
" Halo"
Nanda menoleh ke asal suara.
" Kenapa? " tanyanya.
" Bisa kita bicara sebentar?"
" Boleh saja"
Nanda mengikuti ke mana gadis yang memanggilnya membawanya ke suatu tempat.
" Kakak mungkin belum mengenalku?" ucapnya.
" Tentu saja aku tahu namamu, aku datang di pesta ulang tahunmu hari itu"
" Oooh" ujar Anna singkat
Anna mengajak Nanda pergi ke perpustakaan sekolah tepatnya di ruangan bahasa Mandarin.
" Cuma kita berdua?" tanya Nanda bingung. Ia bertanya tanya kenapa adik kelasnya ini membawanya ke sini.
Anna mengangguk.
" Aku memanggil kakak ke sini karena ada hal penting yang ingin ku katakan"
" Katakan" ujar Nanda lalu duduk di salah satu kursi.
" Aku mencurigai seseorang"
" Maksudnya?"
" Yah. Aku mencurigai seseorang yang kemungkinan besar pelaku atas pembunuhan ini" kata Anna serius.
Nanda terkejut, ia lagi lagi bingung kenapa gadis ini mengatakan hal itu padanya.
" Lalu kenapa kau mau mengatakannya padaku? " tanya Nanda kemudian.
" Aku tahu kakak menyelidiki kasus ini dengan keempat anggota osis lainnya di luar sepengetahuan polisi" jawab Anna.
" Dari mana kau tahu?" tanya Nanda lagi.
" Tidak penting di mana aku mengetahuinya tapi yang terpenting orang di balik kejadian ini"
" Katakan siapa orangnya"
Anna mengambil selembar kertas dari dalam saku bajunya lalu memperlihatkannya pada pria itu.
" Apa ini?" lagi lagi Nanda bertanya.
__ADS_1
" Ini adalah tato kalajengking. Pelaku pembunuhan ini memiliki tato kalajengking di bagian atas perutnya di atas pusar" jelas Anna.
" Kau tahu siapa yang memiliki tato itu?"
" Aku pernah melihatnya sepintas tapi saat kedua kalinya aku melihatnya tato itu sudah menghilang di perutnya"
Anna mengambil pulpen lalu menulis sesuatu di atas kertas.
" Dia yang aku curigai"
" Apa" Nanda tersentak melihat coretan pulpen Anna.
Anna mengangguk dengan mimik muka yang serius.
" Lalu dengan kak Sean, aku sarankan jangan terlalu percaya padanya. Kejadian ini berhubungan erat dengan masa lalunya, cinta yang ia miliki terlalu besar jangan sampai ia berpaling dari kasus ini dan balik menyerang" jelas Anna lagi.
" Apa maksud perkataanmu, aku sangat tidak mengerti"
" Harta, tahta dan wanita. Tiga kata yang bisa menjatuhkan keteguhan hati seorang pria. Kakak lebih tahu masa lalu kak Sean seperti apa, aku hanya memperingatkan berhati hatilah jangan sampai orang yang kakak percaya menjadi granat bagi sekitarnya" kata Anna lalu meninggalkan Nanda dengan mulut yang menganga.
" Kalau pembunuh itu membunuh kita berenam maka akulah yang di bunuh terlebih dahulu, ku sarankan jika hari itu tiba bawalah kak Sean pergi dari kota ini. Dia tidak mudah tertangkap orang kuat ada di belakangnya bahkan pak Dimas sendiri pun tidak bisa menangkapnya" setelah mengucapkan kata kata itu Anna meninggalkan Nanda lagi lagi dengan mulut yang menganga semakin lebar.
" Apa maksud gadis itu dia barusan mengatakan jangan terlalu percaya pada Sean lalu ia tiba tiba mengatakan kalau ia terbunuh bawalah Sean pergi dari kota ini. Benar benar buat bingung" pikir Nanda bertanya tanya.
Nanda menatap gambar tato kalajengking di depannya. Jadi pembunuh itu memiliki tato kalajengking tapi yang menjadi pertanyaan saat Anna melihatnya lagi tato itu sudah menghilang bisa di pastikan kalau tato itu bukanlah tato permanen tapi tato itu bisa di hapus kapan saja oleh pemiliknya.
" Apa aku harus mengatakan hal ini pada Sean yah. Tapi kata Anna kalau ia tidak boleh terlalu mempercayai Sean" Nanda bimbang. Apa yang harus ia lakukan, polisi sangat mengandalkan Sean apa yang akan terjadi kalau Sean berpaling dari kasus ini. Siapa lagi yang harus ia percayai apakah Dewi, Diana dan Gilang juga tidak akan di percaya. Setelah lama berpikir akhirnya Nanda mengambil kesimpulan ia tidak akan memberitahu pembicaraannya dengan Anna kepada siapapun.
Nanda keluar dari perpustakaan. Banyak pertanyaan yang muncul di otaknya apalagi masa lalu Sean, ah sahabatnya itu benar benar sial, tampan tampan tapi cintanya salah sasaran.
" Kau di sini" tegur Dewi.
" Iya" jawab Nanda saat ia melihat gadis itu berdiri di depannya sambil memegang beberapa buah buku.
" Kau akan mengembalikan buku buku itu" ucapnya.
" Uhm. Aku pasti sudah kena denda, aku sudah meminjamnya sekitar tiga minggu" kata Dewi nyengir.
" Itulah akibatnya orang yang terlalu rajin membaca"
" Hai rajin itu baik"
" Uuh, tapi kerajinanmu membawa hukuman" balas Nanda tak mau kalah. Pria itu sangat senang dalam hal mengganggu Dewi.
Tanpa membalas perkataan teman sesama osisnya itu, Dewi melangkah dengan kasar ke dalam perpustakaan.
Nanda tersenyum melihat tingkah Dewi.
***
__ADS_1
" Ke mana perginya si Bunga itu?" Jasmine bolak balik sendirian di dalam kamarnya. Jam menunjukkan pukul empat sore, sejak kejadian tadi siang Bunga sama sekali belum menunjukkan wajahnya.
" Ah bodoh amat mending aku menemui Sean" Jasmine segera bersiap siap untuk bertemu dengan pria yang baru berapa lama di pacarinya itu.
Setelah Sean menerim pesannya dan membalasnya, gadis cantik itu akhirnya keluar dari asrama untuk bertemu Sean.
" Kau kelamaan" tegur Sean dengan senyuman yang meleleh.
" Kau yang kecepatan" balas Jasmine.
" Kau terlihat kurang semangat, apa ada masalah hari ini?" tanya Sean.
Jasmine menggeleng berusaha menutupi wajahnya yang sayu.
" Tidak apa apa" Jasmine memeluk Sean. Orang yang di peluknya bingung, entah kenapa pujaan hatinya itu tiba tiba memeluknya.
" Kau benar benar ada masalah yah, katakan" ujar Sean membelai kepala Jasmine.
Jasmine tidak menjawab. Ia tidak ingin Sean tahu kalau ia bertengkar dengan sahabatnya hari ini.
" Aku tidak apa apa, percayalah"
Sementara itu sepasang sejoli itu tidak menyadari seseorang memperhatikan mereka dari jauh.
" Apa yang akan terjadi nantinya, mudah mudahan kau baik baik saja " Nanda memperhatikan dari jauh pasangan yang di mabuk asmara itu. Matanya tertuju penuh pada Sean.
" Apa kau menyadari titik di balik kejadian ini Sean, sahabatku yang terbaik" kemudian Nanda berbalik meninggalkan mereka.
Setelah selesai menumpahkan rasa rindunya pada Sean, Jasmine segera pulang ke kamarnya.
" Bunga belum pulang yah" gumamnya saat melihat pintu yang masih tertutup rapat.
Gadis itu segera mengambil kunci dari sakunya lalu memasukkannya pada lubang kunci.
Cleek....
Suara pintu terbuka.
" Kau sudah pulang" tegur seseorang.
Jasmine terkejut melihat Bunga sedang tidur miring di atas tempat tidur miliknya.
Jasmine mengangguk pelan, tatapan Bunga tadi siang masih membekas di ingatannya.
" Kau pulang dari mana?" tanyanya lagi.
" Bertemu Sean" jawab Jasmine jujur.
" Aku membawakanmu martabak, makanlah" katanya sambil ekor matanya melirik sebuah kotak segi empat di atas meja.
__ADS_1