
Selama Tiga jam, Vita melakukan operasi plastik. Hanya Dokter Mika yang melakukanmya, sungguh hebat bukan? seorang Dokter muda yang cukup berbakat bisa melakukan operasi sendirian tanpa bantuan orang lain tapi itulah Dokter Mika.
Fitri dan Bunda Merry menunggu dengan sabar di lorong Rumah sakit. Menunggu perubahan Vita. Setelah tiga jam, operasi selesai. Dokter Mika keluar dari ruang operasi, wajahnya berbinar binar ia yakin hasilnya pasti akan memuaskan.
" Bagaimana operasinya Dok?" tanya Bunda Merry.
" Semuanya akan baik baik saja. Kalian pasti sangat bangga, tapi menunggu waktu satu Minggu untuk membuka perbannya. Jadi bersabarlah sedikit. Aku akan pergi memanggil suster" ucap Dokter Mika kemudian beranjak dari tempat itu.
Sepuluh menit.
Dokter Mika dan dua orang suster datang. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang operasi lalu membawa memindahkan Vita yang masih di bawah pengaruh obat bius ke kamar lain.
Bunda Merry memandang Vita penuh harap. Ia tak henti hentinya berdoa dalam hati, semoga di dalam keadaan ini Vita bisa menjalani hidupnya dengan normal. Jauh dari bayang bayang masa lalu.
Sesampainya di dalam kamar yang sudah di sediakan. Fitri menggenggam tangan Vita penuh haru, sahabat yang paling di sayanginya itu kini berjuang untuk berubah menjadi pribadi lebih baik. Mudah mudahan usahanya membuahkan hasil yang terbaik.
Satu Minggu kemudian.
Tiba waktunya, perban di wajah Vita di buka.
Satu menit, dua menit, tiga menit...lima menit.
Fitri tercengang melihat wajah baru sahabatnya. Sempurna, hasil operasi plastiknya sangat sempurna. Tidak ada celah di sana, benar benar berubah dari bentuk aslinya. Kini tidak ada yang bisa mengenali Vita kecuali dia, Bunda Merry dan Dokter Mika.
Mahakarya Dokter Mika sangat luar biasa. Patut di acungi jempol, tidak sia sia wanita itu sampai menuntun ilmu kedokteran sampai ke negeri ginseng. Tidak mengecewakan.
Vita tersenyum. Ia sudah bisa mengeluarkan senyum terbaiknya, matanya menyorotkan rasa terimah kasih yang amat besar.
Bunda Merry melangkah mendekati Vita, dengan lembut dan penuh kasih sayang ia mengelus kepala Vita.
__ADS_1
" Apa kau bahagia sekarang, nak" katanya keibuan.
Dokter Mika mengambil cermin, ia membiarkan Vita melihat wajahnya yang sekarang.
Vita mematut wajahnya di depan cermin, ia menatap bangga wajahnya yang baru. Ia tidak menyesal sekarang, ia sudah berubah.
Vita mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Bunda Merry.
Reflek gadis itu memeluk Ibu angkatnya dengan haru. Bunda Merry benar benar membawa perubahan besar di dalam hidupnya.
Tiga minggu kemudian.
Mereka bertiga pulang ke Indonesia, Vita akan menjalani hidupnya seperti anak anak lainnya bersekolah, bermain, bercengkeramah dan lain sebagainya.
Tapi Fitri bingung oleh keputusan Vita dan Bunda Merry. Vita yang notabenenya sudah memperoleh ijasah Smp, harus mengulang kembali di kelas tiga Smp.
" Bukankah, kau sudah tamat SMP. Kenapa kau kembali jadi siswa SMP" tanya Fitri kemudian.
Fitri mengangguk angguk. Ia paham sekarang.
Tidak hanya mengubah wajah tapi identitas yang sebenarnya juga telah di ubah.
Di kelas tiga SMP. Vita hidup layaknya anak anak pada umumnya, ia berusaha melupakan ayahnya, ia berusaha melupakan keluarganya dan ia berusaha melupakan kalau dirinya adalah seorang pembunuh. Saat ini ia mendapatkan dirinya yang baru, dirinya yang siap menyambut masa depan penuh warna yang cerah.
Tapi satu hal yang pasti, seujung kuku pun ia tidak bisa melupakan Sean. Ia adalah fans berat pria itu, ia adalah pemuja pria itu. Ia akan datang kembali menggapai masa lalunya yang satu ini.
Di kelas tiga SMP. Vita dan Bunda Merry pindah ke kota J***, di mana Vita berasal. Berada di kota itu membuat masa lalunya kembali muncul namun dengan penuh perhatian wanita paruh baya itu yang penuh dengan kasih sayang berusaha membuat Vita agar bisa melupakan hal hal pahit di kota ini. Tujuan mereka datang ke sini karena Sean, Bunda Merry ingin Vita kembali kepada pria yang di cintainya.
Di kota ini, Ia bersekolah di SMP Cenderawasih. Di sanalah ia bertemu dengan Jasmine. Gadis kaya yang sombongnya minta ampun, gadis kelas atas yang pilih pilih teman dan gadis konglomerat yang suka menghina orang lain.
__ADS_1
Jasmine yang anak emas di sekolahnya memiliki segala hal yang diinginkan para gadis gadis zaman modern kekayaan, kecantikan, kepintaran, kepopuleran adalah hal yang ia dapatkan sejak lahir. Ia terlahir untuk di puja puja dan ia juga terlahir sebagai seorang Dewi.
Tapi entah kenapa, Vita yang belum sebulan masuk di kelasnya. Bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan Jasmine, mungkin karena ia anak Bunda Merry. Wanita tanpa suami yang kaya raya. Bunda Merry dapat mempengaruhi segala inti kehidupannya.
Berada kembali di kotanya membuatnya dengan mudah mencari informasi tentang Sean. Ternyata Sean tidaklah pergi dari kota ini, pria pujaannya itu bersekolah di SMA Rajawali tidak jauh jauh amat di mana ia bersekolah.
Vita bukanlah anak yang pintar, ia kalah jauh dari Jasmine dari segala hal. Ia hanya mendapatkan nilai yang bagus jika Jasmine bersedia untuk membantunya jika tidak maka nilainya akan anjlok di bawah teman temannya.
Memiliki tekad yang kuat untuk masuk di SMA Rajawali. Ia berjuang sekuat tenaga, ia rajin masuk sekolah, ia rajin mengikuti les privat dan ia rajin kerja kelompok dengan Jasmine. Itu semuanya di lakukan untuk bisa dekat dekat dengan Sean, ia harus berada di sisi pria itu lagi.
Keberuntungan ada di pihaknya, dari ratusan siswa baru yang di terima di SMA Rajawali. Ia memperoleh rangking 16 membuatnya masuk ke dalam kelas unggulan di SMA itu. Suatu kebanggaan pada dirinya sendiri dan juga untuk Bunda Merry. Ibu angkatnya sangat bangga dengan pencapaiannya kali ini, usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil.
Tapi seiring berjalannya waktu, ia harus menelan pil pahit. Keinginan besar untuk kembali ke sisi Sean semuanya sirna saat ia harus menerima kenyataan kalau pria yang di pujanya dan sahabatnya saling mencintai.
Apakah itu sakit?
Yaa.
Inikah namanya sakit tapi tak berdarah!
Hatinya hancur tertusuk ratusan tombak. Jantungnya sesak, jadi begini rasa sakit yang sesungguhnya. Ia menepuk nepuk dadanya berulang kali, mencoba menghapus rasa sakit yang memenuhi rongga dadanya. Tidak hilang, dadanya malah bertambah sakit.
Di malam yang penuh dingin di hari kematian Rara. Vita memegang kepalanya kuat kuat, rasa sakit memenuhi sel Sel otaknya. Ia harus mengendalikan dirinya, kalau tidak ia akan jadi dirinya yang dulu, diri yang penuh dengan darah dan penyesalan.
Hati dan otaknya bertarung. Mencoba meraih kemenangan, siapakah yang akan keluar sebagai pemenang.
Apakah ia harus memilih Sean?
Apakah ia harus memilih Bunda Merry?
__ADS_1
Berapa menit bergulat dengan dirinya sendiri. Vita mendengarkan kata hatinya yang paling dalam.
Ia harus memilih Bunda Merry.