Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Maafkan Aku.


__ADS_3

Sesampainya di pintu gerbang sekolah, Sean turun dari mobil. Pria itu menatap intens gedung sekolah yang hampir satu bulan ini di tinggalkannya.


" Aku kembali" gumamnya.


Sopirnya membantunya membawakan barang barangnya ke dalam asrama.


" Terimah kasih" katanya saat sopirnya pamit untuk pulang.


Sean menyimpan kopernya di sembarang tempat lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Terlalu banyak hal melelahkan yang ia lewati membuat wajahnya sayu dan tidak bersemangat.


Ia teringat Vita, setiap teringat Vita hatinya selalu di terpa rasa bersalah dan penyesalan andaikan malam itu ia berjaga jaga dengan baik pastilah Shanaya tidak menembak kakinya. Ia dapat membuat Vita melarikan diri. Tapi sayangnya apa boleh buat kini Vitanya sudah ada di penjara dan sementara ia tidak bisa melakukan apa apa.


Pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyesali kelemahan dirinya berkali kali.


" Andaikan malam itu aku tidak lemah pastilah Vita masih bisa merasakan udara segar hari ini" Sean memukul mukul kepalanya berusaha melapangkan dada atas apa yang menimpa gadis yang di cintainya itu.


Ia teringat ayahnya, pria itu mengumpati ayahnya berkali kali. Andaikan ayahnya tidak mengurungnya di dalam kamar rumah sakit pastilah ia bisa memberikan bantuan walaupun bantuan kecil kepada Vita.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa melakukan apa apa lagi. Kini Vita sudah ada di penjara, menunggu waktu 20 tahun untuk merasakan kebebasan kembali.


Sean mengambil ponselnya yang sudah beberapa hari ia non aktifkan. Ia tidak peduli keluarga lain atau teman temannya mencarinya, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah rasa penyesalan terhadap Vita.


Puluhan panggilan tak terjawab terpampang di layar ponselnya. Ada dari Nanda, Gilang, Dewi, Diana, Niel, Yolanda dan Jasmine. Dengan malas ia meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia tidak memiliki semangat meladeni teman temannya satu per satu.


Pria itu teringat Jasmine. Muncul keinginan untuk memutuskan gadis itu, tidak mungkin ia masih bersama dengan Jasmine sementara hatinya ada sepenuhnya untuk Vita sama saja ia membuat Jasmine menderita dan membuat gadis itu mengharapkan apa yang tidak bisa di harapkan. Sean mencari cari cara bagaimana caranya ia memutuskan Jasmine tanpa menimbulkan kesalahpahaman.


" Apa yang harus aku katakan yah" Sean mengguling guling tubuhnya di atas kasur.


Otak Sean berpikir dengan keras. Kata kata apa yang harus ia keluarkan pada gadis itu.


" Apa yang kau pikirkan?" suara indah menyapanya.


Sean tersentak mendengar suara barusan. Secepat kilat ia menoleh ke sumber suara, di depan pintu seorang princess berdiri. Siapa lagi kalau bukan Jasmine, pacarnya saat ini.


"Sudah lama di situ" tegur Sean salah tingkah.

__ADS_1


" Barusan" balas Jasmine.


" Aku meneleponmu berkali kali, kenapa tidak dia angkat?" sambungnya.


" Aku terlalu sibuk jadi lupa kalau ponselku non aktif" Sean beralasan.


" Kau tidak mengisinkanku masuk" ucap Jasmine.


" Ooohhh. Silahkan masuk" Sean semakin salah tingkah, ia membiarkan gadis itu terlalu lama berdiri di depan pintu.


" Kau aneh hari ini" ujar gadis itu sambil melangkah ke kursi Sean.


" Aneh apanya? aku baik baik saja kok" kata pria itu.


" Kau pikir aku tidak tahu, kau berubah sejak Vita ada"


Sean kaget tapi ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


" Aku benarkan" seloroh gadis itu saat bisa membaca pergerakan Sean.


Pendapat Jasmine tidak mungkin salah. Ia sangat tahu kalau pria itu sudah banyak berubah.


" Dari awal kau memang tidak mencintaiku" ujar Jasmine.


Lagi dan lagi Sean terkaget kaget. Gadis itu sudah tahu.


" Aku bukan gadis cengeng kalau putus denganmu akan menangis atau memohon mohon. Aku juga tidak mau kalau kita masih pacaran sedangkan kau tidak mencintaiku, sejak awal kau memang tidak mencintaiku tapi aku tidak tahu alasannya kenapa waktu itu kau bahagia sekali denganku mungkin karena kau melihat aku memiliki banyak kesamaan dengan Vita. Jadi kau bisa membayar rasa rindumu pada Vita lewat diriku, jika kau bersama denganku kau berkhayal sedang bersama dengan Vita" jelas Jasmine.


" Kita putus saja deh. Aku tidak suka pria yang mempermainkan ku " sambungnya lalu berdiri dari kursinya ingin keluar dari sana.


Sebelum melewati pintu, pria itu menahan tangan Jasmine.


" Kau kecewa?" tanya Sean. Tatapannya dalam dan penuh makna.


" Setiap gadis yang hatinya di permainkan pasti merasakan hal itu" jawab Jasmine.

__ADS_1


" Maafkan aku. Aku tidak sengaja mengecewakanmu"


Tanpa menjawab kata kata Sean, gadis itu menghentakkan tangan Sean dengan kasar lalu pergi dari sana.


Sean hanya berdiri mematung melihat kepergian Jasmine.


Sesampainya di kamarnya.


Gadis itu melompat ke atas tempat tidur, ia sangat kesal berani beraninya cinta pertamanya mempermainkannya.


" Ciiiiihhhh. Andaikan sejak awal aku tahu kalau dia tidak mencintaiku, saat itu aku pasti menolaknya mati matian" katanya sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua lututnya.


" Aku tidak boleh menangis" Jasmine berusaha menguatkan dirinya agar tidak terbawa perasaan.


Berapa lama gadis itu mencoba mengendalikan emosinya.


Setelah berhasil, ia mengangkat wajahnya. Jasmine meraih ponselnya lalu bermain game. Tapi hanya sebentar saja ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Kekesalan masih ada di otaknya.


Gadis itu teringat Bunga sahabat baiknya, ia sangat tidak menyangka kalau ternyata Bunga adalah Vita. Setiap mengingat teman baiknya itu, badannya selalu gemetaran ternyata selama ini ia hidup bersama dengan seorang pembunuh. Seharusnya sejak awal ia sudah sadar siapa Bunga sesungguhnya teringat hari itu waktu di mana Bunga mengeluarkan tatapan mematikan saat Jasmine menyinggungnya.


" Untung, dia tidak membunuhku" gumamnya gemetaran. Vita punya alasan kenapa ia bisa membunuhnya itu karena ia berpacaran dengan Sean tanpa sengaja ia menyakiti hati Vita.


Karena terlalu terbawa emosi mengetahui Bunga yang sesungguhnya, gadis itu menangis. Saat ini ia mengalami penyesalan dua kali, Bunga mengecewakannya dan Sean juga.


Jasmine menangis tersedu sedu di dalam kamarnya. Ia sangat lelah, bukan lelah secara fisik namun psikisnya tidak kuat menahan masalah yang menderanya. Inilah akibatnya karena orang tuanya selalu memanjakannya.


Dada gadis itu naik turun menahan kekesalan yang datang. Ia terlalu kecewa, ia ingin marah, ia ingin mengamuk tapi pada siapa ia harus melampiaskannya. Ia seorang diri di kamar itu, dan ia bukan tipe gadis yang menjadikan objek di sekitarnya menjadi tempat pelampiasan kemarahan. Alhasil ia hanya menangis dan menangis.


Tanpa sadar, seseorang melangkah dengan pelan masuk ke kamarnya lalu memeluknya dengan erat.


Sean.


" Kau marah yah. Maafkan aku, aku akan menjagamu dengan baik" katanya lembut.


Tak menjawab perkataan pria itu, Jasmine menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


Sean membelai kepala Jasmine penuh perhatian, ia merasah bersalah terhadap gadis itu.


__ADS_2