujarnya.


" Pacarmu yah" tebak wanita itu. Seukir senyum keluar dari wajahnya yang cantik.


" Iya" jawabnya.


" Tapi ini sudah hampir malam, kembalilah ke asrama. Pacarannya besok saja, lagipula pacarmu tidak akan tega kalau ia melihatmu sakit karena keluar di waktu yang tidak tepat" jelas wanita itu.


Orang itu sewot, kenapa wanita ini menceramahinya. Ia barusan melihat wanita berambut pendek bob ini.


" Orang baru?" tanyanya.


" Iya. Kita belum berkenalan namaku Shanaya, aku adalah penjaga asrama putri yang baru" ucapnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


" Ooohh" orang itu ber oh singkat." Baiklah aku akan kembali terimah kasih atas sarannya.


Wanita yang bernama Shanaya itu tersenyum simpul melihat kepergian orang yang barusan berbicara padanya.


Shanaya melangkah pergi menuju gedung asrama putri.


Sesampainya di sana.


" Selamat sore menjelang malam Tante. Setelah sekian lama kita baru bertemu lagi" sapanya.


Bu' Vany menoleh ke asal suara.


" Kau datang hari ini, kenapa sesore ini. Seharusnya besok pagi waktu yang baik untuk kau datang ke sini" tutur bu' Vany.


" Karena aku sangat senang mendapatkan pekerjaan" balasnya.


" Hahaha, apa kau yakin. Saat ini kondisi sekolah sedang sangat tidak baik, ketakutan menghantui setiap penghuni sekolah" cecar bu' Vany.


" Itu tidak masalah, asalkan aku bisa mendapatkan pekerjaan" katanya, senyumnya tidak lepas dari wajahnya.


" Untuk apa kau bekerja di situasi saat ini, bukankah kau anak orang kaya. Kau bisa duduk duduk santai menikmati harta orang tuamu"


" Tapi sayangnya nuraniku tidak ingin seperti yang Tante katakan. Aku tertantang datang ke tempat ini"


" Kau ini tidak berubah dari dulu yah. Kau memang keras kepala"


Shanaya tertawa mendengar celoteh penjaga asrama putri itu.


" Kau ingin tinggal malam ini, ayolah ke kamarku" ajak bu' Vany.


Shanaya menggeleng.


" Aku langsun pulang saja, aku hanya datang karena merasa penasaran dengan tempat ini" jawabnya, lalu berbalik pergi.


" Hah"


Bu' Vany menggeleng berulang kali atas kelakuan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2