Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Benda yang Mengapung


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu kini giliran Shanaya dan Gilang berjaga jaga. Wanita berambut bob itu sibuk memainkan ponselnya sedangkan Gilang ia sibuk menyorotkan senternya sana sini.


" Apa yang kau cari?" tegur Shanaya.


" Tidak ada apa apa. Aku hanya penasaran saja, auman binatang buas tadi membuatku takut" balas Gilang.


" Di mana pistolmu?"


" Ada di saku bajuku"


" Jangan lepaskan benda itu. Bidikkan saja pistolmu jika binatang buas itu memperlihatkan dirinya" kata Shanaya.


" Baiklah"


***


Denal tersentak bangun. Saat matahari pagi menerpa wajahnya, ia bangun kasak kusuk lalu memperhatikan rekan rekannya satu per satu. Mereka semuanya tidur nyenyak.


" Hei bangun, ini sudah siang" pria itu membangunkan rekannya satu per satu dengan cara mengguncang tubuhnya.


Dimas menggeliat, ia tersentak bangun.


" Jam berapa sekarang?" tanyanya.


" Jam 06.00


" Sudah siang sekali"


Mereka bertujuh segera bangun dari tidurnya, lalu memasak sarapan pagi.


" Kalian berdua. Jam berapa kalian tidur kembali?" tanya Dimas kepada Shanaya dan Gilang.


" Gilang tidur kembali di jam 04.00 tapi aku baru menutup baru saat matahari mulai naik" Jawab Shanaya.


" Oh iya. Aku pikir tidak ada yang berjaga dalam waktu yang lama, hal ini bisa sangat berbahaya" terang Dimas.


Saat selesai sarapan pagi. Mereka kini berkemas untuk melanjutkan perjalanan.


Mereka bertujuh kini berjalan di padang rumput yang berbukit bukit. Jika di hitung hitung maka bukit bukit yang dapat di pandang oleh mata itu jumlahnya ada lima.


" Ini bagus yah untuk berswa foto" timpal Fitri.


" Apa kau ingin berfoto, sini ku foto" ujar Shanaya.


" Ah tidak deh. Aku hanya berpendapat saja" balas Fitri saat sadar kalau Shanaya sedang menyinggungnya.


" Pulau ini lumayan luas juga, bunyi ombak sudah tidak kedengaran" kata Sean.


" Yah. Sekarang kita akan ke mana, kita tidak punya arah yang jelas di sini" ucap Nanda.


" Kita naik ke atas bukit yang tinggi itu saja yah lalu kita menggunakan teropong" ajak Dimas.

__ADS_1


Dengan susah payah, mereka bertujuh naik ke atas bukit yang paling tinggi daripada yang lainnya.


" Hah, masih padang rumput juga" omel Fitri saat ia melihat di bawahnya padang rumput yang lebih luas terbentang di depannya.


" Jangan lihat dari satu sisi, lihatlah ke arah timur laut" kata Shanaya.


Fitri mengubah penglihatannya ke arah timur laut, di sana hanya ada hutan yang lebat.


Kemudian Denal mengambil teropong dari dalam ranselnya lalu memperhatikan pemandangan di situ dengan teliti.


" Kita ke sana, pohonnya tidak terlalu rapat" kata Denal.


Mereka akhirnya turun dari bukit itu lalu menuju hutan lebat.


" Pohonnya tinggi yah tapi tidak rapat" kata Nanda.


Sean memperhatikan pepohonan yang menjulang tinggi itu.


" Apakah di sini barusan hujan" ujar Gilang saat ia melihat daun daun yang basah dan tanah yang becek.


" Mungkin sih"timpal Fitri.


" Hai ada jejak" Kata Dimas sambil memperhatikan tanah di bawahnya.


" Jejak apa ini?" tanya Gilang.


" Ini jejak binatang. Ini telapak kaki bangsa kucing, tapi kucing yang besar. Kemungkinan ini harimau atau singa" jelas Dimas.


" Kemungkinan ini binatang yang aumannya kemarin terdengar" kata Dimas lagi.


Shanaya mengambil kameranya lalu memotret jejak tersebut.


Mereka melanjutkan perjalanan. Matahari sudah searah kepala saat mereka tiba di sebuah sungai yang ada di hutan itu.


" Ingin minum" kata Shanaya sambil menenggalamkan kedua tangannya ke dalam air.


" Iiihh jijik. Bagaimana bisa Kakak ingin minum dari air itu. Ini minum saja air minumku" kata Fitri lalu menyodorkan sebotol air pada wanita itu. Ia tidak tega melihat Shanaya meminum air sungai yang kebersihannya tidak terjamin.


Shanaya tersenyum, ia segera meraih pemberian gadis itu tak jadi meneguk air sungai.


Mereka bertujuh istirahat di pinggir sungai sambil makan siang. Mereka butuh energi untuk melanjutkan perjalanan.


Lima belas menit kemudian, makan siangnya sudah selesai. Kini mereka istirahat sebentar lagi.


Sean mendekat ke arah sungai untuk mencuci muka tapi ia segera mengurungkan niatnya saat melihat pemandangan di sana.


" Apa itu?" kata Sean. Matanya menangkap benda besar yang terapung.


Dimas dan lainnya memperhatikan benda yang di tunjuk oleh Sean.


" Coba ku periksa " kata Denal lalu masuk ke dalam sungai menuju benda itu.

__ADS_1


Sesampainya di sana, polisi itu menegang melihatnya. Sesaat ia melihat rekan rekannya lalu melihat benda itu kembali.


" Ada apa" teriak Dimas. Sungainya tidak terlalu luas tapi ia harus mengeraskan suaranya karena bunyi air yang mengalir sangat bising.


" Mayat"


Dimas tersentak mendengarnya. Suara Denal tidak kedengaran tapi lewat gerakan mulutnya Dimas bisa tahu apa yang di maksud oleh rekannya.


" Mayat" Ia dan Shanaya segera berlari menuju tempat itu di ikuti oleh Sean dan Gilang. Lain halnya dengan Nanda dan Fitri mereka berdua tidak akan kuat melihatnya.


Gilang memuntahkan isi perutnya saat melihat pemandangan di depannya. Mayat seorang wanita yang memakai terusan berwarna biru, wajahnya sudah tidak bisa di kenali karena hancur tak berbentuk.


" Ayo kita angkat" ajak Dimas.


Shanaya kembali ke daratan lalu mengambil lima buah kost tangan medis kemudian memberikannya kepada rekan rekannya yang ingin mengangkat mayat itu.


" Pakai" katanya.


Gilang merinding saat kulit tubuhnya bersentuhan dengan mayat itu, sangat dingin bagaikan es.


" Tahan hanya sebentar"


Kini mereka sudah tiba di daratan. Shanaya memperhatikan mayat itu dengan teliti, naluri detektifnya bekerja dengan baik.


" Waktu kematiannya sekitar dua hari yang lalu. Sebelum ia di buang ke sungai, ia di aniaya terlebih dahulu terlihat dari luka yang ada di belakangnya. Ini bukan luka karena benda lain misalnya kayu atau batu tapi ini luka yang di buat oleh benda tajam semacam golok " jelas Shanaya.


" Apa kakak masih bisa mengenali wajahnya?" tanya Fitri dengan pertanyaan bodohnya.


" Tidak. Tidak ada yang bisa mengenali seseorang saat keadaannya sudah begini" jawab Shanaya.


" Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap mayat ini?" tanya Gilang.


" Tentu saja menguburkannya" jawab Denal.


Dengan peralatan seadanya, mereka menggali tanah lalu menguburkan identitas yang tak di kenal itu.


Kemudian mereka berdoa yang di pimpin oleh Dimas.


" Keputusan kita benar ingin membekuk pembunuhnya di sini" kata Shanaya sambil menepuk nepuk tanah dari telapak tangannya.


" Tingkat keberhasilan kita hanya 80 persen mengingat pulau ini milik si pembunuh. Kita belum tahu seluk beluk pulau ini, masih ada kemungkinan 20 persen pelaku bisa melarikan diri" kata Dimas.


" Jangan bersifat pesimis. Kita pasti bisa menangkapnya"


" Yah. Aku yakin itu"


Mereka bertujuh melanjutkan perjalanan dengan terus menyusuri hutan yang lebat.


Di perjalanan anak anak sekolah itu tak henti hentinya membicarakan mayat tersebut. Mereka bertanya tanya siapa gerangan mayat wanita yang mengapung di sungai itu.


" Hutannya semakin lebat terbukti semakin ke dalam semakin gelap" kata Nanda kemudian.

__ADS_1


__ADS_2