Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Seharusnya Aku.


__ADS_3

Kini Dimas yang menganga melihat kelakuan William.


" Jadi begitu, ia bukan manusia lagi"


William menatap Dimas dengan senyuman, senyuman yang mengerikan.


Dimas tidak gentar karena inilah tujuannya datang kemari menangkap sang pembunuh. Ia harus bertempur sampai titik darah penghabisan, nyawa rekan rekannya ada padanya. Jika ia gagal menangkap orang ini maka nyawa rekan rekannya yang jadi taruhan. Dimas sudah tidak peduli jika ia harus membunuh orang ini, ia tidak peduli apa ia akan di kena aturan atau tidak. Pilihannya hanya dua, ia yang mati atau orang ini.


Dimas melirik Sean, pria itu sudah tidak berdaya. Sean terkulai lemah akibat tendangan Bella, darah mengucur dari kepalanya tapi satu hal yang pasti kalau Sean masih hidup.


Apa hati Sean selemah itu??


Ia tidak bisa mengeluarkan perlawanan apapun saat teman masa kecilnya itu menghujaninya dengan tendangan. Bella yang tak tahu rasa kasihan menendangnya berkali kali sedangkan ia, ia hanya bisa menerimanya begitu saja. Apa kalau Bella menaruh golok di lehernya, apa Sean juga bisa menerimanya?? Dimas geleng geleng kepala melihat cinta anak milenial, sungguh ironis dan tidak masuk akal.


Mata Dimas bergantian memandang William yang mendekat ke arahnya, pria di depannya ini sudah terlihat layaknya raja Singa yang mendapatkan mangsanya.


" Aku heran, setiap orang yang melihatku pasti lari tapi kau hanya berdiam diri di tempatmu. Kau ini seorang pemberani atau sudah bosan hidup, sebelum kau mati boleh aku tahu namamu?" ujar William.


" Suatu kehormatan boleh bertemu dan berbicara kepada seorang pembunuh kelas kakap seperti anda Tuan. Namaku Dimas panggil saja Dimas, aku seorang polisi"


Mendengar hal itu, William tertawa terbahak bahak.


" Ooohhh rupanya polisi yah. Apa yang satunya juga itu polisi?? asal kalian tahu berapa tahun yang lalu ada sekelompok detektif dan polisi datang ke sini tapi bukan aku yang di tangkap tapi merekalah yang terbunuh. Apa kau juga ingin sama seperti mereka??"


" Tidak ada yang ingin mati cuma cuma Tuan, setidaknya aku harus melihat anda di penjara baru aku mati" balas Dimas.


" Hahahahah hahahahah hahahahaha hahahaha" William lagi lagi tertawa. Sungguh senang hati mendapatkan banyak mangsa.

__ADS_1


Dimas memegang erat pistolnya yang masih ada di saku baju, ia memperhatikan gerak gerik pria itu.


William bernyanyi nyanyi kecil di sana malahan ia menggoyang goyangkan pinggulnya tanda bahagia.


" Satu tembakan saja, aku bisa membunuhnya. Jika tembakan terkena di dadanya, ia bisa langsun mati" pikir Dimas. Ia menatap William dengan teliti, sesekali ia melirik ke arah Bella. Gadis itu masih di sana ikatan belum terlepas dari tangannya, situasinya akan rumit jika Bella bergabung dengan ayahnya. Jadi Dimas harus cepat menumbangkan ayahnya dulu.


Mata Dimas kini kembali melihat ke arah William, pria tua itu tidak hanya menggoyang goyangkan pinggulnya tapi juga berputar putar layaknya mainan anak bayi.


" Sekarang waktunya"


Dengan gerakan yang cepat, Dimas segera mengambil pistol dari saku bajunya. Dua buah peluru di tembakkannya secara beruntun pada pria itu.


Dooor door.


Bunyi tembakan bergema di tengah tengah hujan.


Apa berhasil???????


" Hahahahaahah hahahahahahahah hahahahahahahah hahahahahahah hahahahahahahah hahahahahahahah hahahahahahahahah hahahahahahahahah hahahahahahahah hahahahaahahah hahahahhahaahhahaa hahahahahahahah hahahahaahahahahahahahah" suara tawa William memecah bunyi hujan.


Dimas mengumpat dalam hati. Dua peluru yang ia keluarkan tidak ada yang mengenai sasaran. Menggores saja tidak kena apalagi sampai membunuh.


" Tidak berhasilkan" William berjingkrak jingkrak seperti anak kecil.


" Kini giliranku" kata William dengan badas.


Pembunuh senior itu mengangkat parangnya tinggi tinggi.

__ADS_1


" Kau akan menulis takdirmu di sini, mati di tangan Tuan William si pembunuh terhebat seantero negeri. Kau akan di kenang sejarah sebagai pahlawan yang meninggal saat melaksanakan ekspedisi" katanya.


Dimas memperhatikan benda itu, entah kenapa di tengah tengah hujan ia melihat benda itu berkilau layaknya di terpa sinar mentari.


" Inilah benda yang ku gunakan mengambil nyawa puluhan orang" hanya dalam kedipan mata benda itu meleset ke arah Dimas.


Secepat kilat Dimas menghindar tapi lemparan benda itu memang sangat cepat dan tepat. Kini benda itu mengenai tangannya.


" Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" suara kesakitan Dimas terdengar siang itu, telapak tangannya terputus.


" Hahahahahahahahah hahahahahahah hahahahahahah hahahahahahah hahahahahah hahahahahahah hahahahah" pria yang bernama William Farhana itu tertawa terbahak bahak. Ia sangat bahagia mendengar jeritan kesakitan orang lain.


Dimas melihat telapak tangannya yang jatuh ke rerumputan di penuhi darah. Rasa sakit yang tak terkira mendera tubuhnya.


" Tapi kau beruntung, jika aku mengayunkan parangku orang lain langsun kehilangan kepalanya namun parangku hanya memotong tanganmu. Itu sebuah keberuntungan" kata William. Hanya satu lompatan pria stengah iblis itu melompat ke arah Dimas, dengan membabi buta William memukul menendang Dimas tanpa ampun.


Dimas membiarkan pukulan si tua bangka itu mengenai tubuhnya, ia kalah telak hanya sekali sentuhan kasar dari Tuan William, Dimas langsun kehilangan kekuatannya. Berikan tepuk tangan pada pria ini, pembunuh yang sudah menggeluti pekerjaan membunuh selama berpuluh puluh tahun memang bukanlah pembunuh cap kaleng kaleng khong Guan. Hanya dalam sekali kedipan mata, ia langsun mengkik lawannya.


Bella menatap ayahnya dengan senyum sinis, inilah ayahnya sang pembunuh dan ia membenci ayahnya tapi ia sama seperti ayahnya. Gadis itu hanya menatap diam melihat tingkah ayahnya, tiba tiba perasaan yang merah menyala menyelimuti tubuhnya. Keinginan yang besar untuk menghapus nama ayahnya dan nyawa ayahnya dari muka bumi.


" Apa aku sudah hebat sekarang, jika aku sudah hebat maka aku bisa menghabisi pria ini yang membuat aku dan ibuku menderita" pikir Bella.


Bella melihat Sean, pria itu berbaring di bawah kakinya tak punya tenaga lagi. Tapi ia yakin kalau Sean masih mendapatkan kesadarannya sedangkan Vita, gadis itu sudah tak sadarkan diri sedari tadi.


Bella menatap kakaknya dengan intens, saudara satu satunya yang ia miliki. Ada saatnya perasaan rindu yang mendalam muncul di hatinya jika teringat akan kakaknya. Pertama kali bertemu di SMP Cenderawasih ia langsun mengenalnya, ia sangat senang satu sekolah bahkan satu kelas dengan kakaknya. Kakaknya itu datang ke kelasnya saat ia duduk di bangku kelas tiga SMP, mengenalkan dirinya sebagai Bunga. Namun bertahun tahun menjadi seorang pembunuh, ia hampir kehilangan segala rasa simpati dan empati pada orang lain bahkan kepada saudara dan orang tuanya. Jika keadaannya sudah demikian apakah ia juga tidak segan segan membunuh saudaranya??? jika ia memiliki keinginan yang kuat untuk membunuh ayahnya apakah ia juga bisa membunuh kakaknya. Entahlah??? tapi rasa simpati dan empati yang hanya 0,1 % saja ia bisa saja melakukannya.


Tapi atas dasar apa, ia akan membunuh Vita?? Bella tidak menemukan jawabannya.

__ADS_1


Kini Bella melihat Sean, pria inilah yang terpatri di hatinya sejak dulu. Ia selalu ingat Sean tapi sayangnya pria itu melupakannya. Kebenciannya memuncak saat ia melihat pria itu bersama dengan Jasmine, si gadis songong yang paling ia benci. Ia barusan menendang Sean tanpa ampun karena teringat pria ini pernah jalan bersama Jasmine.


Seharusnya bukan Jasmine dan Vita, seharusnya ia yang berada di sisi Sean. Dialah pasangan yang di takdirkan bersama dengan pria ini.


__ADS_2