Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Jurang


__ADS_3

Jasmine dan Yoona kini sudah sampai di daratan. Mereka akan di bawah ke suatu tempat yang mereka tidak tahu.


" Ke sini kalian" kata orang yang menculiknya dengan kasar.


Kedua gadis itu menurut, mereka berdua hanya diam tidak bisa melakukan perlawanan apapun.


Jasmine memperhatikan tempat itu.


" Tempat apa ini?" tanyanya dalam hati.


Berapa lama berjalan, mereka tiba di lokasi Bella dan yang lainnya. Kini Jasmine dan Yoona tercengang melihat siapa yang ada di sana.


Di sana ia melihat Sean dan Vita berbaring tak sadarkan diri namun hal itu tidak terlalu mencuri perhatian, yang lebih mencuri perhatian mereka adalah sosok lain yang ada di sana.


" Santy" gumam Jasmine.


Jasmine menganga melihatnya, ini pertama kalinya ia melihat Santy dengan penampilan macam ini.


" Sangat cantik" tanpa ia sadari sebuah pujian keluar dari mulutnya.


Lain halnya dengan Yoona, gadis itu hanya diam. Ia sibuk menatap Santy dengan perasaan yang takut, ia sudah tahu kalau gadis inilah pembunuh yang ada di SMA Rajawali.


Bella menoleh ke arah mereka sebuah senyuman keluar dari bibirnya.


" Akhirnya datang" ucapnya bangga.


Bella mendekati mereka, ikatan tangannya sudah terlepas.


" Akhirnya kalian datang aku sudah menunggu kalian sedari tadi" ujarnya sambil tersenyum.


" Bawa mereka ke rumah" perintahnya pada orang suruhannya.


" Siap bos"


Orang suruhannya itu mengikuti perintah bosnya.


Jasmine memandang Santy. Gadis itu segera paham betul mengapa bisa dia ada di sini.


" Jadi kau. Dasar cewek keparat" bentak Jasmine.


Plaaakkkk.

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat di wajah Jasmine.


Dengan kasar Bella menarik rambut Jasmine.


" Auuuhhhhh" Jasmine meringis menahan sakit.


" Kau masih berani bertingkah cewek murahan. Sekarang giliranmu" kata Bella dengan sinis.


" Lepaskan aku" kata Jasmine.


" Tidak akan. Kau akan sama seperti teman temanmu" ancam Bella lalu melepas rambut Jasmine dengan kasar dari tangannya.


" Bawa mereka. Kurung mereka di bawah gudang" perintah Bella lagi.


" Baik bos"


Kedua gadis itu akan di bawah ke rumah keluarga Bella yang ada di pulau itu. Rumah di mana Dokter Mika berada.


**


Dimas terjatuh ke bawah jurang setelah ia berhasil di pojokkan oleh William. Ia mengalami nasib yang sama seperti Anna terjatuh ke bawah jurang yang kedalamannya 50 meter dan untungnya ia masih hidup.


Dimas mengumpulkan semua tenaganya untuk duduk, semua tubuhnya di terpa rasa sakit. Kini ia merasakan rasa sakit yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata, setelah ia kehilangan telapak tangannya ia juga harus merasakan beberapa tulangnya patah dan retak.


Setelah ia berhasil membungkus tangannya, ia melihat ke sekitar tempat itu. Ia yakin kalau tempat ini lokasi rumah keluarga Bella. Tadi dengan susah payah ia naik ke atas bukit kini hanya serangan membabi buta dari William ia kembali ke bawah.


Dimas bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia butuh tenaga untuk menghadapi keluarga pembunuh itu dan ia tidak bisa menghubungi rekan rekannya yang ada di luar pulau karena ponselnya sudah hilang.


Ia harus mengumpulkan tenaganya terlebih dulu. Tapi butuh waktu berhari hari untuk melakukannya tapi hal itu tidak mungkin mengingat ia tidak bisa bertahan lama di pulau ini.


Pusing berpikir akhirnya Dimas hanya terduduk menyandarkan tubuh ke sebuah batang pohon. Ini lebih sulit dari perkiraannya.


Dimas teringat Shanaya, Fitri dan Gilang. Pak polisi itu berharap dalam hati semoga Shanaya segera membawa anak anak itu keluar dari pulau ini. Ia juga teringat Vita dan Sean, apa yang akan terjadi pada mereka berdua mengingat mereka masih ada di sana bersama dengan Bella dan bisa saja William kembali ke lokasi mereka. Ia juga teringat Nanda, hatinya perih saat teringat Nanda andaikan waktu itu ia tidak membiarkan Nanda ke tenda pasti anak itu masih hidup. Tapi apa boleh buat takdirnya memang mati di tempat ini.


Mengingat wajah Bella dan William membuat semangat dan keinginannya yang besar kembali muncul tapi sayangnya semangat dan keinginannya tidak di barengi dengan kondisi fisiknya pada saat ini. Berkali kali ia mencoba untuk berdiri, berkali kali ia juga jatuh. Kondisi tubuhnya sudah di ambang batas, ia tidak bisa memaksakan diri lagi.


***


" Jadi kau sosok guru yang membantu Bella saat melakukan aksi keji di sekolah. Dasar wanita ******, kau ini seorang guru kan seharusnya kau mengajarkan dan membimbing hal baik kepada ponakanku tapi kau malah mendukungnya melakukan kejahatan" marah Nyonya Elis.


" Mau bagaimana lagi uang memang lebih menyilaukan" balas Bu' Elda. Ia tersenyum kepada saudari William itu.

__ADS_1


" Lalu untuk apa kau kemari?" tanya Nyonya Elis.


" Aku datang untuk meminta uang" jawabnya.


" Apa"


" Uang"


" Dasar wanita ******. Apa uang haram yang kau terima dari Bella belum cukup?"


" Tentu saja. Tidak ada kata cukup kalau masalah uang. Berikan padaku" kata Bu' Elda sambil membuka telapak tangannya.


" Dengarkan aku yah, kalau kau berharap aku akan memberikan uang padamu buang harapanmu itu jauh jauh. Aku tidak pernah akan memberikan hasil jerih payahku kepada manusia laknat macam kau" ujar Nyonya Elis.


" Sialan kau" dengan kasar bu' Elda menyambar sebuah beling di atas meja lalu di hantamkannya pada wanita itu.


Dengan sigap Nyonya Elis menahan tangan bu' Elda.


" Dengarkan aku baik baik Elda yah. Farhana bersaudara bukanlah orang lemah, kami sejak masih kecil sudah di ajarkan ilmu bela diri. Jadi jangan bingung kalau adikku bisa menjadi pembunuh kelas kakap, kami lima bersaudara tapi hanya aku dan Merry yang memiliki otak yang waras selebihnya mereka semuanya gila. Jadi jangan memandang enteng ku Elda, dalam waktu tertentu aku bisa mengeluarkan ilmu beladiri ku" kata Nyonya Elis berkharisma.


Melihat ekspresi Nyonya Elis, bu' Elda ketakutan. Ia salah masuk ke sarang singa.


" Cciiiihhh" dengan marah ia ingin keluar dari rumah itu.


Tapi tangannya di pegang oleh Nyonya Elis.


" Mau ke mana kau?" tanya Nyonya Elis.


" Aku ingin pulang kalau kau tidak memberikan uang padaku" ucapnya.


" Jangan harap. Aku akan membawamu ke kantor polisi"


Mendengar akan hal itu bu' Elda berusaha melepaskan diri untuk kabur namun kekuatannya jauh di bawah Nyonya Elis.


Hanya sekali pukulan dari Nyonya Elis di daerah tengkuknya. Salah satu guru di SMA Rajawali itu kehilangan kesadarannya.


" Dasar mata duitan beraninya hanya meminta uang tapi hanya sekali tepukan ia tidak bisa melakukan apa apa" ejek Nyonya Elis lalu membawa orang itu ke kamar.


Ia membaringkan bu' Elda di atas kasur empuk miliknya. Ia menatap wajah Bu guru itu dengan seksama.


" Kayak kenal" gumamnya.

__ADS_1


" Apa kami pernah bertemu di masa lalu tapi di mana yah?" ucapnya bertanya tanya.


__ADS_2