Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Bertemu Nyonya Shiren.


__ADS_3

" Di sini terang" ujar Fitri.


Selama lima jam mereka berkelana di dalam hutan yang gelap kini mereka tiba di savana.


" Padang rumput lagi tapi di sini hanya terlihat satu bukit" kata Nanda.


" Yah. Kita istirahat dulu yah" ajak Shanaya. Ia meneguk sebotol air lalu memnbaringkan tubuhnya.


Di ikuti oleh rekan lainnya, mereka berbaring di sana.


Namun lain halnya dengan Gilang, entah kenapa pria itu berjalan jalan seorang diri ke sana ke mari.


Ia naik ke atas bukit yang ada di situ. Ia mengarahkan pandangannya ke sana sini dengan teliti.


Bau busuk.


Di sana ia melihat bangkai rusa. Pria itu mendekatinya kemudian memeriksanya dengan teliti. Tapi badannya langsun gemetar saat ia melihat bangkai lainnya bangkai seekor anjing yang baru di bunuh, darah segar mengelilinginya.


" Apa ini? pici " gumamnya.


" Ah bukan, warnanya beda. Bulunya juga berwarna cokelat tapi ada garis garis putih di lehernya"


Secepat kilat pria itu berlari. Ia melangkahkan kakinya sekuat tenaga lalu berteriak teriak kepada temannya bersamaan dengan seekor binatang buas melompat ke arahnya dengan sangar.


Saat tiba di pinggir bukit, ia melompat ke bawah kemudian di atas kepalanya ia mendengar bunyi peluru di bidikkan oleh salah satu rekannya yang ada di bawah.


" Aaaahhh" Gilang menjerit hampir saja ia di makan.


" Binatang apa itu?" tanya Fitri ketakutan.


" Jika di lihat dari bentuknya maka binatang itu persilangan antara singa dan harimau. Ia sengaja di ciptakan oleh manusia" Jelas Dimas.


" Pantasan bentuknya aneh" kata Sean.


" Apa tembakanmu tepat sasaran?" tanya Shanaya pada Denal.


" Meleset, aku salah perhitungan. Seharusnya aku menembak kepalanya namun malah kakinya yang terkena tembakan"


" Persiapkan diri kalian. Waktunya bergerak" perintah Dimas kepada rekannya.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan.


Mereka naik ke atas bukit, di sana darah hewan yang terluka itu terlihat. Pici melangkah dengan cepat sambil mengendus jejak darah itu.


" Kita ikuti darahnya yah" ajak Dimas.


" Aku takut. Apa hewan itu akan menyerang kita kembali?" tanya Fitri.


" Aku yakin sudah tidak lagi, hewan aneh itu pasti terluka parah. Ia tidak bisa berjalan dalam waktu yang lama, kalau kita mengikuti jejak ini. Ini bisa membawa kita ke tempat hewan itu tak berdaya" jelas Shanaya.


Hanya lima belas menit mereka berjalan, jejak darah itu sudah tidak kelihatan.

__ADS_1


" Angkat pistol kalian, perhatikan sekelilingmu" perintah Dimas.


Keenam rekannya segera mengambil pistolnya masing masing kemudian berjaga jaga.


" Ada apa pak?" tanya Nanda.


" Ini aneh, jejak darahnya menghilang di sini dengan kata lain ada yang menolong hewan itu. Seharusnya jika hewan itu tidak di tolong maka ia akan lemas tak berdaya di dekat dekat sini"


" Dan jika hal itu benar. Coba pikirkan apa hewan bisa menolong hewan dengan cara menghilangkan jejak darahnya?? pastilah manusia yang melakukannya" sambung Dimas.


Keenam rekannya kaget. Mereka mengedarkan pandangannya sana sini memperhatikan sekitarnya.


" Aaahhhh" jerit Sean, sebuah tali tambang menyeret kakinya. Pria itu tergantung di atas pohon dengan posisi terbalik.


Pici mengongong dengan suara yang keras ke atas pohon.


" Apaaaa" teriak Shanaya. Semuanya melihat ke atas pohon alangkah terkejutnya mereka saat di atas sana nampak seorang wanita dengan penampilan yang acak acakkan berdiri di atas ranting bersama dengan hewan yang entah apa namanya itu.


" Siapa?"


" Hahahahaahahahaha" wanita tertawa terbahak bahak.


" Dia gila. Apa dia nyonya Shiren" kata Dimas.


" Apa yang kalian lakukan di sini. Apa kalian ingin membawaku pulang" katanya masih di sertai tawa.


" Aku yakin itu dia pasti nyonya Shiren" ucap Shanaya.


" Ia jago memanjat pohon" kata Fitri.


" Hiks hiks hiks hiks" setelah tertawa wanita itu menangis. Ketujuh orang yang ada di situ hanya menganga melihat adegan demi adegan wanita itu.


" Semuanya jahat, mereka semuanya jahat menyiksa anakku" ujarnya.


Shanaya mendekati wanita itu kemudian memegang tangannya.


" Pergi kau, kau bukan anakku" kata nyonya Shiren mendorong Shanaya.


" Nyonya" sapa Shanaya.


" Nyonya sedang apa di sini?" sambungnya.


Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Shanaya. Ia hanya duduk menggigit kukunya.


" Dulu kukuku ini sangat cantik tapi sekarang tidak lagi. Anakku yang malang.... anakku" katanya.


" A...n...a...k....k...u..." Wanita itu bersenandung.


" Nyonya" sapa Shanaya lagi. Ia mendekat ke arah wanita itu lalu memberikannya sebuah roti.


Nyonya Shiren menatap roti itu sesaat kemudian mengambilnya lalu memakannya dengan lahap.

__ADS_1


" Siapa nama anak ibu?" tanya Shanaya mencoba berkomunikasi dengan wanita gila itu.


Tidak menjawab pertanyaan Shanaya, wanita itu hanya diam memakan rotinya.


Shanaya memperhatikan wajahnya.


" Mirip seseorang tapi siapa yah?" Shanaya menebak nebak.


" Apa Vita?? ah bukan, Vita memiliki wajah bulat telur sedangkan wanita ini wajahnya sangat bulat"


" Pergi kalian" bentak wanita itu. Kemudian ia berpaling ingin pergi dari tempat itu.


" Nyonya tunggu" kata Shanaya menggapai tangan nyonya Shiren.


" Pergi kalian dari sini kalau kalian masih ingin hidup"


Dimas mengangkat pistolnya kembali lalu mengarahkannya pada wanita itu.


" Siapa kau?? apa kau berpura pura gila?" tanya Dimas. Matanya menatap nyalang wanita itu.


Wanita itu mematung di tempatnya tapi hanya sebentar kemudian berbalik menatap mereka bertujuh. Kini Shanaya hanya bisa menganga melihatnya.


" Aku ini lebih tua darimu, tidak sopan kau menyebutku " kau kau" tapi ku maklumi karena ini pertama kalinya kita bertemu. Lain kali jangan di ulang lagi" ujar wanita itu.


" Apa kalian penjelajah atau detektif atau jangan jangan polisi. Kalau kalian membawa pistol itu artinya kalian bukan penjelajah karena pulau ini tidak memiliki cerita di luar sana kalau ada binatang buruan di sini. Ikut aku tapi sebelum itu angkat Mina dari atas, dia tidak berbahaya, ia temanku satu satunya di pulau ini" kata wanita itu lalu memutuskan tali tambang yang menggantung Sean.


Kini Sean harus menjerit, kedua tangannya terbentur ke tanah.


**


Jadi Mina nama hewan ini?" tanya Shanaya. Wanita itu mengajak rombongan Dimas ke suatu tempat.


" Yah"


" Mina nama orang. Mengapa di namai pada hewan?" tanya Shanaya lagi.


" Pertanyaanmu membuatku sedih wanita muda. Akan ku jelaskan nanti" jawab wanita itu.


" Ngomong ngomong. Hewan ini bentuknya aneh yah, tidak mirip bentuk bentuk hewan pada umumnya?" kini Fitri yang bertanya.


" Dia persilangan antara singa dan harimau. Ibunya seekor singa sedangkan ayahnya seekor harimau" jelas Nyonya Shiren.


Kini mereka tiba di sebuah gua.


" Silahkan masuk" ajaknya.


Mereka bertujuh memasuki gua itu. Awalnya semuanya terlihat acak acakan yang ada hanya sebuah tikar dan sarung yang usang tapi setelah mereka melewati pintu rahasia yang ada di gua itu semuanya terlihat bersih dan rapi.


" Silahkan duduk, cari saja tempat ternyaman bagi kalian. Ini pertama kalinya sejak empat tahun aku kedatangan tamu"


Dimas mengedarkan pandangannya sana sini. Tempat ini di tata sangat baik.

__ADS_1


__ADS_2