Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Pesta Bagian II


__ADS_3

Riuh meriah pesta ulang tahun yang di adakan keluarga kecil Anna. Para anak anak remaja yang hadir di tempat itu sangat senang dengan segala kemeriahan yang di suguhkan. Jasmine sendiri hatinya sedang berbunga bunga, malam ini Sean mengungkapkan āperasaannya padanya tanpa banyak bicara Jasmine segera mengiyakan. Primadona SMA Rajawali itu memasuki kumpulan teman temannya yang bergoyang setelah sekian lama berdiam diri bersama dengan Sean.


Dengan perasaan bahagia, Jasmine mulai mengikuti kegilaan teman temannya.


" Malam ini wajahmu berseri seri. Apa ada sesuatu yang ku lewatkan?" tanya Bunga penasaran.


" Entahlah" jawab Jasmine mengedipkan sebelah matanya.


Dewi memperhatikan percakapan mereka dari jauh. Ia tidak bisa mendengarnya tapi ia tahu sesuatu yang spesial sedang di rasakan oleh Jasmine.


" Aku yakin mereka sudah pacaran" gumam Dewi sedih. Orang yang di cintainya sejak lama sudah berpacaran dengan orang lain.


" Ah, biarkan saja" ucapnya menghibur diri." walaupun aku mencintai Sean tidak ada gunanya kalau ia tidak mencintaiku".


Anna tersenyum melihat hadirin pesta ulang tahunnya. Ia tidak menyangka kalau rumahnya akan seramai ini mengingat ia adalah siswa yang tidak terkenal ternyata teman seangkatannya dan kakak kakak kelasnya yang di undangnya datang di pestanya meskipun mereka tidak mengenalnya.


Bola matanya berputar putar mencari teman baiknya, Santi.


" Dia ada di sana" ujarnya kemudian melangkah mendekati Santi yang duduk di pojok memainkan ponsel.


" Kau tidak minat seperti kebanyakan" tegur Anna, Santi menoleh. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


" Aku tidak terbiasa dengan hal ini"


" Ayolah bersenag senanglah malam ini" tanpa mendengar persetujuan Santi, Anna segera menarik tangan sahabatnya itu membawanya ke dalam kerumunan massa yang berjoget joget riah.


Anna bergerak gerak lincah mengikuti alunan musik, Santi hanya berdiri mematung.


" Kau harus belajar"


" Tidak perlu"


" Jangan malu malu" Anna memegang tangan Santi mengajak gadis itu berjoget.


" Hah"


" Kau kecapekan" tegur Seseorang.


Bunga menoleh teman sekelasnya berbicara padanya.


" Iya, siapa yang tidak capek menggila seperti itu" jawabnya. Teman sekelasnya itu yang bernama Yoona duduk di sampingnya.


" Kau tidak ikut"

__ADS_1


"Tidak, badanku akan sakit semua jika melakukan pertunjukkan gila itu"


Bunga terbahak. Ia tahu Yoona tidak akan seperti teman teman yang lainnya, gadis yang ada di sampingnya ini tumbuh dalan keluarga yang memiki etika dan tata krama yang ketat.


" Kau datang dengan siapa?" tanya Bunga.


" Janeta" balasnya singkat.


"Di mana dia?"


" Entahlah. Mungkin ia berada di antara orang orang yang berjoget ini"


Bunga lagi lagi terbahak, gadis ini adalah gambaran seorang perempuan yang berkelas dan anggun. Kalau Jasmine mengandalkan kecantikannya maka Yoona mengandalkan sikap dan etikanya yang kelewat sopan.


Yoona melihat lihat ke arah kumpulan, ia mencari cari batang hidung Janeta tapi ia tidak melihatnya.


" Di mana gadis itu" gumamnya.


Yoona melihat jam tangannya, sudah jam 22.00. Ia akan di marahi oleh orangtuanya kalau ia pulang larut malam. Ia sudah berjanji kalau ia akan pulang di bawah jam 22.00 tapi ini sudah lewat. Ia sudah siap menerima ocehan dari ibunya.


" Apa Janeta lupa, kalau kami akan pulang cepat" katanya gusar. Tapi ia tetap duduk di tempatnya melihat pertunjukan gila itu akan selesai.


Satu per satu, hadirin berhenti dari aksinya. Mereka bersiap untuk pulang karena memang acara Anna akan berakhir di jam 22.30.


" Dimana dia, apa dia ke kamar mandi" Yoona tetap tak bergeming dari tempatnya. Ia setia menunggu kedatangan Janeta.


Beberapa menit kemudian.


"Aaaah"


Suara teriakan dari arah kamar mandi terdengar.


Hadirin yang belum sempat pulang berlari ke asal suara termasuk Yoona.


Tapi apa yang di lihatnya di sana sungguh membuat jantungnya copot. Ia melihat Janeta dengan muka yang hancur bahkan bola matanya sudah tidak ada sedangkan yang satunya melotot mengerikan.


Pelayan keluarga Anna yang menemukan pertama kali mayat Janeta memuntahkan semua isi perutnya.


" Huek...huek..."


Yoona menutup mulutnya dengan tangannya matanya membulat tidak percaya.


Sean yang kebetulan belum pulang berkata dalam hati.

__ADS_1


" Rupanya pembunuh itu berada di sini"


Orang orang yang berada di situ heboh seketika.


Orang tua Anna tak kalah terkejut, sepasang suami istri itu tidak menyangka kalau ada seseorang yang akan di bunuh di rumahnya tepat di hari ulang tahun anaknya.


Beberapa saat kemudian, orang tua Anna menghubungi pihak kepolisian untuk mengevakuasi jasad Janeta. Hadirin yang masih ada di situ segera pulang ke rumahnya masing masing dengan tanda tanya yang besar.


Sesampai di rumahnya, Sean segera masuk ke dalam kamarnya mengunci pintu. Kematian Janeta secara tragis tidak hilang dari kepalanya, ia terus terbayang bayang tubuh Janeta yang sudah tidak utuh lagi. Ia melupakan rasa bahaginya malam ini bisa mengungkapnya perasaannya pada Jasmine, perempuan yang berhasil merebut hatinya sebelum Vita.


Pria itu sudah sangat yakin kalau pembunuh yang mengincar nyawa SMA Rajawali adalah seorang pelajar yang ada di SMA Rajawali sendiri dan orang yang membunuh Janeta malam ini sama dengan pelaku pembunuhan yang berkeliaran di sekolah mereka.


Tapi yang menjadi pertanyaan besar apa motif pembunuhan ini dan siapa pelakunya. Beberapa waktu yang lalu Sean berspekulasi kalau motif pembunuhan ini di dasari karena sengketa lahan. Namun jika itu benar, orang yang menjadi dalang di balik peristiwa pasti sangat erat kaitannya dengan Maykel Farhana jika itu keluarganya Maykel sendiri tapi sampai sekarang Sean tidak menemukan keberadaan keluarga Maykel Farhana di sekolah ini.


" Atau apa suruhan keluarga Farhana yah"


Sean mondar mandir tidak jelas di dalam kamarnya.


Notif pesan ponselnya berbunyi.


Sean segera mengambil ponselnya lalu membuka pesannya. Sebuah pesan dari teman baiknya Nanda.


" Kau pasti berpikir kalau pelaku pembunuhan ini sesama pelajarkan. Aku juga berpikiran seperti itu" isi pesan Nanda.


Nanda tahu kalau kejadian sangatlah membayangi pikiran Sean. Jadi Nanda mengirimnya pesan tersebut.


Tak lama berselang pesan lain masuk.


" Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, besok temui aku di kantor polisi jam tiga sore"


Dimas mengirimnya pesan.


" Baik" balas Sean.


Pria itu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. ia menerka nerka kira kira apa yang ingin di bicarakan polisi itu padanya. Ini pertama kalinya ia di panggil oleh polisi ke kantornya.


" Ah. Sudah pasti tentang kerja sama kami dalam mencari si pembunuh ini" pikir Sean.


" Kalau aku di panggil tentang hal ini pasti Nanda dan Gilang juga di panggil"


Sean membuka pesannya lagi ia akan mengirim pesan pada Nanda tapi tiba tiba pesan Jasmine masuk.


" Tidurlah dengan nyenyak sayang. Mimpikan aku yah"

__ADS_1


Sean tersenyum membacanya.


__ADS_2