
Sore harinya. Fitri tersentak kaget, melihat seorang yang berdiri di balik pintu sambil menenteng kantong plastik.
Vita!!!
Hari ini, ia bisa mati terkejut. Terlalu banyak hal yang membuat jantungnya melompat tak karuan.
" Kau" suara Fitri berhenti di tenggorokan.
Vita mengangkat pundaknya. Bingung dengan reaksi Fitri sore ini.
" Silahkan masuk" Fitri tergagap. Kaget dan takut menyatu di dalam otaknya.
" Aku tadi menghubungi ibumu dan beliau bilang kalau kau sedang sakit. Itulah sebabnya aku datang ke sini menjengukmu. Tapi kenapa sakit tidak ada keterangan?" tanya Vita sambil duduk di ruang tamu.
Fitri duduk di depan Vita. Ia mulai menguasai diri, rasa takutnya perlahan hilang. Tapi otaknya bertanya tanya kenapa Vita bisa setenang ini setelah ia sudah melakukan kejahatan.
" Yah. Perutku sakit, aku hanya meringkuk di tempat tidur. Lupa memberikan kabar kepada pihak sekolah" kata Fitri bohong.
" Ini kue ku bawakan. Makanlah" ucap Vita sambil menyodorkan kantong plastiknya ke arah Fitri.
Fitri meraihnya.
" Thank you"
Selama empat jam. Vita ada di rumah Fitri, ada saja hal hal menyenangkan yang mereka lakukan. Di tengah tengah aktivitas mereka sekali kali Fitri curi curi pandang ke arah sahabatnya itu yang saat ini sudah menjadi seorang pembunuh. Tidak ada beban di matanya, tidak ada penyesalan di matanya yang ada hanya ekspresi yang penuh dengan kebahagiaan.
" Apa dia berkepribadian ganda?" tanya Fitri dalam hati.
Jam 07.00 malam. Vita baru pulang ke rumah, ia melambai dengan senyum manisnya ke arah Fitri.
" Aku pulang yah. Besok kita ketemu di sekolah, akan ku pinjamkan catatanku" teriak Vita di pintu gerbang.
Fitri balas melambai.
" Baiklah" ia membalas senyuman manis sahabatnya.
__ADS_1
Saat Vita sudah menghilang di pintu gerbang. Dengan gontai, Fitri menutup pintu kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Terlalu banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya dan ia sama sekali tidak bisa menjawabnya.
Dua jam kemudian, kedua orang tuanya pulang dari aktivitasnya yang super padat. Ia langsun keluar dari kamar kemudian memeluk ibunya.
" Aku kangen" kata Fitri manja.
" Hei, jangan bertingkah seperti anak kecil. Ibu juga kangen" sang ibu membalas pelukan putrinya.
Sepulang ke rumah, kedua orang tua Fitri tidak langsun tidur. Mereka masih bersendau gurau di ruang keluarga. Banyak hal yang mereka bicarakan malam ini. Jika topik yang satunya informasinya sudah habis mereka beralih ke topik lain. Fitri teringat Vita, teringat bola matanya yang penuh misteri, teringat senyumnya yang manis dan teringat sifat baiknya kepadanya dan juga teringat pembunuhan yang di lakukannya kemarin malam.
" Mama papa. Apakah orang jahat sama sekali sudah tidak punya niat baik?" tanya Fitri kepada orang tuanya.
Kedua orang tuanya bingung dengan pertanyaan anaknya tapi mereka tetap menjawabnya.
" Bagaimanapun jahatnya seseorang, ia masih memiliki sifat yang baik di dalam dirinya walaupun itu cuma secuil. Kenapa hal ini bisa terjadi,? karena manusia tetaplah manusia, ia bukan iblis yang hanya tahu melakukan kejahatan" jelas papanya.
" Begitupun sebaliknya. Bagaimanapun baiknya seseorang, ia masih memiliki sifat yang buruk di dalam dirinya walau secuil pun. Kenapa hal ini bisa terjadi? karena manusia tetaplah manusia, ia bukan malaikat yang hanya tahu melakukan kebaikan" sambung papanya lagi.
Fitri diam. Ia memikirkan apa yang di katakan papanya di kalimat terakhir " Keburukan bisa di lakukan oleh seseorang karena suatu alasan dan keburukan bisa terlahir dari tekanan"
" Apa hal ini juga berlaku buat Vita?" Fitri bertanya tanya.
Bertahun tahun. Fitri menyimpan rapat rapat rahasia terbesar Vita di dalam hatinya. Wasti Kumala di nyatakan meninggal dalam kecelakaan mobil karena ketedelorannya sendiri. Pada saat itu, tidak ada yang tahu dan tidak ada yang curiga dengan Vita sebagai pelaku tunggal atas kematian ibu Sean.
Fitri tersenyum iba. Saat Vita datang mengatakan padanya kalau ia sudah menjadi pacar Sean. Ironis memang, tapi seorang pembunuh mencintai anak korbannya dengan sepenuh hati.
Bertahun tahun itu pula. Ia membuktikan kalau kata kata papanya hari itu benar.
" Bagaimana pun baiknya seseorang, ia masih memiliki keburukan di dalam dirinya walau secuil pun. Mengapa hal ini bisa terjadi? karena manusia tetaplah manusia, ia bukanlah malaikat yang hanya tahu melakukan kebaikan" Hal ini berlaku buat Vita. Ia menunjukkan lebih banyak kebaikannya daripada keburukannya tapi sayangnya keburukannya di kutuk semua orang.
" Kebaikan muncul dari hati yang paling dalam sedangkan keburukan muncul karena suatu alasan dan terlahir dari tekanan" Hal ini juga berlaku buat Vita. Seorang gadis mungil yang otaknya di recoki oleh ayahnya untuk membalaskan dendam keluarganya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.
__ADS_1
Tibalah saatnya hari kelulusan di tingkat SMP. Vita ingin meninggalkan kota itu, pada awalnya Sean tidak setuju tapi karena Vita memberikan pengertian kenapa ia harus pergi pada akhirnya Sean melepaskan kepergian Vita walau berat.
Malam harinya sebelum keberangkatan Vita ke kota lain. Fitri datang menemuinya di rumahnya.
" Kau ingin pergi. Jauh dari Sean?" tanya Fitri tanpa basa basi.
" Yah" jawab Vita singkat.
" Apa kau tidak memikirkan perasaannya. Ia sangat mencintaimu, apa kau ingin mengecewakannya?" Tanya Fitri lagi.
" Tidak ada gunanya aku selalu berada di sisinya jika pada akhirnya ia akan membenciku" jawab Vita. Emosinya mulai muncul.
Fitri diam sejenak. Ia sangat tahu artinya apa maksud dari perkataan sahabatnya itu selama bertahun tahun. Kini ia mengerti mengapa Vita ingin pergi dari kota itu.
" Kau adalah saudaraku. Selama ini aku sudah tidak menganggapmu sebagai sahabat tapi sebagai saudara. Dari dulu aku sering bertanya tanya, apa kau iblis atau malaikat?" tanya Fitri menusuk ke dalam hati Vita yang paling dalam.
" Menurutmu?" Vita balas bertanya.
" Kau saudaraku kan. Seharusnya kau mengerti" sambungnya.
" Bukan. Kau hanya manusia yang tidak sempurna" jawab Fitri. Ia menjawab pertanyaannya sendiri.
" Kalau kau sudah tahu. Kenapa kau membandingkan ku dengan iblis dan malaikat"
" Tidak ada gunanya. Walau kau tahu aku yang sebenarnya, tidak akan membalikkan keadaan. Apa kau ingin memasukkanku ke dalam penjara? kau tahu sekarang atau mungkin dari dulu kau sudah tahu kalau aku membunuh ibu Sean" sambung Vita.
" Tidak. Aku tidak akan memasukkan saudaraku ke dalam penjara"
" Lalu apa yang kau inginkan?" bentak Vita emosi.
Dengan kasar Fitri meraih tangan Vita, ia merapatkan gadis itu ke dinding tembok.
" Pergi saja kau dari sini" Fitri melotot.
Kemudian ia menghentakkan tangan Vita lalu keluar dari sana.
__ADS_1