Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Gua


__ADS_3

Di suatu tempat yang tersembunyi Dimas dan rekan rekannya ngos ngosan. Setelah berpura pura meneguk kopi dan pura pura pingsan mereka segera melarikan diri ke tempat ini saat Nyonya Shiren tidak ada di sana. Ketujuh orang itu kecuali Gilang hanya mencium kopi buatan Nyonya Shireen, tidak sampai masuk ke dalam perut mereka.


Tapi lain halnya dengan Gilang, pria bodoh itu malah menghabiskan kopi buatan Nyonya Shireen alhasil ia tidak sadarkan diri, untung ada keenam rekannya yang membawanya dari sana. Saat Nyonya Shireen membuat kopi tersebut, Dimas sudah mengkode rekan rekannya untuk berpura pura meminumnya, hanya Gilang saja yang tidak mengerti kode dari Dimas.


" Dalam keadaan ini, kita harus berhati hati. Kita tidak tahu apakah orang yang terlihat baik, benar benar baik. Jangan bersikap gegabah" jelas Dimas.


Sebelum kedatangan mereka ke pulau ini, Dimas dan Denal memasukkan sebuah pisau kecil ke dalam sepatunya dan saat Nyonya Shireen mengikatnya, ia mengembangkan perutnya agar ikatannya longgar. Hal ini ia pelajari saat menempuh pendidikan di kepolisian.


" Apa kita akan bermalam di sini?" tanya Sean.


" Yah. kita di sini saja yah, matahari sudah mulai turun, di sini cocok di jadikan tempat bersembunyi" jawab Dimas.


Para pria yang ada di situ segera mengeluarkan tenda kecil yang mereka bawa dari kota dan para perempuan segera membuat makan malam.


Setelah selesai makan malam, mereka berbincang bincang.


" Pada awalnya, aku tidak curiga pada wanita itu tapi sejak wanita itu bercerita aku mulai curiga kalau dia bukankah wanita yang baik terbukti ia mengatakan kalau dia akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya dan di akhir ceritanya dia mengatakan kalau anaknya Irabella sangat suka membunuh orang lain" jelas Shanaya.


" Apa menurut kalian, Nyonya Shireen tidak pernah bertemu dengan orang lain di sini sebelum bertemu dengan kita. Aku yakin kalau ia bertemu dengan lima orang suruhan Adik iparnya?" kata Denal.


" Lalu menurut kalian, siapa pemilik nomor baru yang masuk ke ponsel Nyonya Elis?" sambungnya.


" Entahlah. Tapi mungkin ada orang lain di pulau ini selain Nyonya Shireen dan Irabella" kata Nanda mengemukakan pendapatnya.


" Tujuan kita datang ke sini untuk mencari Irabella dan membongkar semua kejahatannya. Kita tidak tahu siapa itu Irabella dan bagaimana wajahnya, kita hanya tahu kalau ia putri Nyonya Shireen sekaligus adik tiri dari Vita. Dari penjelasan Nyonya Shireen tadi kalau Irabella memiliki hobi membunuh orang lain, aku yakin kalau dialah pembunuh sebenarnya di SMA Rajawali walaupun Nyonya Shireen tidak memihak pada kita tapi aku yakin kalau wanita itu tidak berbohong dalam hal ini" jelas Dimas.


" Lalu apa yang ingin kau lakukan?" tanya Shanaya.


" Malam hari adalah waktu yang tepat untuk mencari si penjahat dan malam ini ada beberapa dari kita yang akan melakukan pencarian terhadap Irabella dan membongkar sedikit demi sedikit kejahatannya" kata Dimas.

__ADS_1


" Tapi tentu saja kita sangat berhati hati karena sudah pasti Irabella tidak akan segan segan membunuh kita. Dari penjelasan ibunya sudah pasti ia pembunuh berdarah dingin" sambungnya.


" Baiklah kalau begitu. Aku akan ikut" tawar Sean.


" Yah. Kali ini aku dan Sean yang pertama kali melakukan tugas ini, kalian berlima tetap tinggal di dalam tenda" ucap Dimas.


Kelima rekan rekannya setuju. Tugas pertama akan di lakukan oleh Sean dan Dimas.


Dua puluh menit kedua pria itu bersiap siap menyusuri pulau itu, terdengar bodoh memang menyusuri sebuah pulau hanya dua orang tapi Dimas dan Sean bukanlah orang bodoh. Mereka berdua meyakini kalau titik titik mencurigakan tidaklah jauh dari lokasi goa itu.


Dua buah pistol tersimpan rapi di dalam saku mantel ketua OSIS SMA Rajawali itu begitupun dengan orang terhormat di ranah kepolisian itu. Mereka berdua menyimpan rapat rapat senjata yang akan mereka gunakan untuk menyelamatkan diri.


Angin malam yang dingin menyertai langkah mereka untuk mengumpulkan bukti pembunuhan yang ada di SMA Rajawali. Mereka meyakini kalau pulau ini menyimpan semua rahasia kejahatan manusia tak punya hati yang menewaskan beberapa siswa.


" Pertama kali, kita akan mendekati gua itu. Kita masuk ke sana dan mencari bukti bukti yang terkait dengan keluarga Farhana dan Irabella. Tadi aku sempat memperhatikan gua itu, tempat itu lumayan luas" ujar Dimas.


" Aku ikut saja keputusanmu karena Bapak lebih berpengalaman di dalam hal ini" balas Sean.


Membutuhkan waktu 45 menit akhirnya mereka tiba di sana.


Dimas dan Sean bersembunyi di balik rerimbunan, mata mereka nyalang memperhatikan gua itu. Cahaya bulan membantu penglihatan mereka di malam hari.


" Ini menguntungkan cahaya bulan semakin terang" kata Dimas.


Rupanya mempelai matahari itu mengerti situasi Sean dan Dimas.


" Pici, tajamkan penciumanmu" kata Dimas.


Pici melangkah keluar dari dalam rerimbunan, anjing berbulu cokelat itu mendekati gua tersebut. Ia mengendus sana sini lalu masuk ke dalam gua. Kemudian berselang lima menit, anjing itu keluar dari sana mendekati Sean dan Dimas. Tahu apa yang di maksud hewan peliharaannya Dimas mengajak Sean untuk masuk ke sana. Sean mengikut dari belakang, kemudian mereka berdua diikuti oleh pici masuk ke dalam gua itu.

__ADS_1


Dimas dan Sean menyalakan senternya, gua itu sangat gelap tidak ada penerangan di sana sama sekali.


" Aku yakin wanita itu tidak ada di sini" kata Dimas saat ia mengarahkan senternya lalu melihat ada beberapa lilin di dinding yang tidak menyala.


Kedua pria itu segera membongkar tempat itu untuk mencari hal yang berkaitan dengan Irabella dan keluarganya.


" Tidak ada apa apa" kata Sean.


Dimas menyorotkan senternya ke dinding batu yang ada di sana. Sejak pertama kali masuk ke gua ini, ia selalu memperhatikan objek yang satu ini. Pak polisi itu yakin kalau ada pintu rahasia di sini.


Tangan Dimas terangkat memegang dinding batu itu, bukan!!! ini bukan batu ini adalah pintu kayu yang di buat menyerupai batu. Kemudian pria itu mendorongnya alhasil pintu itu terbuka.


" Ke sini" kata Dimas.


Sean dan pici mengikut dari belakang.


" Perhatikan sekelilingmu"


Sean menyorotkan senternya tapi di kanan kirinya yang ada hanya dinding batu yang di buat oleh alam.


Dimas menyorotkan senternya ke depan.


" Panjang" kata Dimas.


Sepuluh menit berada di dalam lorong, mereka berdua tiba di ruangan lain.


Ruangan itu lumayan luas. Ada sungai di sini dan bulan dapat di lihat di atas sana.


Dimas memperhatikan sungai tersebut, air sungai itu masih mengalir di dalam gua.

__ADS_1


" Kita akan menyusuri sungai ini yah" ajak Dimas. Lalu kedua pria itu mengikuti ke mana arah sungai tersebut.


Dimas segera menggendong anjingnya karena ia tahu kalau pici tidak suka air. Kepandaiannya akan hilang jika air yang dingin menyentuh kulitnya.


__ADS_2