
" Jadi begitu, korban di urutkan dari rangking 10 sampai 1" pikir Dimas.
" Ya benar, yang pertama kali meninggal adalah Siska kemudian di susul oleh Rara. Joy pada waktu itu sudah di incar tapi karena kita tepat waktu datang menyelamatkannya, ia tidak jadi di bunuh lalu Rika yang di bunuh di depan toilet sekolah kemudian Janeta yang di bunuh di pesta ulang tahun Anna lalu Ilan di klub malam. Kau benar pembunuh itu mengurutkannya dari rangking 10 sampai 1, sekarang ini kita harus memberitahukannya pada Vikal tentang keadaan ini jangan sampai yang lainnya juga di bunuh" sambung Dimas.
Sean tak meladeni perkataan Dimas. Pria itu sibuk melihat Daftar rangking di tangannya, matanya tak lepas dari nama Jasmine. Mantan pacarnya itu juga masuk dalam incaran si pembunuh.
Berapa menit Shanaya datang, ia membawa sebuah map berwarna hijau.
" Coba lihat" katanya.
Sean membuka map tersebut di dalamnya tertulis identitas diri Irabella Farhana dan semua kejahatannya selama ini.
" Apa ini semua data yang di tulis oleh detektif Wydia dan rekan rekannya?" tanya Nanda.
" Aku yakin itu, ada noda darah di sinj dan map ini di ambil oleh Irabella saat ia sudah membantai Wydia dan teman temannya" terang Shanaya.
Nanda membuka lembaran demi lembaran kertas yang ada di sana. Di situ tertulis semua nama nama korbannya, kalau di hitung Bella sudah membunuh delapan orang pada saat ia masih duduk di bangku SMP di tambah lagi sekarang lima orang siswa, dua polisi dan dua pegawai SMA Rajawali. Jadi total semua korbannya berjumlah 17 orang, sungguh manusia yang sadis.
Di situ tertulis semua data diri Irabella Farhana beserta fotonya, ada beberapa foto yang menampilkan Bella dengan gaya yang berbeda beda.
Nanda memperhatikan foto itu, wajahnya tak asing namun ia lupa di mana ia pernah melihatnya.
__ADS_1
" Coba ku lihat" ucap Sean lalu mengambil map itu dari tangan Nanda.
" Aku jadi bingung, Wydia menulis kalau ia cuma satu Minggu di sini dan dalam jangka waktu itu ia bisa mendapatkan data Irabella sebanyak ini?" Nanda bertanya tanya.
" Sejak awal kedatangan Wydia di sini, ia berteman dengan Irabella. Di saat saat tertentu seorang detektif harus menjalin hubungan yang baik dengan pelaku. Hanya ada dua kemungkinan Wydia bisa mendapatkan data Irabella sebanyak ini yaitu Bella punya buku harian yang di temukan oleh Wydia atau Bella sendiri yang bercerita pada Wydia tentang kehidupannya. Tapi kalau informasi tentang Bella ada di pilihan yang kedua maka sejak awal Wydia dan rekan rekannya sudah di rencanakan untuk di bunuh. Di dalam setiap kejujuran seorang pembunuh tingkat dewa selalu ada rahasia mengerikan yang tersimpan" jelas Shanaya.
" Jadi maksudnya, Irabella bercerita semua kehidupannya pada Wydia. Ia jujur kepada wanita itu tapi ujung ujungnya ia akan membunuh Wydia dan rekan rekannya jadi identitasnya tidak pernah di ketahui"
" Yah begitulah"
" Dia mirip adik kelas kita" Sean kemudian angkat suara setelah lama memperhatikan foto foto Irabella.
Ketiga rekannya yang ada di situ menatapnya dengan kaget.
" Aku tidak pernah lupa mata adik kelas kami tahun ini yang selalu bersembunyi di balik kacamata karena aku pernah bertatapan lansung dengannya" kata Sean.
Dimas mengambil map itu dari tangan Sean, ia melihat foto foto Irabella yang berhasil di ambil oleh Wydia.
Polisi itu ingat saat ia berhadapan dengan si jubah merah di atas bukit di mana saat Fitri di bawa dari warkop 88 untuk di interogasi. Seluruh badannya di tutupi oleh jubah panjang berwarna merah tapi bibirnya yang mengeluarkan senyum mematikan kelihatan. Dimas memperhatikan bibir Irabella sangat mirip dengan si jubah merah. Tidak salah lagi, yah inilah sosoknya. Sosok yang menembak ban mobilnya pada malam itu.
" Siapa dia??? Aku belum pernah melihat murid di SMA Rajawali dengan wajah seperti ini" Dimas penasaran.
__ADS_1
" Dia siswa kelas 10 D, sahabat Anna"
" Anna. Siswa yang pernah merayakan ulang tahunnya, dan pada malam itu ada juga kematian di rumahnya yaitu Janeta" jelas Sean.
" Oh itu" Dimas ingat sekarang.
" Hal ini masuk akal karena pada malam itu Bella dengan identitas yang lain hadir di sana. Tentu saja ia hadir karena Anna adalah sahabatnya"
" Jangan banyak bacot. Siapa orangnya" ujar Shanaya, ia mulai emosi.
" Nama anak ini adalah Santy. Bella mengganti namanya di sekolah dengan nama Santy dan mengubah penampilannya dengan berpura pura menjadi anak yang culun. Aku ingat sekali saat itu aku sangat terpukul atas kematian Rika, aku masuk ke dalam perpustakaan seorang diri, menangis di sana lalu tiba tiba Santy datang membawakan sebotol air minum padaku. Hari itu aku menyuruhnya untuk pergi tapi ia bersikeras untuk tetap di sana bahkan ia menyinggungku. Hari itulah aku memperhatikan matanya, garis mata yang sangat berbeda dengan penampilannya yang kalem. Saat pesta ulang tahun Anna, ia duduk bersama dengan kami karena ia di panggil oleh Bunga alias Vita" cerita Sean.
" Vita. Jadi Vita berkeinginan untuk menyembunyikan semua kejahatan Bella karena Bella adalah adiknya?" tanya Shanaya.
" Yah. Aku yakin itu, Vita alias Bunga dan Bella alias Santy. Mereka bersaudara" terang Sean.
" Tapi dari penjelasan Vita beberapa waktu yang lalu. Ia sudah tidak tahu wajah saudara nya karena mereka di pisahkan sedari kecil, Vita mengakui kejahatan di SMA Rajawali hanya karena dia berkeyakinan kalau adiknya Bella ada di sana melakukan aksinya, karena pikirnya siapa lagi yang melakukan kejahatan ini kalau bukan adiknya" sambungnya.
Nanda diam. Ia ingat hari itu, hari di mana Anna sahabat Santy datang padanya saat ia ada di dalam perpustakaan. Anna datang padanya memberitahukan kalau pembunuh itu memiliki tato kalajengking di perutnya lalu menuliskan nama pemilik tato kalajengking itu. Sampai hari ini ia melupakan kejadian itu karena pikirnya tidak mungkin siswa kutu buku macam Santy melakukan aksi sekeji itu sekarang ini ia baru mengerti mengapa pada saat itu Anna mengatakan kalau ia bisa saja di bunuh karena ia tahu identitas Santy yang sebenarnya. Tentu saja Anna bisa leluasa tahu tentang Santy karena mereka sekamar.
" Jadi ia pembunuhnya" Ujar Shanaya.
__ADS_1
" Aku ingat siapa siswa yang bernama Santy itu. Aku pernah bertemu dengannya di sekolah saat aku datang ke sana untuk bertemu bu' Vany. Tepatnya waktu hujan badai , sore itu ia duduk di tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. Ia memakai pakaian sekolah yang basah entah ia pulang dari mana sampai baju sekolahnya sebasah itu" terang Shanaya.
" Hujan badai??? aku juga ingat, sore itu aku dan Gilang ada di ruang OSIS untuk mengerjakan tugas sekolah tapi aku duluan pulang karena sudah ngantuk kemudian aku melihat Anna berlari lari sambil menarik tangan seorang gadis yang memakai seragam yang sama. Mereka basah basahan, aku tidak bisa mengenali gadis yang di pegang Anna pada sore itu karena ia tidak berpenampilan sehari harinya di sekolah. Tapi gadis itu adalah Santy" cerita Sean.