Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Ular


__ADS_3

" Pak Dimas" ketiganya kaget.


" Apa yang bapak lakukan di sini?" tanya Gilang yang belum hilang dari rasa keterkejutan.


" Tentu saja membantu kalian. Dia informan yang berharga, jangan sampai ia lolos" terang Dimas. Fitri akhirnya pingsan saat ia di bekap.


Kelakuan Dimas mengundang perhatian di tempat itu. Bagaimana tidak? dengan terang terangan ia membuat Fitri pingsan. Banyak pertanyaan yang muncul dari mulut pengunjung warkop 88. Tak lama kemudian pemilik warkop 88 datang menghampiri Dimas.


" Apa yang kau lakukan? mengapa kau membuat seorang gadis pingsan?" tanya sang pemilik dengan muka memerah.


Dimas mengambil sebuah benda dari saku bajunya, identitas kepolisian. Lalu menunjukkannya pada pemilik warkop 88 dan semua orang yang mengerumuninya.


" Perkenalkan aku polisi, aku membutuhkan gadis ini sebagai seorang saksi di kepolisian. Tapi kami dengan terpaksa menggunakan cara yang kasar karena ia sempat menghilang beberapa waktu yang lalu"


"Oooooohhhh" semua orang ber oh ria. Kemudian meninggalkan Dimas dan ketiga murid Sma Rajawali itu.


" Bawa ia ke mobil" pinta Dimas.


Sean mengangkat tubuh Fitri, kemudian membawanya masuk ke dalam mobil Dimas yang berplat merah.


Mereka berempat akhirnya meninggalkan warkop 88 dan menuju suatu tempat.


Dimas dan Sean berada di mobil yang sama lebih tepatnya mobil polisi sedangkan Gilang dan Nanda berada di mobil yang satunya mengikut dari belakang.


Sean duduk di bangku belakang sambil menggendong Fitri.


" Berhati hatilah. Bisa saja ada halangan malam ini" kata Dimas memperingatkan.


" Beritahukan temanmu yang ada di belakang" sambungnya.


Sean mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada Nanda, memperingatkan teman temannya itu seperti kata Dimas.

__ADS_1


Hanya berselang beberapa detik, pesan Sean terbalas.


" Siap"


Satu menit, dua menit, tiga menit.....sepuluh menit. Perjalanan ke suatu tempat terasa sunyi, malam itu benar benar gelap. Bulan enggan menunjukkan cahayanya, entah kenapa mempelai matahari itu tidak muncul di langit kota.


13 menit di perjalanan, tiba tiba mobil polisi itu oleng. Dimas dan Sean kehilangan keseimbangan, dengan cepat Dimas melihat ke kaca spion. Roda mobil belakang sebelah kanan terlepas bergelincir ke tengah jalan. Roda mobil Dimas telah di tembak, tidak ada suara tembakan. Ulah siapa ini?


Tentu saja Dimas tahu. Bukan hanya Dimas tapi ketiga murid Rajawali itu sangat tahu, siapa yang memiliki khas menembak dengan bantuan alat peredam. Jawabannya hanya satu sosok rahasia di sekolah mereka, sosok seram di sekolah mereka, sosok yang menjadi perbincangan tiap saat SMA Rajawali, dan sosok yang sudah mengambil beberapa nyawa penghuni SMA Rajawali. Itu dia... Sang pembunuh.


Serigala berbulu domba itu datang, lautan biru itu menunjukkan gelombangnya. Lautan yang terlihat biru dan indah dari satelit rupanya menyimpan kerangka manusia, dia bagaikan laut biru yang menjadi kuburan manusia yang mati penasaran.


" Dia datang" bisik Dimas.


Nanda dan Gilang yang mengikut dari belakang rupanya menyadari hal tersebut. Mereka dengan tenang menunggu kode dari Dimas.


Dimas mengkode mereka untuk menghentikan mobil di tempat itu.


Dengan kecepatan di atas rata rata, Gilang memacu mobilnya pergi dari sana.


" Apa kau yakin meninggalkan pak Dimas di sana?" ujar Gilang sambil menyetir mobil.


" Ya. Dia sendiri yang mengatakannya mungkin dia ingin meladeni pembunuh itu" balas Sean dengan suara keras.


Setelah mereka sudah aman dari kejaran pembunuh. Gilang menurunkan kecepatan mobilnya.


" Huft. Hampir mati duduk aku" Nanda menghela nafas, ia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.


" Lalu bagaimana dengan pak Dimas. Apa dia akan baik baik saja?" sambungnya.


" Dia polisi berbakat. Ia tidak akan mati semudah itu" kata Sean.

__ADS_1


***


Sementara di sisi lain. Dimas mengambil ponsel dari saku mantelnya kemudian mengirim pesan kepada Denal. Dimas memperhatikan sekitarnya dengan teliti, dari mana arah tembakan itu berasal. Setelah ia benar benar yakin, dengan sangat hati hati sang polisi turun dari mobil. Tidak ada lagi tembakan bahkan tadi setelah Gilang memacu mobilnya tidak ada gangguan sama sekali dari atas bukit.


Warkop 88 terletak di lereng gunung. Warkop itu selalu ramai karena tempat ini di suguhkan dengan pemandangan yang indah. Terkesan romantis jika pasangan yang di mabuk asrama nongkrong di tempat itu, menghilangkan penat bagi pengunjungnya, membuat otak kembali encer, membuat jiwa tenang dan sejuk dengan menatap indahnya kerlap kerlip lampu kota di bawah sana inilah sebabnya warkop 88 tidak pernah sepi peminat. Hanya untuk mencapai tempat ini jalanannya sepi penduduk karena di apit oleh lembah dan pegunungan.


Dua buah pistol dengan ukuran kecil di simpan dengan rapat di saku mantelnya, berjaga jaga. Ia akan menarik pelatuknya jika ada bahaya yang mengintai dirinya. Dan malam ini, ia akan menarik pelatuknya karena jenis ular yang paling berbahaya sedang tersenyum sinis dari atas sana, ia berdiri dengan beraninya di atas bukit sambil memegang sebuah revolver.


Bulan mulai menampakkan dirinya, menerangi malam yang gelap. Kekasih matahari itu memperhatikan kedua manusia di bawah sana yang sedang menantang satu sama lain. Dimas berdiri di tengah jalan menatap sosok yang berdiri di sana. Wajahnya tidak kelihatan hanya bibirnya yang berwarna merah ranum terlihat sambil mengeluarkan aurah membunuhnya tapi dengan pantulan cahaya bulan Dimas bisa melihat kalau sang sosok memakai jubah panjang tertutupi dari kepala sampai ujung kaki.


" Rupanya kau sudah berani muncul. Apa kau ingin menyerahkan dirimu" Dimas berkata dengan santai. Kedua telapak tangannya di tenggelamkan ke dalam saku mantelnya.


Tidak ada jawaban, sosok di atas sana tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Dimas segera tahu satu hal. Kalau sang sosok tidak mau bicara hanya ada satu kemungkinan, karena polisi itu mengenali suaranya itu artinya Dimas sering bertemu dengannya.


" Apa kita pernah bertemu?" pancing Dimas.


Masih sama, tidak ada jawaban.


" Dunia kepolisian sangat jenius, kau hanya beruntung bisa membunuh kedua bawahanku" sambungnya.


Sang sosok tetap diam, ia tidak bergeming dari pijakannya.


Mata Dimas tidak lepas dari manusia mengerikan di depannya. Penilaiannya menguat, sosok ini bukanlah orang bodoh. Ia cerdas, segala rencananya tersusun rapi.


Dimas mematung di tempatnya tapi otaknya bekerja keras, mengira ngira apa yang akan di lakukan orang itu.


Di luar pemikiran Dimas, sang sosok berlari ke dalam hutan.


" Hei apa kau ingin kabur. Apa kau takut?" dengan cepat ia berlari mengikutinya.

__ADS_1


" Dia tidak takut. ini adalah jebakan, tapi walaupun jebakan aku tetap akan mengejarnya" kata Dimas dalam hati.


__ADS_2