
Bunda Merry duduk menatap pria yang ada di depannya. Umurnya lebih tua dari William tapi William sudah terlihat seperti kakek kakek berusia 70 tahunan.
" Kau terlihat tua?" kata Bunda Merry.
William tidak menjawab, ia sibuk cengengesan.
" Apa terlalu lama berada di pulau membuatmu terlihat seperti orang gila"
" Aku baik baik saja. Aku sangat senang berada di pulau ini" jawab William pada akhirnya.
" Kau tidak baik sekarang Will. Kau sudah tidak waras" ucap Bunda Merry.
" Aku baik saja" kata William sambil tertawa.
" Sudah berapa banyak orang yang kau bunuh?" tanya Bunda Merry.
" Tidak terhitung"
" Tidak di pertanyakan lagi. Sejak lama kau memang sudah gila" kata Bunda Merry.
" Boleh aku bertamu ke rumahmu?"
" Untuk apa?"
" Apa salahnya kalau aku bertamu ke rumah adikku"
Mendengar hal itu, William tertawa terbahak bahak.
" Hahahahaahah hahahahaahah hahahahaha hahahahah"
Bunda Merry diam, ia sibuk melihat wajah William yang sudah mulai muncul kerutan.
" Aku bangga sekarang, rupanya kau masih menganggap ku sebagai saudara. Hahahahaah" kata William di sela sela tawanya.
" Apa kau sedang bermimpi Merry"
" Tidak. Aku tidak bermimpi, kau adalah adikku yang seorang pembunuh" kata Bunda Merry.
Sambil tertawa terbahak bahak, William mengangkat parangnya. Melihat kelakuan adiknya Bunda Merry segera bangkit dari duduknya, tidak ada gunanya berbicara pada pria ini. Adiknya sudah tidak waras.
William mengangkat parangnya, dengan cepat ia mengayunkan benda itu ke arah Bunda Merry. Tapi bukan Bunda Merry namanya kalau ia menerima begitu saja kelakuan adiknya, dengan sigap ia menghindar dari serangan William.
" Ternyata selama bertahun tahun, jurus karatemu masih ada" kata William.
Bunda Merry tidak menjawab, ia fokus pada serangan William. Sepersekian detik saja ia gegabah, ia bisa kehilangan nyawanya.
Bunda Merry menatap parang yang di gunakan William, banyak noda darah di sana. Ia tahu kalau hari ini, William tidak membunuh satu korban saja.
__ADS_1
" Jadi begitu semakin hari ia semakin tidak terkendali" gumam Bunda Merry.
William menghentikan serangannya, dengan tertawa terbahak bahak ia meninggalkan kakaknya. Kini Bunda Merry yang tercengang melihat kelakuan adiknya.
" Apa maksudnya itu?"
**
Di sisi lain.
Irabella masih duduk diam di tempatnya, Sean berkali kali berbicara padanya tapi ia tidak mau menjawab kata kata Sean. Sedangkan Vita, gadis itu sibuk mengintip Sean dan Bella dari balik ilalang. Vita tidak menggubris, apapun yang ia lakukan agar adiknya menghentikan aksinya.
Hujan deras masih mengguyur pulau dan sekitarnya namun Dimas dan yang lainnya rela hujan hujanan, tidak ada tempat berlindung kecuali di bawah pohon yang usianya sudah puluhan tahun.
Dimas dan Shanaya berada di bawah pohon, namun bernaung di bawah pohon tidak ada gunanya sebab tubuh mereka masih basah kuyup. Hujan deras jatuh membasahi mereka.
" Sebenarnya untuk apa kita di sini?" tanya Shanaya.
" Kita di sini saja untuk sementara, percayakan gadis itu pada Sean" jawab Dimas.
" Baik"
Berapa lama menunggu, mata Dimas menangkap dua orang sedang berlari ke arahnya.
" Fitri, Gilang" gumam Dimas.
Shanaya mendengar suara Dimas, ia juga melihat ke arah dua rekannya.
" Dimana Nanda?" tanya Shanaya.
" Mereka sudah mati. Nanda, Joy dan Agra" Jawab Gilang, ia sibuk mengatur nafasnya.
" Apa" Shanaya kaget bukan kepalang. Secepat ini, mereka kehilangan rekan rekannya.
" Tapi bahaya, si tua Bangka itu mengejar kami" kata Fitri.
" Siapa si tua Bangka?" tanya Shanaya.
" Ayah Bella" jawab Fitri.
Dimas menatap mereka dengan intens, pak polisi itu segera tahu apa yang sudah terjadi. Nanda sudah mati dan dua lainnya yang di sebutkan Fitri saat Dimas meneleponnya. Dimas menghela nafas, ia ingin menangis sekarang tapi ia ia harus menahan gejolak perasaannya. Tidak ada waktu untuk menangisi kematian rekan rekannya saat nyawanya dan nyawa rekan rekannya yang masih hidup juga berada di ujung tanduk. Kini yang ada hanya perasaan rasa bersalah, ia sudah membuat kesalahan besar karena mengisinkan anak anak remaja ini ikut bersamanya.
Pak polisi itu menutup mata, ia menarik nafas berkali kali lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia coba menenangkan diri.
Satu menit ia melakukannya, ia kemudian membuka mata kemudian ia menangkap kehadiran lain mendekati mereka.
Seorang kakek kakek.
__ADS_1
Dimas memutar bola matanya, mencoba mencari tahu siapa sosok itu.
" Apa orang itu?" kata Shanaya, matanya menangkap kehadiran seorang pria sedang berjalan ke arah mereka sambil membawa parang panjang.
Spontan Gilang dan Fitri menoleh ke belakang.
" Orang itu, orang itu yang membunuh Nanda" teriak Fitri. Gadis itu menggigil ketakutan.
" Ayo kita lari" Fitri menangis.
" Pergi kalian, keberuntungan tidak memihak pada kita" kata Dimas mendekati mereka.
Pak polisi itu memegang tangan Shanaya.
" Pergi kau bawa anak anak ini, selamatkan mereka. Aku yang akan menghadapi orang itu"
" Tapi"
" Tidak ada tapi tapian, yang lebih penting sekarang kau harus menyelamatkan anak anak ini. Kita sudah kehilangan Denal dan Nanda jangan sampai hal itu terjadi pada mereka, percaya padaku aku akan kembali pada kalian" kata Dimas
" Jika kita saja kewalahan menghadapi Bella apalagi orang ini. Jika Bella adalah tornado maka orang ini adalah kiamat" sambungnya.
Shanaya mendengarkan perkataan Dimas, mereka semuanya di landa kecemasan, mereka semuanya di landa kepanikan dan rasa takut dan juga mereka di hantui rasa bersalah karena kehilangan rekan rekannya.
" Ayo" ajak Shanaya.
Shanaya memandang bergantian ke arah Vita dan Sean berharap kedua anak itu mengikutinya.
***
" Auuuhhh aaauhhhh" Sean menjerit kesakitan saat kaki kuat Bella menendangnya alhasil pria itu terjungkal ke belakang.
" Ayah, hentikan" Vita menghadang ayahnya.
" Ooooh putriku, mengapa kau membela mereka" kata William.
" Ayah jangan lakukan ini, mereka tidak bersalah"
" Aku tidak peduli bersalah atau tidak, aku tetap akan membunuh mereka" kata William dengan sangar tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan, ia sangat senang membunuh lagi.
Vita melirik Sean, adiknya masih menendang Sean berulang ulang kali. Dengan tangan yang masih terikat, Bella masih bisa mengeluarkan semua kekuatannya.
" Jangan Ayah" kata Vita lagi. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Di lain sisi ia harus menghentikan ayahnya sedangkan di sisi lain ia juga harus menghentikan adiknya.
" Aku mohon" Vita memohon. Gadis itu segera bersujud di kaki ayahnya, dengan buliran air mata ia mencium kaki ayahnya.
Vita menangis dengan pilu. Ia tidak bisa membedakan perasaanya, apakah ini perasaan rindu kepada ayahnya karena sekian lama tidak bertemu ataukah perasaan marah yang berkecamuk, tidak bisa menerima takdir kalau ayahnya di takdirkan menjadi seorang pembunuh.
__ADS_1
Vita menangis tersedu sedu di bawah kaki ayahnya, tapi ayahnya itu bukanlah orang yang memiliki rasa simpati. Rasa simpati dan empati pada orang lain sudah tidak ada di dalam dirinya, puluhan tahun menjadi seorang pembunuh ia sudah tidak memiliki perasaan layaknya manusia normal pada umumnya. Ia hampir menyerupai iblis.
Tanpa rasa kasihan, si tua Bangka itu menendang dada putrinya alhasil Vita tidak sadarkan diri.