Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Dewi yang Sebenarnya


__ADS_3

Ketiga anggota OSIS itu membawa Fitri ke dalam ruangan kecil yang di tunjuk oleh Shanaya.


Kreeeekkkk.


Pintu terbuka.


Ruangannya gelap, hanya lampu temaram yang menerangi tempat itu. Dan di sana terdapat sebuah meja segi panjang yang di kelilingi tiga buah kursi.


Fitri di tempatkan di sebuah kursi tunggal berhadapan dengan dua kursi lainnya.


" Ikat dia" kata Shanaya sambil membuang sebuah tali tambang ke arah Gilang.


Pria itu menangkapnya lalu mengikat gadis berambut merah itu di atas kursi.


Kemudian Shanaya mengambil lakban untuk menutup mulut Fitri.


Setelah Fitri sudah di ikat dan mulutnya di lakban. Keempat orang itu keluar dari sana lalu duduk di sebuah ruangan bergaya kuno tapi bersih.


" Kelihatan tak terawat dari luar tapi di dalamnya bersih" puji Sean.


" Yah. Rumah Ini adalah milik nenek buyutku. Bangunan ini sudah berusia sembilan puluh tahun loh. Sekali kali aku datang ke sini untuk membersihkannya" jelas Shanaya.


" Tapi di luar kotor" ucap Nanda tanpa basa basi.


" Sengaja"


" Haahh" Ketiga pria itu kaget. Kenapa bisa?


" Bukankah Anda harus merawatnya sebagai kenang kenangan atas peninggalan yang berharga dari nenek anda. Walau di dalamnya bersih tidak ada gunanya kalau di luar terlihat kotor" tutur Gilang tidak mengerti.


" Kalian ingin tahu"


Ketiganya mengangguk.


" Karena aku sudah merencanakan sebelumnya. Sudah sangat lama aku ingin menangkap pembunuh di sekolah kalian tapi sayangnya selalu gagal. Jadi aku berpikir kalau aku harus mencari saksi hidup Vita yang kemungkinan sebagai pembunuh di SMA Rajawali untuk di interogasi di tempat ini. Saksi yang awalnya berbohong bisa berkata jujur di sini karena aura tempat ini sangat negatif" jelas Shanaya.


Ketiga pria itu lagi lagi kaget. Mulut mereka menganga mendengar penjelasan Shanaya.


" Anda sebenarnya siapa?" tanya Sean. Ia yakin kalau wanita di depannya bukanlah wanita sembarangan.


" Bukan siapa siapa" jawab Shanaya.


" Tidak mungkin. Dari perkataan anda tadi tentu anda bukanlah orang sembarangan pasti anda punya tujuan lain masuk di SMA Rajawali sebagai kepala asrama putri" ucap Sean meneliti.


Shanaya menhela nafas kuat kuat kemudian membuangnya.

__ADS_1


" Baiklah. Akan ku katakan, tapi apa kalian bisa menjaga rahasia?" tanya Shanaya.


Ketiganya mengangguk.


" Tadi sudah ku katakan aku bukanlah siapa siapa. Tapi nenek buyutku yang membangun rumah ini dulunya ia adalah detektif wanita handal. Ia membangun tempat ini untuk menginterogasi para penjahat. Dari sekian banyak dia berurusan dengan penjahat tidak ada yang lolos dari tempat ini. Mereka semuanya mengakui kejahatan mereka. Kemudian bakat nenekku itu menurun padaku, walaupun aku tidak memiliki isin resmi sebagai seorang detektif tapi aku sangat suka bergelut di ranah ini" Shanaya memperkenalkan dirinya lebih tepatnya bakatnya.


Nanda diam, setahunya seorang detektif tidak serta merta akan membuka identitas yang sebenarnya kepada orang yang baru di temuinya apalagi kepada seorang anak remaja yang emosinya belum stabil. Matanya menatap Shanaya dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada makna lain dari kata kata wanita di depannya ini, otaknya pria pintar itu berpikir keras tapi sayangnya ia tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri akhirnya ia mengambil kesimpulan kalau wanita di depannya ini adalah wanita yang penuh dengan rahasia.


" Tadi anda bilang kalau akan mencari saksi hidup Vita. Apa anda sengaja menjebak Fitri?" tanya Sean menebak.


Shanya tersenyum penuh arti.


" Anak pintar, rupanya kau bisa membaca pergerakanku yah" puji Shanaya takjub.


" Dimas benar. Kalau kalian bertiga anak anak jenius pantasan Dimas mengisinkan kalian bekerja sama dengannya" sambungnya.


" Bagaimana caranya anda bisa tahu Fitri kemudian menjebaknya?" tanya Gilang penasaran.


" Sudah ku bilangkan kalau aku punya bakat menjadi seorang detektif. Banyak cara yang di lakukan oleh detektif untuk membongkar kedok penjahat. Pertanyaanmu sangat bagus tapi aku tidak bisa menjawabnya karena itu rahasia jabatan" jawab Shanaya.


Nanda hanya diam menyimak pembicaraan rekan bicaranya. Tapi banyak pertanyaan yang muncul di otaknya tentang wanita berambut bob itu.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu.


" Akan ku buka" sambungnya lalu berdiri.


" Berhenti. Aku yang akan membukanya. Kau masih ceroboh anak muda, membuka pintu tanpa memeriksanya. Di dalam situasi saat ini kita tidak boleh gegabah. Kau harus belajar itu. Mengerti" kata Shanaya dengan menekankan kata terakhir.


Gilang diam. Ia duduk dengan malu malu.


" Siapa" teriak Shanaya.


" Ini kami" jawab seorang di balik pintu.


Shanaya langsun mengenali suara itu sebagai suara Denal.


Wanita itu membuka pintu. Dua orang polisi berdiri di depan pintu.


Dimas langsun melangkah ke dalam rumah dengan gayanya yang cool. Ia menenggelamkan kedua telapak tangannya ke dalam saku mantelnya.


" Apa dia lolos lagi?"


" Apa kau mengejekku" ucap Dimas saat Shanya menanyakan hal itu.

__ADS_1


" Jangan terlalu sensitif. Aku tidak menyinggungmu, apa salahnya kalau aku bertanya" Shanaya membela diri.


" Seharusnya hanya dengan melihatku kau sudah tahu jawaban atas pertanyaanmu sendiri. Kau memang sengaja mengejekku"


Dimas menjatuhkan pantatnya di atas sofa sensi.


" Tapi syukurlah kau selamat"


" Apa dia sudah sadar?" tanya Denal menghentikan perang mulut.


" Akan ku periksa" Shanaya melangkah mendekati ruangan kecil itu lalu membuka pintunya.


" Belum" katanya sambil menutup pintu.


" Efek obat yang ku taruh di sapu tanganku tadi saat membekapnya dapat membuat korban tidak sadar selama lima jam. Tadi aku membekapnya sekitar jam delapan kemungkinan ia baru sadar sekitar jam satu dini hari. Ini baru jam sebelas, kita masih punya banyak waktu untuk minum kopi." jelas Dimas sambil membuang mukanya.


" Baiklah. Akan ku buat kopi" tutur wanita itu lalu menuju dapur.


" Apa Bapak akrab dengannya?" tanya Nanda.


" Yah. Dia temanku sejak kecil" jawab Dimas.


" Memangnya apa kerjanya?" tanya Nanda lagi berharap menemukan jawaban atas pertanyaannya.


" Tidak ada. Ia hanya seorang wanita biasa yang hidup senang atas kekayaan orang tuanya" Jawab Dimas lagi.


Nanda hanya mengangguk angguk. Ia tidak bisa memaksa polisi itu untuk mengatakan siapa Shanaya yang sebenarnya.


Nanda melirik kedua temannya. Gilang sedang asyik bermain game di ponselnya sedangkan Sean hanya diam tanpa melakukan apa apa. Nanda memperhatikan Sean, dari tadi pria itu gelisah. Nanda bisa membaca pikiran teman baiknya itu, Sean deg degan menunggu Fitri bicara.


Tiba tiba.


Dimas menepuk pundak Sean.


" Tenangkan dirimu"


Sean tersentak namun dengan cepat ia bisa menguasai diri.


Nanda mematung. Dimas juga bisa mengerti perasaan Sean.


***


Di suatu tempat di pinggir sungai, seseorang sedang duduk di atas batu dengan keadaan yang basah kuyup. Ia sudah mengganti bajunya. Jubah dan revolver yang penuh darah itu sudah ia simpan rapat rapat di tas kecil bermotifkan 🐰🐇. Malam ini ia duduk termenung hanya menggunakan lingeria berwarna putih, kakinya yang putih jenjang ia benamkan ke bawah air, membiarkan air sungai yang dingin di malam hari menyentuh kakinya yang tanpa noda.


" Apa aku baik baik saja sekarang" gumamnya seorang diri.

__ADS_1


Kemudian ia menggoyang goyangkan kakinya di dalam air. Ia menggendong tas kecil sambil merapatkannya ke dadanya.


Malam hari di bawah cahaya bulan. Seorang Dewi yang sebenarnya sedang duduk anggun dengan lingerianya, rambutnya yang hitam pekat berkibar kibar di terpa angin.


__ADS_2