Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Wartawan


__ADS_3

Hari ini sekitar jam 13.00 waktu setempat. Kantor polisi ramai di padati oleh keluarga yang anaknya jadi korban pembunuhan dan juga oleh warga kota yang hanya membayar rasa penasarannya akan pembunuh yang berkeliaran akhir akhir ini di SMA Rajawali.


Kantor polisi penuh sesak oleh massa. Para polisi yang bertugas di sana berusaha menenangkan warga terlebih keluarga korban. Vita di jaga ketat oleh lima anggota kepolisian waspada jangan sampai gadis itu menjadi amukan massa.


Hari ini Dimas akan muncul di depan publik, sudah sangat lama ia menunggu waktu ini di mana ia dan rekan rekannya berbicara kalau usaha dan kerja keras mereka membuahkan hasil.


Para wartawan dari berbagai kalangan muncul di sana. Mereka sudah tidak sabar menunggu pernyataan dari pihak kepolisian, kasus Vita akan menjadi topik yang hangat di seantero negeri.


Dimas turun dari mobil, Tiga jam yang lalu ia meninggalkan kantor polisi untuk bertemu dengan kejaksaan agung. Dan kali ini ia kembali ke kantor polisi untuk berbicara dengan rekan rekannya.


Puluhan wartawan serta kamera terpampang mengelilingi pria itu.


Banyak wartawan bertanya tentang hal ini dan itu. Terlalu banyak pertanyaan yang di keluarkan wartawan terhadap salah satu petinggi kepolisian di kota itu.


Dimas langsung menjawab pertanyaan publik dengan gaya bicaranya yang lugas dan berwibawa.


" Yah. Kalian semuanya bertanya tanyakan, siapa sebenarnya dalang di balik kejadian naas yang menimpa murid murid SMA Rajawali . Bukan hanya murid SMA Rajawali yang menjadi korban tapi kepala sekolah, kepala asrama putri bahkan dua anggota polisi yang menjadi korban dalam hal ini. Kita mengenang mereka sebagai sosok yang layak di kenang. Kita mendoakan mereka supaya mereka bisa damai dan tenang di alam sana"


" Pembunuhnya adalah seorang gadis yang masih berusia 17 tahun namanya adalah Novita Amelia. Kami sudah menginterogasinya dan dia sudah mengakui semua perbuatannya, pembunuhan pertamanya ia lakukan saat masih berusia 14 tahun. Korban pertamanya bernama Wasti Kumala, mungkin kalian masih mengingatnya korban kecelakaan mobil yang pernah menjadi sorotan tiga tahun yang lalu. Vita yang sekarang mengganti namanya menjadi Bunga, tidak hanya mengganti nama tapi juga mengganti bentuk wajahnya lewat operasi plastik. Ia memutus rem mobil Wasti Kumala dan memberikan pop ice yang sudah di campur oleh sianida" jelas Dimas.

__ADS_1


" Lalu mengapa pada saat itu, polisi tidak bisa membongkar kejahatan Vita?" tanya salah seorang wartawan.


" Kami mengakui waktu itu sepenuhnya salah kami. Kami tidak bertanggung jawab dan tidak loyal atas tugas yang di embankan, kami mengaku salah dan meminta maaf sebesar besarnya kepada masyarakat terlebih kepada keluarga korban. Andaikan pada saat itu kami bisa melakukan tugas kami dengan baik tentulah para korban masih bersama dengan kita hari ini" pungkasnya dengan mimik wajah yang merasa bersalah namun di lubuk hati yang paling dalam Dimas tersenyum mengingat kesalahan terbesar Adam Chandra di dunia kepolisian. Karena mata duitan pria itu, Dimaslah yang harus tebal muka meminta maaf kepada publik. Ia tidak mungkin akan menjelek jelekkan nama instansinya. ( nama Adam Chandra pernah muncul di part 26 yah).


" Lalu hukuman apa yang akan di berikan kepada Vita alias Bunga. Ia sudah menjatuhkan banyak korban seharusnya dengan kasus yang seperti ini ia di jatuhi hukuman mati tapi mengingat usianya masih sangat muda?" tanya salah satu wartawan yang paling cerdas di antara wartawan lainnya.


" Karena hal itulah, hari ini kami menyempatkan diri bertemu dengan kejaksaan agung. Akan kami jawab pertanyaan kali ini di lain kesempatan yah" ujar Dimas kemudian menunduk lalu berlalu pergi.


Wartawan yang di liputi rasa penasaran mengejarnya dan berteriak teriak mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Mereka tidak boleh melewatkan secuil pun fakta tentang kejadian ini, kasus ini adalah kasus terbesar dan yang paling menjadi pusat perhatian. Mencari informasi atas kasus ini dapat menaikkan gaji mereka.


Tapi Dimas hanya mengeluarkan senyum terbaiknya sebagai jawaban atas pertanyaan para wartawan.


Dimas di kawal oleh beberapa pengawal pribadi yang tidak lain adalah polisi yang berpangkat rendah darinya. Tidak hanya wartawan tapi warga juga berdesak desakan melontarkan pertanyaan pada pria itu tapi sayangnya sama seperti ia menjawab para wartawan, ia menjawab pertanyaan warga hanya dengan senyuman.


Ibu yang tidak di sebutkan namanya itu menerobos kasar massa dengan frustasi, ia berusaha sekuat tenaga menggapai petinggi di kepolisian itu. Secepat mungkin ia berlari ke arah Dimas saat ibu itu sedikit lagi bisa menggapainya, salah satu pengawal menghentikan aksinya.


Tidak hanya satu pengawal tapi beberapa juga pengawal menahannya atau memegangnya karena wanita itu mencakar dan menjambak pengawal yang lebih duluan menahannya. Ia memukul, menendang kemudian berteriak kepada Dimas.


" Pertemukan aku dengan pembunuh itu, pertemukan aku dengan pembunuh itu". Hanya itu kalimat yang terlontar dari mulutnya berkali kali.

__ADS_1


Polisi dan beberapa warga menenangkannya. Beberapa polisi wanita membawa ibu itu jauh jauh dari kerumunan untuk memberikan pengertian padanya.


Akhirnya Dimas berhasil masuk ke dalam kantor polisi melewati jumlah massa yang semakin menit semakin menggila.


Setibanya di dalam ruangan, pria itu langsun menuju sel di mana Vita di tahan. Ia melihat gadis itu sedang duduk merapatkan belakangnya ke tembok sambil membenamkan wajahnya ke dalam kedua lututnya.


Para polisi yang berjaga di situ menunduk hormat saat melihat atasan mereka datang.


" Kau bisa mendengar keadaan di luar?. Seharusnya kau berpikir saat melakukan aksi ini, andaikan warga biasa yang mengetahui kedokmu terlebih dahulu kau pasti sudah mati di amuk massa. Jadi berterimah kasihlah, untung polisi yang berhasil membongkar kedokmu jadi kau bebas dari amukan banyak orang" kata Dimas.


Vita mengangkat wajahnya, matanya sembab karena air mata.


" Terserah mereka apa yang mereka akan laukan. Aku memang layak di hukum semua orang" katanya serak.


" Jangan berfikir sampai ke situ. Walaupun kau seorang pembunuh, kau membutuhkan perlindungan. Tidak baik kalau kau di amuk banyak orang, hal ini juga bisa merusak citra kami"


" Persiapkan dirimu. Besok jam 08.00 kita berangkat ke kejaksaan hukumanmu akan di tentukan pengadilan, tapi aku yakin kau lolos dari hukuman mati" sambungnya kemudian pergi dari situ.


Vita menarik nafasnya, semoga kata kata polisi itu benar. Ia tidak mau mati sia sia, masih banyak hal yang ia ingin lakukan.

__ADS_1


Sementara di sisi lain.


Jasmine menjatuhkan remotnya ke lantai saat melihat berita yang di siarkan semua saluran televisi siang ini. Ia di terpa rasa keterkejutan tiada tara, badannya gemetaran dan menggigil mengetahui ternyata selama ini ia satu kamar dan tidur dengan pembunuh.


__ADS_2