Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Sekelompok Singa


__ADS_3

Fitri memperhatikan dengan seksama secarik kertas yang di berikan oleh nyonya Elis. Di dalam kertas itu tergambar tiga buah bentuk simbol yang sejajar.


" Ini seperti gambar huruf J kan" tunjuk Nanda.


" Lalu ini berbentuk semut" timpal Nanda lagi.


" Ini gambar tangankan" ujar Gilang.


Fitri memperhatikan bentuk tersebut. Otaknya berpikir dengan keras.


" Aku tidak bisa mengerti" ucap Fitri kemudian.


Sekarang giliran Shanaya yang memperhatikannya. Wanita itu juga bingung atas apa yang di lihatnya.


Denal mengambil secarik kertas itu lalu memperhatikannya dengan teliti.


" Apa huruf J ini mengarah pada sebuah pulau?" tanya Denal.


Shanaya tersentak. Lalu segera mengambil kertas itu.


" Aku mengerti. Huruf J ini adalah bentuk pulau kita" kata Shanaya.


" Itu tidak mungkin, pulau kita berbenbuk I" kilah Dimas.


" Yah sekarang memang berbentuk I tapi 100 tahun yang lalu pulau ini berbentuk J. Sebagian tanahnya sudah di kuasai oleh air akibat pemanasan global" jelas Shanaya.


" Aku tidak mengerti mengapa pemanasan global mempengaruhi jumlah air" ujar Gilang bingung.


Denal menjitak kepala Gilang.


" Dasar anak bodoh" katanya


Gilang tersenyum malu malu. Kini ia sudah mengerti.


" Yah. Kita beranggapan kalau ini adalah pulau kita" tunjuk Shanaya.

__ADS_1


" Lalu gambar semut ini mengarah pada ukuran yang kecil. Anggap saja ini adalah sebuah pulau kecil yang terletak di negara ini, semut menggambarkan bentuk yang kecil" jelas Shanaya lagi.


" Kemudian gambar tangan ini adalah permintaan minta tolong" sambungnya.


" Lalu apakah pulau ini adalah pulau pribadi keluarga Farhana?" tanya Sean.


" Yah. Aku yakin ini semut juga menggambarkan binatang kecil yang gigitannya sakit, jadi bisa saja nyonya Elis memberikan kode kalau ini adalah pulau kecil yang berbahaya. Aku yakin di sinilah Nyonya Shiren" terang Shanaya lagi.


" Lalu di mana letaknya?" tanya Fitri.


Shanaya membolak balikkan kertas itu.


" Di mana yah"


" Pulau itu ada di barat laut pulau kita ini. Menurut eksiklopdia Zaman modern kalau ada sebuah pulau yang terletak di barat laut pulau kita yang paling kecil di antara pulau pulau di negara ini. Itu pulau baru, di temukan 30 tahun yang lalu" jelas Dimas.


Shanaya memberikan kertas itu kepada Dimas.


" Sekarang giliranmu ketua. Kau yang mengambil keputusan"


" Persiapkan diri kalian, dua hari lagi kita akan berangkat ke sana" kata Dimas.


***


Sean duduk di balkon rumahnya. Ia teringat mimpinya bertemu dengan gadis yang bernama Irabella, siapa sebenarnya gadis ini katanya mereka pernah sewaktu kecil tapi seingatnya ia tidak pernah bertemu dengannya.


Pria itu teringat Vita, ia di liputi rasa rindu sekarang. Apa yang di lakukan gadisnya sekarang yah.


Ia harus bekerja keras. Lewat pembunuhan Ilan, opininya semakin menguat kalau Vita tidak bersalah di dalam kematian penghuni SMA Rajawali. Gadis itu memiliki peluang besar untuk bebas dari penjara.


" Sebentar lagi kau akan bebas dari penjara" gumamnya seorang diri.


Perasaan cinta yang mendalam membuatnya bertahan sampai saat ini. Andaikan ia tidak memiliki rasa cinta yang besar, untuk apa ia berjuang di dalam kasus ini. Ia bisa saja hidup senang di luar sana dengan gadis gadis yang lain yang tidak memiliki masa lalu yang mengerikan.


Tapi Sean, hanya memiliki satu wanita impian. Wanita yang setiap saat di rindukannya, wanita yang setiap saat ada di dalam lubuk hatinya.

__ADS_1


Saat ia berpacaran dengan Jasmine, ia pikir ia sudah bisa melupakan Vita seutuhnya. Karena pikirnya ia sudah menemukan gadis yang jauh di atas segalanya dari Vita. Tapi takdir berkata lain ternyata berpacaran dengan Jasmine adalah jalan pembuka ia bertemu cinta sesungguhnya. Tuhan mengatur skenario yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Sean beranjak dari balkon rumahnya lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia langsun membuka laci meja belajarnya, benar!! buku kecil yang di temukan Vita alias Bunga di belakang asrama sudah hilang. Buku itu benar benar hilang karena seingatnya ia meletakkan benda itu di sini, tidak mungkin ia lupa.


Pria itu membuang tubuhnya ke atas kasur luas miliknya. Otaknya berpikir dengan keras ,bagaimana caranya benda itu menghilang dari laci mejanya. Siapa pelakunya??? pikirnya.


Berkutat dengan pikirannya selama satu jam. Ia tidak bisa menemukan jawabannya akhirnya ia menyerah, ini sudah larut malam waktunya berselam ke alam mimpi. Semoga ia bermimpi indah.


Di sisi lain.


Dimas mengisap cerutunya, matanya nyalang menatap secarik kertas pemberian nyonya Elis.


Pak polisi itu menghela nafas. Ia di terpa rasa keraguan, ketakutan menjalar ke tubuhnya. Ia juga adalah manusia, tidak selamanya ia bersikap berani. Bukan ia takut mati tapi ia takut orang orang yang bersama nya mengalami kejadian yang naas, ia akan merasa bersalah berlipat lipat kalau salah satu anggotanya meninggal.


Dimas mengisap cerutunya dalam dalam lalu menghembuskan. Ia harus meyakinkan dirinya kalau semua akan baik baik saja. Ekspedisinya memang sulit tapi ia harus membuang pikiran negatifnya jauh jauh.


" Kau belum tidur. Ini sudah jam empat subuh loh. Nanti kau sakit, tidak bisa melakukan tugasmu"


Dimas menoleh ke arah istrinya, tanpa menjawab kata kata istrinya ia masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


Istrinya iba melihatnya, suaminya yang akhir akhir ini tertekan oleh kasus yang di tanganinya. Ia berdoa dalam hati, mudah mudahan kasus ini cepat selesai agar ia melihat suaminya seperti dulu lagi.


****


Lain halnya dengan Shanaya. Wanita itu meremukkan kaleng bir yang sempat ia teguk, semangat yang membara dan keinginan yang besar untuk menangkap sang pembunuh. Ia tidak takut sama sekali, secercah ketakutan tidak ada di dalam dirinya, yang ada hanya keinginan balas dendam atas kematian bu' Vany. Sekali kali ia mengeluarkan senyum mengerikan, senyum yang menggambarkan keinginan yang membara. Ia akan berperang sampai titik darah penghabisan.


Malam itu mempersiapkan segala kelengkapan yang ia perlukan ke dalam tas ransel. Pistol berukuran kecil yang berjumlah lima buah di isi dengan peluru yang mematikan, pisau yang sudah di asahnya sampai warna silvernya berkilat kilat dan perlengkapan lainnya.


*****


Vita yang ada di penjara hanya memeluk lututnya erat. Ia yakin Dimas dan teman temannya tidak akan berhenti di dalam kasus ini. Markas rahasia yang paling berbahaya akan segera di masuki oleh sekelompok singa. Walaupun ia sama sekali tidak tahu tempat itu namun dari dulu ia berkeyakinan kalau ada tempat rahasia keluarganya di negara ini.


Tubuh gadis itu bergetar saat ia membayangkan tindakan apa yang akan di lakukan oleh Dimas dan teman temannya. Mungkin Dimas tidaklah membahayakan tapi bagaimana dengan Shanaya, wanita itu bisa bertindak sampai titik darah penghabisan.


" Aku harap kalian tidak membunuhnya"

__ADS_1


__ADS_2