
***
Keenam orang yang mendengar cerita Fitri menegang. Mereka terdiam seper sekian detik mendengar cerita cewek berambut merah itu.
" Jadi, Vita melakukan operasi plastik. Tidak hanya mengubah wajah, ia juga mengubah identitasnya" Shanaya angkat suara.
Fitri mengangguk.
" Dia" suara Shanaya tercekat.
" Ya. Dialah orangnya sahabat serta teman sekamar Jasmine"
Tidak ada suara, yang ada hanya suara semilir angin.
****
Bunga berjalan seorang diri , tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya. Hanya kebisuan yang mengiringi langkahnya. Ia menyusuri gemerlap kota, sewaktu waktu ia mengangkat kepalanya memandang lampu lampu rumah dan lampu lampu berwarna warni yang bertebaran di jalan. Ia tidak punya tujuan malam ini, tapi kakinya tidak pernah berhenti melangkah. Perasaan gundah gulana memenuhi rongga dadanya.
Malam ini, seharusnya ia sudah tidur. Bunda Merry punya jam malam yang ketat yang harus di patuhi, tapi hatinya tak menentu membuatnya keluar mencari angin malam untuk menenangkan diri.
Niatnya mencari angin malam untuk menenangkan diri, tapi suasana hatinya tak kunjung membaik akhirnya dengan reflek kakinya melangkah, entah kemana langkah kakinya akan membawanya.
Bunga alias Vita, berjalan seorang diri di atas trotoar. Baju panjang berwarna putih yang ia kenakan malam ini berkibar kibar di terpa angin. Angin tak henti hentinya menampar seluruh tubuhnya tapi gadis itu tidak merasakannya.
Bunga mendongak ke atas, hamparan bintang bertebaran di atas langit. Ia ingat waktu itu, di mana ia dan Sean mencoba menghitung bintang bintang di langit dan mencari bintang kejora.
Gadis itu tersenyum, ia ingat Sean. Ia teringat pria pujaannya itu yang menjadi alasan mengapa ia ada di SMA Rajawali. Tapi sekarang, ia sudah tidak bisa memilikinya. Sean sudah menjadi milik sahabatnya yang songong.
Senyuman pudar dari wajahnya saat mengingat wajah Jasmine. Sebenarnya tidak ada alasan baginya untuk menyukai Jasmine, tapi karena ia harus punya teman akhirnya ia bersama dengan Jasmine.
Berapa lama melangkah, akhirnya Bunga menemukan tujuannya. Ia berjalan terus tanpa merasa lelah hingga tibalah ia di atas bukit. Ia ingin melihat bintang dari dekat, mengingat kembali kenangan indah yang tersisa bersama dengan Sean.
Ia mendongak ke atas langit, memperhatikan bintang bintang dengan seksama. Senyum kemudian muncul di wajahnya, andaikan ia kembali ke waktu itu, waktu di mana ia dan Sean masih bersama.
" Vita" suara yang paling di rindukannya memanggilnya. Tapi ia hanya tersenyum dan tersenyum, ia terlalu berandai andai sampai mendengar suara hatinya memanggil nama yang sudah ia buang.
" Vita" suara itu terulang kembali tapi Bunga tidak bergeming dari tempatnya. Ia masih memperhatikan Bintang dengan teliti.
Sreekk.
__ADS_1
Bunga tersentak, suara ranting yang diinjak orang.
Dengan gerakan yang cepat, Bunga melihat ke belakang. Di sana siluet bayangan seseorang di bawah cahaya bintang sedang menatapnya dengan dingin.
Bunga mematung di tempatnya.
Tidak mungkin.
Apanya yang tidak mungkin, ia tahu betul kalau Fitri sudah di tangkap. Identitas yang sebenarnya sudah di ketahui oleh segelintir orang termasuk orang yang ada di depannya ini.
" Kau datang. Setelah sekian lama kau baru berbicara denganku dengan empat mata" ucapnya.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Sean.
" Apa kau kaget, tidak menyangka aku akan datang dengan keadaan seperti ini" sambungnya.
" Vita"
" Yah aku Vita. Akulah Novita Amelia"
Sean lagi lagi diam. Ekspresi datarnya tidak berubah tapi sorot matanya yang tajam tak bisa lepas dari Bunga.
" Apa kau juga tidak bertanya padaku. Mengapa aku bisa menemukanmu di sini" Sean balik bertanya.
" Kebetulan mungkin" jawab Bunga.
" Karena kau suka melihat bintangkan. Dari dulu kau selalu mencari tempat tinggi hanya untuk membayar rasa penasaranmu kepada benda langit itu"
" Kau masih mengingatnya?"
" Tentu saja. Aku tidak pernah melupakan ciri khas orang yang ku cintai"
Bunga diam. Ia kaget atas perkataan Sean, tapi hanya berlangsung beberapa detik saja. Bunga alias Vita tertawa terbahak bahak.
Hahahahaahahahaha
" Sudah selesai" ujar Sean meninggi.
Bunga tersentak. Ia diam, berhenti dari tawanya. Perutnya sakit karena tawanya keterlaluan.
__ADS_1
Sean tidak mengubah ekspresinya. Tatapannya tetap dingin, mimik wajahnya tidak bisa di baca.
" Kau, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Sean memasang tampang singa.
" Aku yakin Fitri mengatakannya. Aku datang untukmu" jawab Bunga serius.
" Untukku!!!!. Itu hanya omong kosong belaka, setelah kau mencelakakan ibuku, kau masih memikirkan hal itu" ujar Sean. Emosi mulai menjalar ke sel sel tubuhnya.
Bunga hanya diam.
" Fitri menceritakan semuanya. Kau melakukan operasi plastik hanya untuk kembali ke sisiku, buang perasaan jauh jauh itu Vita. Aku sudah tidak membutuhkannya" kata Sean tegas.
" Kau benar, kau memang sudah tidak membutuhkannya. Awalnya aku datang untukmu tapi sekarang tidak lagi, aku sudah menjalani hidupku dengan normal di SMA Rajawali. Bersamalah dengan Jasmine dan aku hidup dengan hidupku sendiri"
" Hidup normal katamu!!! setelah kau membunuh penghuni SMA Rajawali" bentak Sean. Emosinya sudah naik ke atas ubun ubun teringat pamannya yang juga jadi korban pembunuhan.
" Setelah ibuku, kau juga membunuh pamanku. Dan kamu masih berpikir akan berada di sisiku. Ciiiihhh, pikiran seorang pembunuh memang tidak normal" kata Sean dengan tampang meremehkan.
Bunga memperhatikan wajah itu. Ekspresi apa itu barusan? ekspresi yang sama dengan Jasmine. Pasangan yang serasi, mereka sangat cocok.
" Kau tidak mengerti" balas Bunga.
" Kau pikir aku bodoh. Aku manusia normal tidak sama sepertimu"
Lagi dan lagi, Bunga melihat kalau Sean dan Jasmine memiliki banyak kesamaan yang paling mencolok mereka berdua sama sama suka menghina orang.
" Aku tidak memaksamu untuk mengerti karena kau memang tidak pernah mengerti. Aku tidak mengharapkan pengertian darimu hanya ada dua orang yang mengerti denganku di dunia ini. Hanya Fitri dan Bunda Merry" kata Bunga.
" Hahahahaah" Sean tertawa.
" Kalau Fitri mengertimu, tentu saja ia tidak akan membongkar penyamaranmu. Mana mungkin orang sepertimu memiliki teman" sambungnya penuh penghinaan.
Bunga tertawa dalam hati. Hari ini ia menemukan kebenaran kalau ia memang tidak cocok dengan Sean. Jasmine adalah pasangannya yang tepat.
" Apapun yang kau katakan kau tidak mengerti aku dan apapun yang kau pikirkan kau tidak bisa menyamai pemikiran luar biasa Fitri dan Bunda Merry. Sekarang masukkan aku ke dalam penjara, kau hanya berpikir kalau hidupku hanya cocok di penjarakan!!!! Semoga kau bisa mengerti segalanya Kamasean Saputra"
" Aku memang akan memasukkanmu ke dalam penjara. Diam di tempatmu, tunggu polisi datang dan menangkapmu"
Sean mengambil ponselnya lalu menghubungi Dimas.
__ADS_1