Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Pertemuan kakak adik


__ADS_3

Dimas mengintip di balik batu, ada tiga orang yang berjaga di sana semuanya bertubuh kekar dan kuat.


Dimas memperhatikan tuas yang ada di belakangnya serta katrol yang berukuran raksasa.


" Jadi benda itu yang membawa kita ke atas sana?" tanya Dimas.


" Yah"?


" Pici, lakukan tugasmu?"


Anjing berbulu cokelat itu mengibas ngibaskan ekornya tahu apa yang di maksud oleh tuannya.


Pici mendekati ketiga orang itu lalu mengeluarkan bunyi gong gongannya yang melengking.


" gong gong gong"


Ketiga orang itu melihat ke asal suara.


" Hei siapa anjing ini. Aku baru melihatnya" tanya yang satunya.


" Entahlah " timpal yang lain.


Pici menunjukkan taringnya, ia melompat ke arah ketiganya hendak menggigitnya.


" Sialan" kata si botak. Ia sangat marah melihat anjing itu melukai kakinya.


Dengan perasaan yang menggebu gebu, si botak itu berlari mengejar Pici. Namun yang lainnya masih tak bergeming di tempatnya.


Dimas mengambil batu lalu melemparkannya ke arah lain, alhasil kedua penjaga itu meninggalkan area tersebut ingin tahu apa yang terdengar di sana.


Dengan sangat hati hati, Dimas dan rekan rekannya melangkah mendekati tuas itu.


Sreekk. Bunyi tuas yang sudah puluhan tahun berada di sana lalu sebuah benda terangkat dari dalam tanah.


" Ayo naik" ajak Dimas.


" Cepat jangan sampai kita ketahuan"


Shanaya memperhatikan benda lain yang terlihatmmmmm, ada benda bulat berbentuk gong.


" Apa itu gong benaran yah?" tanya Shanaya dalam hati.


Mereka memperhatikan batu batu karst yang ada di sampingnya, sangat mengerikan tidak ada yang hidup jika ada yang jatuh dari ketinggian 50 meter ini.


Sean meremas jarinya saat merasakan kalau katrol ini berjalan lambat.

__ADS_1


Tak menyangka, satu orang pengawal telah kembali.


" Sial" Dimas mengumpat dalam hati.


Refleks pengawal itu melihat ke atas. Sadar ada penyusup di tempatnya, ia segera mengambil sebuah pukulan yang terbuat dari besi.


Dengan sigap, Shanaya menarik pelatuknya. Wanita itu menembakkan dua peluru tepat di kepala pengawal itu. Hanya beberapa detik pengawal tersebut tersungkur bersimbah darah.


Mereka yang sedang naik ke atas menarik nafas lega. Tapi kelegaan mereka berubah menjadi mode waspada saat suara gemerincing terdengar di seluruh penjuru pulau itu.


Terlambat.


Pengawal yang sudah terbunuh itu terlebih dahulu memukul gong yang ada di bawah yang membuat pukulannya terhubung dengan benda benda lain yang di berada di pulau ini.


Dimas segera mengambil pistolnya dari saku bajunya begitupun dengan rekan lainnya sedangkan Pici berlari kencang ke arah mereka.


" Ayolah Pici"


Secepat kilat, anjing itu melompat ke arah mereka dan dengan sigap Dimas menangkap anjingnya.


" Hampir saja kau tertinggal" kata Dimas sambil mengelus anjing kesayangannya.


**


Bunyi gemerincing benda tersembunyi terdengar saat Irabella masih ada di gua dimana hewan peliharaan ibunya di tembak. Ia tersenyum simpul saat mendengar bunyi tersebut, baginya suara benda itu adalah suara suara yang mengantarkan kepada kematian. Ini kedua kalinya benda itu terdengar. Pertama kalinya saat kumpulan detektif hebat yang di pimpin oleh seorang wanita yang bernama Wydia memasuki sarangnya dan yang kedua kalinya barusan terdengar, ada lagi perkumpulan musuh yang masuk ke dalam sarangnya yang di pimpin oleh Dimas.


" Jadi mereka sudah naik yah. Apa mereka sudah mencapai tujuannya?"


Irabella berpikir kalau Dimas datang ke rumahnya untuk menyelamatkan Dokter Mika.


" Apa mereka berhasil membawa Dokter Mika. Tapi kalau rencana mereka berhasil pasti sudah beberapa orang terbunuh di sana" katanya mengambil kesimpulan.


***


" Pengawal, pengawal" Nyonya Shireen berteriak teriak saat mendengar suara barusan. Ia ketakutan sekarang, ia sangat takut jika putrinya tidak ada bersamanya.


" Pasti mereka datang untukku" katanya ketakutan.


" Mereka sadar kalau aku ingin mencelakainya"


Nyonya Shireen memanggil manggil pengawalnya.


" Ada apa Nyonya?" tanya seseorang yang datang dengan tergopoh gopoh.


" Mengapa kau masih bertanya, hah. Apa kau tidak dengar suara barusan?" bentaknya.

__ADS_1


" Maafkan aku Nyonya" kata pengawalnya merendah diri.


" Aku akan menjaga Nyonya"


****


Dokter Mika memandang ke luar jendela saat suara gemerincing itu terdengar. Ia tidak paham suara apa itu barusan, ia hanya menatap pepohonan di luar sana berharap ada yang datang menyelamatkannya.


Bunyi itu terdengar beberapa menit kemudian di gantikan suara sirine di saat itulah Dimas dan keempat rekannya tiba di atas sana.


Dimas memberitahukan Vita di mana lokasi Gilang dan Fitri. Dimas belum tahu seluk beluk pulau ini, jadi ia mengandalkan Vita.


" Aku juga baru datang ke sini. Tapi ikuti saja aku, mudah mudahan kita sampai di sana tepat waktu" .


Shanaya memperhatikan kompas yang ia bawa. Setahunya tenda yang mereka buat ada di arah selatan. Mereka berlima berlari lari menuju tenda di mana Gilang dan Fitri berada.


Tatkala Dimas dan keempat rekannya menuju lokasi Gilang, di saat itu juga Irabella berjalan menuju katrol.


Berapa lama berjalan, dari jauh ia melihat lima manusia sedang menuruni bukit. Irabella melihatnya dengan seksama, ada saudarinya di sana.


" Jadi kakak ada di pihak mereka" gumamnya.


Di waktu yang bersamaan, Vita juga melihat Irabella. Kini gadis itu tercengang melihat adiknya yang memegang sebuah revolver.


Vita menatap iba adik satu satunya yang ia miliki di dunia ini. Mereka sering bertemu dan bahkan pada saat Irabella sering di pojokan di sekolah Vita selalu ada membelanya tapi pada saat itu ia sama sekali tidak tahu jati diri Santy yang sebenarnya. Walaupun Santy tahu dan sangat tahu kalau mereka bersaudara adiknya tidak mengatakan apa apa, adiknya hanya melancarkan aksinya di sekolah tanpa mau membuka mulut kalau mereka bersaudara.


Dan pada hari ini, ini pertama kalinya ia bertemu dengan adiknya saat sadar kalau mereka bersaudara. Tapi pertemuan seorang adik kakak di luar sana di barengi dengan drama yang penuh kehangatan dan kasih sayang berbanding terbalik dengan dirinya, pertemuan dengan adiknya justru menghadirkan suasana yang mencekam.


Kemudian Vita mengeluarkan senyum terbaiknya, ia berharap Irabella bisa melihatnya. Dalam keadaan dan situasi apapun ia tetap mengasihi dan menyayangi adiknya walau mereka harus di pertemukan sebagai seorang musuh.


" Hei, apa yang kau lakukan. Cepatlah ke sini" tegur Sean saat ia melihat Vita tidak berpijak dari tempatnya.


Vita tidak menggubris Sean, ia hanya melihat ke depan dengan tatapan intens.


Sean mengikuti arah pandang Vita dan ia terkejut siapa yang ada dibawah sana.


Santy dengan penampilan yang berbeda.


" Jadi ini wujud dari Irabella?"


Tiba tiba otaknya mengulang mimpi yang pernah ia mimpikan.


Ia baru ingat sekarang, inilah gadis yang pernah muncul dalam mimpinya.


Kemudian sebuah pertemuan yang tidak pernah ingat mulai muncul satu per satu di dalam otaknya.

__ADS_1


" Jadi dia"


__ADS_2