
" Hihihihi hihihihi" Bella tertawa dengan suara nenek lampir.
Sean melihat jam tangannya, sudah 15 menit berlalu dan kini tinggal 25 menit lagi waktunya untuk menemukan Vita, Sean sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan menemukan Vita hidup hidup. Ia tidak boleh membiarkan gadisnya itu mati secepat itu.
Sean memperhatikan dengan teliti kertas bergambar denah yang ada di tangannya. Ia yakin ini jalurnya.
Sean berlari dan terus berlari, berharap lebih ia bisa bertemu dengan Vita secepatnya.
***
Di saat Sean sibuk mencari keberadaan Vita, lain halnya dengan Dimas, dokter Mika dan Bunda Merry. Mereka bertiga belum beranjak dari pijakannya.
" Kita akan ke mana?" tanya Dokter Mika.
" Kita harus secepatnya keluar dari pulau ini" kata Bunda Merry.
" Di pinggir laut ada Speedboat, kita akan ke sana" kata Dimas.
" Baiklah. Kau sudah tidak berdaya, aku yang akan memimpin di depan" ujar Bunda Merry kepada Dimas.
" Katakan saja di mana kau menyimpan speedboatnya" sambungnya.
" Baik"
Dimas merasa bersalah karena ia di kalah secepat itu. Seharusnya ia melindungi rekan rekannya di pulau ini bukan ia yang harus di lindungi.
Tapi mau bagaimana lagi, Tuan William memang sangatlah hebat.
Bunda Merry melihat dengan teliti ke sekitarnya, jangan sampai para pengawal keluarga Bella ada yang melihatnya bisa rumit masalahnya. Kini Dimas sudah terluka, kekuatan Fisik mereka sudah tidak ada mereka harus pandai pandai menggunakan otak untuk mengelabui para penjaga keluarga Bella.
" Tidak ada siapa siapa. Ikuti aku" ajak Bunda Merry.
Bunda Merry melangkah paling depan diikuti oleh Dokter Mika kemudian Dimas. Sesekali Dimas masih meringis kesakitan.
Saat sampai di lokasi katrol ukuran jumbo yang akan membawa mereka ke atas. Mereka bertiga segera bersembunyi karena di sana masih ada satu orang yang berjaga.
" Kemana yang lainnya?" pikir Dimas. Seingatnya ada empat orang yang berjaga di sana.
Sepuluh menit bersembunyi, mereka tidak melihat tanda tanda penjaga itu akan beranjak dari duduknya.
" Aduh bagaimana ini?" keluh Dokter Mika.
" Tunggu sebentar lagi. Kita tidak bisa melawan orang itu menggunakan kekuatan fisik, kita tidak ada apa apanya" ujar Bunda Merry.
Berselang lima menit. Anjing berbulu cokelat mendekati Dimas sambil menggoyang goyangkan ekornya.
" Pici ternyata kau masih hidup" kata Dimas dengan bangga, tapi ia heran mengapa banyak darah di mulut Pici.
" Ada yang memukulmu yah?" tanya Dimas sambil memeriksa mulut anjingnya.
__ADS_1
" Apakah itu sakit"
Dimas memeriksa moncong anjingnya tapi tidak ada luka di sana. Lalu darimana asal darah ini??.
Pak polisi itu menciumnya. Bau darah manusia.
Tidak sampai dua menit Pici datang ke tuannya, anjing berbulu cokelat itu melompat ke arah penjaga dan menggigit lehernya. Hanya dalam hitungan detik, penjaga itu meregang nyawa. Kini Dimas menganga melihat tingkah hewan peliharaannya.
" Cepat" kata Bunda Merry lalu keluar dari persembunyiannya.
" Anjing pintar. Saat kita keluar dari pulau ini aku akan memberikanmu sekilo daging" puji Bunda Merry.
Pici mengibas ngibaskan ekornya tanda senang.
Bunda Merry segera menarik tuas di sana alhasil sebuah benda berbentuk segi panjang keluar dari dalam tanah. Benda itulah tempat berpijak mereka yang akan membawanya ke atas.
" Ayo naik" ketiganya beserta Pici segera terangkat ke atas.
Saat katrol sudah berada di atas ketinggian, Dimas tersentak kaget saat di bawah ia melihat ada tiga mayat lain yang di penuhi oleh darah. Darah dalam jumlah yang banyak keluar dari dalam lehernya.
Dimas melirik anjingnya. Walaupun ia yakin kalau Pici menyerang ketiga penjaga itu tapi ia tidak habis pikir bagaimana bisa anjingnya bisa melakukan hal tersebut. Anjingnya adalah tipe anjing manja yang lembut meski bisa di andalkan di banyak kasus, tapi sampai meremukkan nadi manusia ini pertama kalinya Pici melakukannya.
Sesampainya di atas. Mereka bernafas lega saat melihat tidak ada yang mencurigakan.
Mereka berlari dan terus berlari berharap segera sampai di mana Speedboat itu berada.
Tapi di tengah perjalanan, mata Bunda Merry menangkap kehadiran Nyonya Shireen.
" Merry. Mengapa bisa dia ada di sini?" kata Nyonya Shireen heran.
" Jadi dokter Mika ada bersama dengan mereka yah. Dasar penjaga tidak becus tidak ada yang bisa mengendus keberadaan dokter itu" kesal Nyonya Shireen dalam hati.
Bunda Merry melihat kalau Nyonya Shireen sedang menghubungi seseorang.
" Keparat. Kenapa tidak angkat telponnya" kata Nyonya Shireen marah.
Berkali kali wanita itu menghubungi penjaga, namun tidak ada satupun yang mengangkat telponnya.
" Keparat. Apa mereka ingin kelaparan" kata Nyonya Shireen marah.
Masa bodoh dengan Bunda Merry, dokter Mika dan Dimas yang melarikan diri. Wanita itu malah melangkah menuju di mana katrol yang menghubungkan atas bawah tempat ini.
Saat sampai di sana, matanya terbelalak melihat pemandangan berdarah yang ada di bawah.
Empat penjaganya mati mengenaskan dengan darah yang keluar dari dalam lehernya.
" Dasar keparat keparat ini, mereka tidak bisa di andalkan. Masakan mereka di kalahkan oleh seorang wanita" Nyonya Shireen pikir Bunda Merrylah yang membunuh keempat penjaganya padahal anjing kesayangan Dimaslah yang bernama Pici.
" Pantasan kemarin malam tidak ada yang membalas pesanku, ternyata kalian sudah mati" dengan kesal Nyonya Shireen turun ke bawah.
__ADS_1
Tadi subuh ia naik ke atas, hari masih gelap jadi ia tidak memperhatikan kalau beberapa penjaganya sudah mati.
Tak peduli, Nyonya Shireen melangkah ke rumahnya untuk menenangkan diri.
Bunda Merry dan rekan rekannya masih terus berlari. Mereka harus tiba di tepi pantai dengan selamat.
Berapa lama berlari.
Mereka bertiga akhirnya sampai di sana dengan selamat tapi mereka bingung karena ketiga rekan yang lainnya hanya bisa duduk tidak melakukan apa apa.
" Apa yang terjadi di sini?" tanya Dimas.
" Speedboat kita rusak. Kini kita tidak punya benda yang bisa membawa kita keluar dari pulau " jawab Shanaya.
Dimas menunduk lesu. Mereka kalah telak di dalam kasus ini.
" Coba ku lihat" kata Bunda Merry sambil melangkah memperhatikan Speedboat.
" Speedboat ini rusak di bagian mesinnya, tidak bisa beroperasi sama sekali" jelas Bunda Merry.
" Lalu bagaimana dengan Bunda. Bunda datang ke sini menggunakan apa?" tanya Fitri.
" Speedboat juga" balas Bunda Merry.
" Lalu di mana Speedboat yang di tumpangi oleh Bunda. Kita bisa menggunakannya" kata Fitri.
" Yah kalian benar. Aku lupa" Tapi sesaat kemudian ia baru sadar kalau di tempat ini jugalah ia memarkirkan speedboatnya. Ia baru sadar saat melihat ke sekelilingnya.
" Aku aku, aku juga memarkirkannya di sini. Tapi di mana yah?"
" Bunda yakin. Lalu di mana Bunda?" tanya Shanaya.
" Jangan jangan" Bunda Merry segera memeriksa Speedboat yang rusak itu.
" Speedboat kalian hilang, ini Speedboat yang kugunakan saat aku datang ke sini seorang diri"
" Haaaahhh" semua yang ada di sana tersentak.
" Lalu di mana speedboatnya?" kata Fitri panik.
Ini bukan kebetulan, Speedboat yang di tumpangi Dimas dkk tidak menghilang dari sana begitu saja tapi ada yang sengaja menghilangkannya.
" Jadi Speedboat mereka sudah hilang sebelum aku datang. Terbukti aku tidak melihat keberadaan Speedboat lain hari itu. Tua Bangka itu pasti pelakunya" pikir Bunda Merry.
Insting Bunda Merry benar.
" Apa ini yang kalian cari" ucap seseorang dengan suara yang berat sambil membuang rangka rangka Speedboat yang ia potong potong.
Sontak semua yang ada di situ melihat ke asal suara.
__ADS_1
" William" gumam Dimas