Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Gundah Gulana


__ADS_3

Irabella masih diam, ia keras kepala tidak ingin membalas perkataan Sean.


Sean menatap gadis itu dengan seksama berharap lebih Irabella mau berbicara padanya.


" Yah tidak apa apa kalau kau tidak ingin bicara padaku. Tapi jangan sampai nyesal yah, waktu tidak bisa di putar kembali. Tapi aku berharap kita masih bisa mengejar kelinci seperti dulu" kata Sean.


Deg deg deg.


Perasan apa ini?? ini pertama kalinya ia merasakannya.


Bunyi gemuruh hujan berlari cepat ke arah mereka. Hanya dalam hitungan detik hujan turun membasahi pulau itu.


Sean tersenyum, ia menatap Irabella. Sungguh gadis yang malang.


***


" Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" suara Fitri menggelegar siang itu. Kini ia sendirian, semua temannya sudah mati hanya ia yang masih hidup.


Dengan menangis sambil berlari, Fitri berteriak teriak. Ia tidak peduli, kakinya menapak di atas lumpur, kakinya di tusuk oleh batu ataupun kayu ia tidak peduli yang ia lakukan saat ini hanyalah berlari tak tentu arah sambil mengeluarkan segala gejolak hatinya. Kemarahan, ketakukan bersatu di dalam dadanya.


" Dasar tua Bangka, dasar tua bangka" teriaknya di tengah tengah hujan.


" Beraninya ia membunuh teman temanku, sudah tua masih saja membunuh apa ia tidak takut mati dan masuk neraka. Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriaknya. Ia masih terus berlari dan berlari, berkali kali ia menabrak pohon, berkali kali ia terjatuh tapi ia tidak merasakan sakit di tubuhnya.


Dengan perasaan yang gundah gulana, dengan sitausi yang mencekam. Fitri berlari dengan keadaan yang basah kuyup, kakinya kotor dan luka tapi ia masih terus berlari. Setelah ia melihat teman temannya di bantai kini ia berlari dengan tubuh yang gemetar.


" Haaah" jantungnya hampir copot saat ia melihat kuntilanak di sana.


Tidak. Itu bukan kuntilanak, itu manusia tapi dengan penampilan yang berbeda. Penampilannya kotor dan acak acakan, darah menghiasi tubuhnya.


Gadis itu mengangkat muka. Kini Fitri bisa melihat siapa gerangan yang ada di sana.


Fitri mengenalnya, ia pernah bertemu dengan gadis itu.


Anna.

__ADS_1


Fitri mendekat, ia memeriksa kondisi Anna.


" Kau baik baik saja?" pertanyaan yang bodoh, tidak mungkin Anna baik baik saja dengan kondisi seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, otaknya tidak bekerja dengan baik.


" Pergi kau" katanya tergagap.


" Hah" Fitri hanya menganga.


" Pergi kau, kalau kau di sini kau bisa mati" katanya lagi.


" Tidak bisa. Aku tidak akan meninggalkanmu" kata Fitri.


Sekuat tenaga Anna mendorong Fitri menyuruhnya pergi dari sana.


" Tidak, aku tidak bisa meninggalkanmu. Aku tidak ingin kau sama seperti teman temanku" Fitri menangis tapi tangisannya langsun terhenti saat ia melihat siapa yang datang.


Sosok yang sudah membantai teman temannya.


Si tua bangka.


Fitri tidak bergeming dari tempatnya, teringat saat si tua bangka itu membantai temannya satu per satu. Ia teringat teriakan kesakitan Agra, Joy, dan Nanda saat maut menjemput mereka.


Fitri terdiam. Ia merasa waktu berhenti, telinganya tuli ia tidak mendengar lagi suara hujan dan suara suara yang lainnya. Ia sendirian berada di tempat kosong dan gelap.


Satu menit, dua menit, tiga menit.


Ia baru mendapat kesadarannya kembali saat kepala Anna terlepas dari tubuhnya. Si tua bangka itu mendekat ke arahnya dengan senyuman yang mengerikan. Si tua bangka itu bernyanyi nyanyi kecil, ia sangat senang mendapatkan banyak mangsa yang datang ke rumahnya.


Fitri belum berpijak dari tempatnya. Kakinya berat untuk melangkah, bola matanya melirik ke arah parang tajam yang di pegang oleh tua bangka itu. Benda itu, benda itulah yang di gunakan si tua bangka ini menggorok Agra, Joy dan Nanda. Kalau Gilang, ia tidak tahu bagaimana nasib pria itu. Gilang masih sibuk bertarung dengan si tua bangka ini saat Fitri berlari dari sana, gadis itu merasa sangat bersalah meninggalkan teman temannya.


Parang tersebut di arahkannya pada leher Fitri. Tapi Dewi keberuntungan memihak pada gadis itu saat tangan si tua bangka itu di tahan oleh orang lain.


" Apa?" Fitri tersentak kaget melihat siapa yang datang.


Ada dua orang yang datang yaitu Gilang dan masih ada lagi wanita dengan wajah yang keibuan.

__ADS_1


Bunda Merry.


" Tante" kata Fitri dengan suara parau.


Bunda Merry tersenyum. Tapi senyuman itu bukan untuk Fitri tapi untuk si tua bangka ini yang hampir memotong lehernya.


" Lama tak jumpa. Setelah sekian lama rupanya kau masih suka mengambil nyawa orang lain. Adikku yang ku kasihi"


Bagai di sambar petir, Gilang dan Fitri mendengar perkataan Bunda Merry.


Si tua bangka itu menoleh. Ia juga tersenyum meyambut kedatangan kakaknya yang sudah sekian lama tidak bertemu.


" Apa kabar?? apa kau dan Elis baik baik saja?" tanyanya.


" Sangat baik justru kau yang tidak baik " jawab Bunda Merry. Senyuman tidak pudar dari wajahnya.


" Kalian berdua, pergi dari sini. Aku akan mengurus orang ini" pinta Bunda Merry.


" Tapi Bund" selah Fitri.


" Tidak ada tapi tapian. Dia adikku jadi jangan mengkhawatirkan ku" kata Bunda Merry.


Gilang dan Fitri menurut, mereka berdua meninggalkan Bunda Merry dan si tua bangka itu.


Fitri sekilas menoleh ke arah jasad Anna. Tubuhnya terbagi dua, Fitri merinding melihatnya.


" Ayo" ajak Gilang. Ia menuntun Fitri pergi dari tempat itu.


Kasihan sekali nasib Anna. Ia masih bertahan saat terjatuh ke bawah jurang yang kedalamannya 50 meter tapi memang ia sudah di takdirkan mati di pulau itu dan mati di tangan Tn. William.


Saat terjatuh ke bawah jurang, Anna berusaha bangkit dan duduk. Seluruh tubuhnya di dera rasa sakit yang tak terkira tapi Anna berusaha sekuat tenaga dan berusaha melawan rasa sakitnya. Saat berhasil menyandarkan tubuhnya ia mengambil ponselnya dari dalam bajunya. Ia mengetik sebuah pesan peringatan kepada Jasmine dan Yoona tapi sayangnya hanya Yoona yang membaca pesannya kalau cewek songong itu tidak ingin membaca atau tidak sempat membaca pesannya, entahlah Anna tidak tahu.


Setelah berhasil mengumpulkan tenaga, dengan tubuh yang penuh luka dan darah ia memanjat tebing jurang yang curam. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa melewati jurang yang curam dan berbahaya itu, mungkin dengan bermodalkan tekad yang kuat ia bisa keluar dari jurang itu.


Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah takdirnya meregang nyawa di pulau itu. Berhasil keluar dari jurang namun manusia yang lebih mematikan menemuinya di atas sana, manusia yang jauh lebih kejam dari Bella. Ia pikir Bellalah manusia terkejam di muka bumi ini ternyata masih ada, manusia yang cocok menggantikan salah satu iblis menjadi pemimpin neraka. Siapa lagi kalau bukan Tn. William, si tua bangka yang juga mengambil nyawa Denal.

__ADS_1


Tapi setidaknya di hari kematiannya, ia melakukan kebaikan. Tidak masalah menemui takdir.


__ADS_2