Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Interogasi


__ADS_3

Tamparan berhasil mendarat di wajah Fitri saat ia kedapatan berkata bohong. Bola mata gadis itu mulai berair, tidak kuat menghadapi manusia tanpa hati di hadapannya.


Sudah lima kali, wanita berambut bob itu melayangkan pukulan ke arah Fitri entah karena Fitri berbohong atau tidak mau bicara.


" Tidak ada gunanya kau berbohong. Bukankah sudah kami katakan kau tidak bisa keluar dari sini jika kau tidak bekerja sama. Apa kau pikir kami main main dengan perkataan kami. HAH" bentak Shanaya.


Ketiga anggota OSIS di ruangan lain mengelus dadanya berkali kali melihat kelakuan wanita garang itu. Sedangkan lain halnya dengan Dimas ia hanya duduk santai di kursinya sambil menutup mata berkonsentrasi membaca kebenaran perkataan Fitri.


" Ini pertama kalinya kalian melihat hal yang seperti ini yah?" tanya Denal.


Gilang mengangguk.


" Aku sering melihatnya di film film tapi tentu saja akan berbeda jika di lihat secara langsun" ucap Nanda.


" Ini belum seberapa. Jika gadis itu ngotot tidak ingin mengatakan yang sebenarnya


Ia akan kehilangan jarinya"


Mereka bertiga bergidik ngeri.


Fitri menangis. Kali ini ia sudah tidak kuat lagi, ini baru satu stengah jam. Tapi pipinya sudah memar akibat bekas main tangan wanita itu.


" Ingin jujur atau tidak?" ujar Shanaya sambil mengangkat tangan kanannya. Ia akan menampar Fitri yang keenam kalinya.


" Hentikan. Akan ku katakan" teriak Fitri.


Shanaya menurunkan tangannya. Ia membetulkan posisi duduknya.


" Katakan. Aku harap kali ini aku sudah tidak memukulmu".


Fitri berusaha menenangkan diri. Ia menahan diri agar tidak menangis lagi. Dengan suara serak ia mengatakan apa yang ia tahu.

__ADS_1


" Kalian benar, Vita ada di sekolah kalian"


Deg.. deg...deg.


Jantung Sean berdegup kencang. Inilah saatnya ia mengetahui kebenarannya.


Nanda dan Gilang menegang. Mereka berdua menajamkan penglihatan dan pendengarannya sedangkan Denal yang ada bersama mereka hanya menatap lurus ke arah layar.


Dimas membuka matanya pelan. Apa tabir misteri ini akan segera terungkap? apa kerja kerasnya selama ini akan terbayar.


Inilah saatnya!!!


" Tidak ada seorang pun yang bisa mengenalnya saat ini baik itu mantan kekasihnya, orang tuanya, keluarganya, dan sahabatnya. Hanya ada tiga orang di dunia ini yang bisa mengenalnya yaitu aku, Bunda Mery dan Dokter Mika"


Mereka berenam tersentak kaget. Apa maksud dari perkataan Fitri?. Jadi benar Vita ada hubungannya dengan Dokter Mika, tapi siapa bunda Mery?


" Bunda Mery. Siapa dia? " tanya Shanaya terlebih dahulu. Wanita itu benar benar penasaran. Ia bisa mati penasaran saat ini.


" Ia adalah ibu angkat Vita" jawab Fitri.


" Akan ku ceritakan" Fitri mulai bercerita.


***


Beberapa tahun yang lalu.


Fitri meringkuk di dalam kamarnya saat ia melihat berita yang muncul di televisi pagi ini . Ia menutup mulutnya sambil menangis terisak. Kemarin malam Wasti Kumala meninggal dunia dalam kecelakaan mobil. Bukan kematian wanita paruh baya itu yang di tangisinya, untuk apa ia menangisi seseorang yang tidak di kenalnya. Tapi mengapa Fitri menangis? jawabannya hanya satu karena ia tahu rahasia terbesar mengapa wanita yang sudah melahirkan Sean itu menabrak pembatas jalan.


Kemarin malam, tanpa sengaja ia keluar rumah membeli Ice cream di indomaret. Entah kenapa malam ini terasa panas. Setelah selesai membeli Ice cream ia melihat Vita sahabat baiknya berada di jalan seberang sana. Berkali kali ia memanggil nama Vita namun sayangnya sahabatnya itu tidak mendengar suaranya, Vita hanya berjalan lurus memegang pop ice sambil menatap layar ponselnya. Karena hari ini ia belum mengerjakan pekerjaan rumahnya jadi ia berencana untuk menyontek Vita. Akhirnya tanpa sepengetahuan Vita, Fitri mengikutinya dari belakang.


Berapa lama Vita berjalan, tiba tiba pijakannya berhenti di samping mobil xpander putih. Awalnya Fitri mengira kalau Vita sedang mencari seseorang karena sahabatnya itu celingak celinguk ke sana kemari. Fitri tersenyum, otak jahilnya mulai muncul mengira Vita memiliki pacar tanpa sepengetahuannya. Tempat itu cocok di jadikan tempat bertemu rahasia karena situasinya sepi tidak ada orang lain di sana kecuali dirinya dan Vita.

__ADS_1


Hanya berselang beberapa detik. Pop ice yang di pegang oleh Vita di masukkan ke dalam kursi depan samping kemudi mobil kemudian sahabatnya itu menunduk mengeluarkan sebuah gunting dari saku roknya lalu mengulurkannya ke dalam sana.


Fitri tersentak kaget. Apa yang di lakukan teman baiknya itu?. Secepat kilat ia bersembunyi di batang pohon saat Vita selesai dari aktivitasnya, menoleh sana sini memperhatikan keadaan sekitar. Kemudian saat yakin kalau tidak ada orang lain di sana Vita pergi dari tempat itu.


Fitri sangat penasaran, saat Vita sudah pergi dari tempat itu. Fitri keluar dari persembunyian ingin memeriksa apa sebenarnya yang di lakukan Vita kepada mobil itu namun semuanya sirna saat seorang wanita paruh baya datang terburu buru sambil menelepon seseorang.


Tanpa mempedulikan Fitri. Wanita itu naik ke mobil, menutup pintu kemudian memacu mobilnya dalam kecepatan yang tinggi. Fitri yang tidak bisa berbuat apa apa hanya menganga di tempatnya, tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun.


Kemudian Fitri meninggalkan tempat itu pulang ke rumahnya dengan seribu pertanyaan muncul di otaknya.


Sesampai di rumah ini, ia menghubungi Vita namun sayangnya nomor gadis itu tidak tersambung akhirnya ia mengerjakan prnya sendiri kemudian tidur.


Keesokan paginya. Fitri bangun jam 06.00 lalu turun ke dapur, di ruang tengah ia melihat kedua orang tuanya mematung di depan televisi karena penasaran akhirnya Fitri juga melihat kabar pagi ini.


Fitri diam melihat berita pagi yang menayangkan seorang wanita 42 tahun kecelakaan mobil di jalan semangka. Wajah korban dan mobil yang di tumpanginya di perlihatkan ke publik, pada awalnya Ia bersikap biasa saja karena ia merasa tidak mengenal orang yang di beritakan tersebut barulah ia benar benar kaget bukan kepalang saat ia membuka grup kelasnya dan melihat chat temannya satu per satu memberikan belasungkawa kepada Sean atas kecelakaan maut yang menimpa ibunya.


Fitri tidak masuk sekolah hari ini. Ia terlalu syok, tidak peduli hukuman apa yang akan di berikan guru matematikanya yang galak abis jika ia tidak masuk kelas tanpa keterangan. Ia syok berat saat sadar siapa pelaku atas kecelakaan maut ini, ia baru mengerti kenapa Vita kemarin menunduk di samping mobil lalu mengeluarkan gunting dari saku roknya. Jawabannya hanya satu untuk memutus rem mobil Wasti Kumala. Vita memang sudah merencanakan kecelakaan ini.


Vita sudah menjadi seorang pembunuh.


Seharian penuh Fitri mengurung diri dalam kamar. Tidak mau makan dan tidak mau ke sekolah, ia beralasan kepada orang tuanya kalau ia sakit perut. Orang tuanya yang super sibuk hanya percaya saja dengan perkataan anaknya.


Sebuah pesan masuk.


Fitri meraih ponselnya. Ia langsun membuangnya ke lantai saat melihat nama orang yang mengirimnya pesan.


" Kenapa tidak masuk sekolah?" begitulah isi pesan Vita.


Jangan lupa like, comment dan Vote.


Dukungan pembaca sangat berharga buat author.

__ADS_1


Makin penasarankan. Ikuti terus part selanjutnya yah!!


Salam hangat dari Author❤️❤️❤️


__ADS_2