Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Kalah


__ADS_3

" Dia perempuan" kata Dimas dalam hati. Polisi itu yakin saat ia melihat bibirnya tadi, bentuk bibirnya sangat sempurna menandakan kalau ia pasti wanita cantik.


Dimas memperhatikan sekelilingnya, sang sosok berjubah itu menghilang. Ia menyalakan senter ponselnya menyorotnya ke sana sini membantu penglihatannya di bawah cahaya bulan.


" Ini????. jejak sepatu, ini pasti jejaknya " dengan pelan, Dimas melangkah mengikuti jejak tersebut. Polisi itu menyusuri hutan, bunyi jangkrik bersahut sahutan malam ini, dan burung entah apa namanya bernyanyi di atas sana tapi Dimas tidak peduli, yang dia pedulikan hanya menangkap pembunuh cantik itu.


Berapa lama Dimas mengikutinya. Akhirnya mereka kembali bertemu, sang sosok misterius berdiri di sana dengan penampilan yang sama. Saat ini mereka berada di Padang rumput yang luas. Suara gemericik air sungai terdengar di belakangnya.


" Apa yang ingin kau lakukan? seharusnya gadis cantik sepertimu tidak perlu melakukan ini" kata Dimas.


Tidak ada jawaban.


Dimas berjaga jaga, saat sosok tersebut mengangkat revolvernya. Ini berbahaya, dengan bantuan alat peredam. Sangat sulit membaca gerakan peluru.


Apa ini???? kenapa sosok itu hanya berdiri di sana sambil mengangkat alat mematikan itu tidak ada peluru yang keluar dari revolvernya.


Keberuntungan ada di pihak Dimas. Sosok tersebut kehabisan peluru.


" Hahahaha" tawa polisi tersebut memecah di kesunyian malam.


" Kau kehabisan pelurumu yaah. Sekarang apa yang akan kau lakukan, kau tidak bisa apa apa tanpa alat itu. Malam ini aku benar benar akan membuangmu ke dalam penjara" katanya dengan ejekan.


Dimas tersentak. Ia langsun menghindar dengan gesit saat pisau dapur melayang ke arahnya.


" Huft" Dimas menghela nafas.


Byuuuurrrrr.


Hanya dalam kedipan mata, sang sosok tersebut melompat ke bawah sungai.


" Sialan" Dimas mengumpat.


Dimas berlari tapi terlambat sang sosok sudah menenggelamkan dirinya di bawah sana. Yang ada hanya arus sungai deras.


Walau hari ini ia tidak mati. Dia kalah telak!!!

__ADS_1


Dimas memperhatikan sungai yang ada di bawahnya. Sosok itu sudah pergi bersamaan dengan arus sungai. Kemudian ia termenung seorang diri di tempatnya, apa ia habis membunuh lagi. Siapa lagi korbannya malam ini?, tidak mungkin dia dengan sengaja lupa mengisi revolvernya. Kalau revolvernya kosong itu artinya ia habis memakainya entah di mana. Ia pasti buru buru datang ke sini.


" Apa jangan jangan dokter Mika?" Dimas bertanya tanya dalam hati. Beberapa hari yang lalu dokter Mika menghilang besar kemungkinan ia di culik oleh sosok itu.


Dimas berbalik arah, kembali ke tempatnya semula. Ia turun dari bukit itu, lalu terlihatlah sebuah mobil sedang mendekati mobilnya yang rusak.


Pintu mobil terbuka. Rekannya turun dari sana,


" Kau tidak apa apa?" tanya Denal.


Dimas menggeleng.


Dimas langsun naik ke atas mobil duduk di samping kemudi.


Denal memperhatikan sekitar dengan seksama kemudian masuk ke dalam balik kemudi.


" Apa dia kabur" tanyanya.


Dengan malas Dimas mengangguk.


" Hari ini kau kalah. Apa yang akan kita katakan ke publik?, apa yang akan kita katakan ke keluarga korban. Kita sudah berjanji akan menangkap pembunuh itu secepat mungkin" Denal menghela nafas berat.


" Ngomong ngomong besok pagi baru mobilmu di tarik dari sana" sambung Denal lagi.


Dimas mengumpat berkali kali dalam hati. Kali ini benar benar sulit, bagaimana bisa kinerjanya sangat lambat. Sudah empat bulan berlalu sejak kematian korban pertama di SMA Rajawali, pembunuh itu masih belum tertangkap. Andaikan sang pembunuh hanya sekali beraksi mungkin buktinya masih sedikit tapi ini? aksi kejamnya sudah beberapa kali seharusnya meninggalkan bukti yang menggunung. Namun sampai saat ini, polisi belum menemukan bukti kuat siapa pelakunya. Hanya nama Novita Amelia yang menjadi kandidat sebagai pelakunya tapi ini juga belum 100 persen, polisi hanya mengira ngira mengingat bagaimana masa lalu Vita dan bagaimana ia membunuh ibu Sean. Tapi belum ada bukti kuat yang langsun mengarah pada Vita karena pembunuh itu selalu melangkah sepuluh langkah di depan polisi. Dia sangat rahasia, dapat membungkam mulut korbannya secepat kilat yang bisa membongkar kedoknya.


Dimas merutuki dirinya sendiri. Seharusnya sejak kematian pak Alex pembunuh itu sudah tertangkap, seharusnya pembunuh itu sudah meringkuk di dalam penjara tapi karena kebodohannya dan rekan rekannya sang pembunuh masih berkeliaran sana sini dengan angkuhnya.


Dimas teringat bibir merah ranum itu. Sangat cantik namun mematikan, senyum sinis dan menghina yang keluar dari sana benar benar membuatnya naik darah. Jika di lihat sekilas seharusnya sangat mudah menangkap pembunuh itu tapi ternyata ekspetasi memang jauh dari kenyataan.


Denal melirik Dimas. Rekan kerjanya itu sedang duduk dengan melipat kedua tangannya di belakang kepala sambil menutup mata menandakan kalau ia tidak ada semangat malam ini.


" Jangan menyerah. Ini hanya masalah waktu, cepat atau lambat kita pasti akan menangkapnya" kata Denal memberi semangat.


Dimas membuang muka, benar benar menyebalkan.

__ADS_1


" Ciiiiiihhhhh"


" Apa dia perempuan?" tanya Denal


Dimas mengangguk.


" Menurutmu dia cantik?"


Dimas mengangguk.


" Aku dengar predikat gadis tercantik di kelas sepuluh di SMA Rajawali di raih oleh Jasmine. Jika pembunuh itu membuka penyamarannya mungkin dia bisa mengalahkan Jasmine sebagai siswi tercantik di sana"


Dimas diam, kali ini ia tidak meladeni teman bicaranya.


Perjalanan kali ini agak lama karena Fitri di bawa ke suatu tempat rahasia yang hanya segelintir orang yang tahu mengingat pembunuh itu bisa datang kapan saja menganggu penyelidikan di kantor polisi.


Sampai sampai kantor polisi sudah menjadi incaran. Hah, sebodoh itu kah mereka sampai mereka berpikir kalau pembunuh itu akan datang ke kantor polisi. jika pembunuh itu datang seharusnya ia bisa di tangkap dengan mudah tapi sayangnya si pembunuh benar benar licin.


Di atas mobil keadaannya hening, sudah tidak ada pembicaraan kedua polisi itu kecuali Denal yang bersenandung entah kata kata apa yang keluar dari mulutnya.


***


Shanaya tersenyum manis saat melihat tubuh Fitri di angkat masuk ke dalam gedung. Malam ini mereka berada di sebuah gedung lantai dua yang bangunannya bergaya Eropa klasik, mewah pada masanya tapi sayangnya tak terpakai. Wanita berambut bob itu sedang berdiri dengan santainya di lantai dua sambil mengisap cerutu kesayangannya. Senyum tidak berhenti dari wajahnya tatkala di bawah, Sean menggendong Fitri yang tidak sadarkan diri. Shanaya membuang puntung rokoknya ke lantai lalu meremukkannya. Kemudian turun ke bawah menyambut kedatangan keempat remaja itu.


Tubuh tak berdaya Fitri di letakkan di atas sofa panjang yang ada di sana.


" Kau. Siapa kau?" tanya Nanda. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan Shanaya.


" Perkenalkan namaku Shanaya. Seharusnya sekarang ini aku menjadi kepala asrama putri di sekolah kalian menggantikan almarhumah" tutur Shanaya memperkenalkan diri.


Ketiga pria itu mengangguk sopan. Mereka juga memperkenalkan dirinya masing masing.


" Apa kita aman di sini?" tanya Gilang.


" Ya. Aku yakin itu?" jawab Shanaya.

__ADS_1


" Ini tempat apa?" kali ini Sean yang bertanya.


" Akan ku jelaskan. Tapi sebelum itu bawa gadis ini ke sana" pinta Shanaya sambil menunjuk sebuah ruangan kecil.


__ADS_2