
Sore harinya Sean berangkat ke kantor polisi seorang diri. Di perjalanan ia bertanya tanya kenapa ia di panggil oleh Dimas, semalam ia sempat menghubungi Gilang dan Nanda tapi keduanya mengatakan mereka tidak panggil. Kira kira apa yang akan di bicarakan polisi itu padanya.
Sesampainya di sana, Ia melihat Anna, kedua orang tuanya dan pelayan keluarganya keluar dari ruang penyelidikan. Ternyata keempat orang itu baru saja di mintai keterangan.
" Kakak juga ada di sini" tegur Anna.
" Iya"
Beberapa saat kemudian, keluarga kecil itu pulang ke rumahnya. Sean segera masuk ke dalam ruangan kecil di mana Dimas dan Denal berada.
" Kau tepat waktu" ujar Dimas.
" Di kamusku tidak ada kata terlambat" balas Sean.
" Kau percaya diri sekali anak muda. Aku salut padamu" kata Dimas mengacungkan salah satu ibu jarinya.
" Kenapa aku di panggil?" tanya Sean kemudian.
" Kami menemukan ponsel Rika dekat kamar mandi yang ada dekat kantin" kata Dimas memulai penjelasan.
Sean diam menunggu penjelasan selanjutnya.
" Kami menemukan sebuah pesan yang membuat Rika keluar asrama malam itu dan pesan itu berasal dari nomor ponselmu"
" Apa" Sean tersentak." Jadi maksudmu malam itu aku menyuruh Rika keluar untuk menemuiku"
Dimas mengangguk.
" Apa kalian saling mengenal?"
" Iya, kami teman masa kecil. Tapi hari itu dan beberapa hari sebelum hari di mana Rika meninggal. Aku tidak pernah menghubunginya" Sean memberikan penjelasan.
" Uhm, aku percaya padamu anak muda. Dari keterangan keluarga Anna tadi kami dapat menarik kesimpulan kalau pelaku pembunuhan dari peristiwa ini adalah seorang siswa dari SMA Rajawali sendiri"
" Tebakanku juga sampai ke situ"
" Dan pelaku pembunuhan itu. Dia mengenalmu dan kau juga mengenalnya.
__ADS_1
Sean menggeleng.
" Aku tidak pernah menyangka hal ini"
" Coba jelaskan di mana keberadaan ponselmu?" tanya Dimas.
" Ponselku masih ada padaku saat ini" jawab Sean lalu mengeluarkan benda sejuta umat itu dari kantong bajunya." kalau boleh tahu jam berapa pesan tersebut sampai pada Rika?"
" 16.02" kata Dimas pendek.
Sean mengingat ngingat apa yang ia lakukan pada jam tersebut. Tapi setelah sekian lama berpikir ia tidak menemukan hal yang berarti.
" Tidak ada hal yang mencurigakan. Pada jam itu aku berada di kamarku seorang diri, kalau si pelaku pembunuhan itu menyelinap masuk ke dalam kamarku, aku tidak yakin bisa membuka ponselku karena ponselku hanya bisa di akses dengan sidik jari" jelas Sean.
Dimas dan Denal diam. Mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing masing.
Beberapa menit kemudian.
" Tugasmu berat Sean. Cari siapa yang mengirim pesan itu pada Rika, setidaknya bawa nama yang mencurigakan" kata Dimas kemudian.
" Semangat"
Dimas dan Vikal bangga akan perilaku Sean yang pantang menyerah.
Sean keluar dari kantor polisi dengan langkah yang tegas, keinginan untuk menangkap pembunuh itu semakin kuat.
" Rupanya kau ingin bermain main denganku yah" ujar Sean emosi.
" Baiklah, kalau begitu aku akan menangkapmu dengan tanganku sendiri"
Sesaat keluar dari kantor polisi, Sean lewat membeli makan siang di sebuah kedai kecil yang cuma beberapa meter dari tempatnya berpijak. Pria itu berjalan kaki dengan langkah yang pelan menikmati kebisingan kendaraan yang berlalu lalang.
Tanpa ia sadari sebuah mobil dari belakang mengawasinya.
" Maaf, karena sudah menjebakmu. Tapi hanya cara itu yang bisa ku lakukan untuk mengeluarkan Rika dari asrama" gumam si pengendara mobil.
Setelah Sean selesai membeli makan siangnya, ia segera pulang ke rumah.
__ADS_1
Di atas balkon rumahnya yang menghadap ke jalan raya. Sean duduk di sana sambil menggigit potongan daging yang ia belinya tadi, matanya lurus menatap ke depan tapi otaknya tidak pernah berhenti berpikir.
Sebenarnya ponselnya tidak hanya bisa di akses dengan sidik jari tapi juga menggunakan kata sandi, namun ia tidak mengatakannya pada polisi tapi kata sandi itu hanya ia dan Vita yang tahu. Kata sandi tersebut ia pakai saat masih berpacaran dengan Vita dan sampai sekarang ia masih menggunakannya walaupun memakai ponsel yang berbeda.
" Vita, apa kau berada di dekatku" gumam Sean.
Sean kembali mengingat ngingat, apa ada hal yang ia lewatkan di jam 16.02 tapi pria itu sangat yakin kalau di jam itu ia sudah pulang ke kamarnya.
" Tunggu dulu" Sean semakin serius berpikir.
Ia baru ingat, kalau pesan yang di kirim lewat ponselnya waktunya bisa di atur. Bisa di katakan pesan tersebut bisa di jeda, pesan baru terkirim dengan waktu yang di tentukan.
Ia yakin, kalau orang misterius itu pasti menggunakannya. Sean mengingat ngingat apa yang ia lakukan hari itu dan siapa saja yang ia temui. Dia bangun pagi sekitar jam 05.00, dalam jangka waktu dua jam ia belum bertemu siapa siapa kemudian jam 08.00- 10.00 jam pertama dan kedua di mulai lalu 45 menit waktu istirahat. Saat istirahat ia sempat bertemu dengan teman teman osisnya di ruangan osis. Kemudian di jam 10.45-12.30 jam belajar ketiga dan keempat sedang berlangsun. Sepulang sekolah ia langsun ke kamarnya untuk beristirahat mengingat nanti malam ia akan begadang lagi berpatroli di sekolah.
Dua jam setelah bangun pagi ia berada di dalam kamarnya, tidak mungkin ada seseorang yang memakai ponselnya untuk menyelinap masuk saja itu tidak mungkin mengingat ia baru membuka kunci kamarnya saat ia keluar untuk pergi sekolah kemudian di jam pertama, kedua, ketiga dan keempat itu juga tidak mungkin karena ponselnya selalu berada di saku bajunya. Yang menjadi sedikit kemungkinan saat ia berkumpul dengan teman teman sesama osisnya. Sean mengingat ngingat siapa yang di temuinya saat itu hanya ada Nanda, Gilang, Dewi, Diana, Mysel, Niel dan Yolanda tapi Sean sangat yakin tidak mungkin salah satu dari mereka pelakunya dalam jangka waktu yang lama bersama Sean tahu bagaimana sifat anggotanya. Mereka tidak memiliki alasan untuk melakukan hal gila itu.
Beberapa jam berkutat dengan pikirannya mencoba mencari celah namun ia sama sekali tidak menemukannya.
" Ah, siapa kira kira"
Ponsel Sean berdering, Jasmine menelepon.
" Ada apa sayang?"
" Temani aku ke toko kosmetik" kata Jasmine di telepon.
" Baiklah"
Sean segera bersiap siap menjemput Jasmine, ia mengeluarkan mobilnya dari garasi lalu memacu mobilnya dalam kecepatan yang sedang.
Di tengah tengah keramaian kota malam itu, Sean dan Jasmine berada dalam toko kosmetik.
Bosan menunggu di dalam, Sean keluar dari toko untuk mencari udara segar. Pria itu duduk dengan santai di bangku yang di sediakan di depan toko.
Tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah pemandangan yang familiar di matanya. Mobil yang ia lihat tadi saat keluar dari kantor polisi. Walaupun secara tidak terang terangan memperhatikan mobil itu, tapi ekor matanya sangat jeli memperhatikan objek di sekitarnya.
" Mobil itu ada di sini lagi. Apa sebuah kebetulan?"
__ADS_1