Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Simbol Rahasia


__ADS_3

Sean menceritakan semua apa yang di katakan oleh Vita. Tidak ada yang di tutup tutupinya termasuk gerak gerik Vita yang ganjil saat ia menyinggung nama Irabella.


" Jadi begitu Vita memiliki saudara perempuan yang bernama Irabella. Apa kau tahu tentang saudaranya itu Fitri?" tanya Dimas ke Fitri.


Fitri menggeleng. Ia tidak tahu cerita yang satu ini.


" Aku pikir Vita tidak pernah menceritakan tentang Irabella kepada orang lain" Jawab gadis berambut merah itu.


" Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Nanda.


" Pertama kali kita harus bertemu nyonya Elis" kata Dimas.


" Sebelum itu aku akan membentuk kita menjadi sebuah tim. Aku yang menjadi ketuanya dan kalian bereenam adalah anggotaku, kalian harus patuh padaku dan tidak boleh menjadi seorang penghianat. Sean di dalam kasus yang pertama sudah menghianati kami, tapi aku mengampuninya karena Vita kemungkinan tidak menjadi dalang di dalam pembunuhan ini. Tapi sekali lagi ia melakukannya aku akan memberikan pelajaran padanya yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Hal ini bukan hanya berlaku buat Sean tapi kepada kalian juga. Mengerti??" ujar Dimas penuh wibawa.


Keenam orang itu yang ada di situ menggangguk tanda setuju akan perkataan Dimas.


***


Keesokan harinya. Dimas dan keenam anggotanya berangkat ke rumah nyonya Elis.


" Silahkan duduk" tawar wanita itu.


" Terimah kasih nyonya" balas Dimas.


" Ada apa gerangan kalian datang ke sini?" tanya wanita itu.


" Tragedi pembunuhan di SMA Rajawali belum selesai. korban masih berjatuhan sedangkan Vita ada di dalam penjara, jadi kami mengambil kesimpulan walaupun Vita mengakui kalau ia membunuh polisi dan penghuni sekolah kami tidak yakin akan hal itu. Kami beranggapan kalau keponakan nyonya berbohong" terang Dimas membuka pembicaraan inti mereka.


" Dari cerita Vita di penjara, kami sangat tertarik dengan adik perempuannya yang bernama Irabella. Kami berharap lebih pada nyonya menjawab setiap pertanyaan kami dengan jujur, agar kasus ini cepat selesai untuk kebaikan semua orang" sambungnya


" Vita mengatakan kalau Irabella adalah saudara perempuannya. Apa benar begitu nyonya?" Dimas yang berbicara.


" Yah. Vita memang memiliki adik perempuan bernama Irabella"


" Vita juga mengatakan kalau ibu Irabella sudah tidak waras dan di asingkan di suatu tempat. Apa benar begitu nyonya"


" Yah"


" Lalu di mana ibu Irabella di asingkan. Vita mengatakan kalau keluarga nyonya punya tempat rahasia?" tanya Dimas.


" Sebuah pulau pribadi milik orang tua kami. Pulau tersebut terletak di sebelah barat. Beberapa tahun yang lalu aku mengirim tiga orang bayaranku ke sana untuk menyelidiki pulau itu tapi ketiganya tidak ada kabar sampai sekarang sesudah ia memberikan informasi kalau nyonya Shiren sudah gila"

__ADS_1


" Nyonya Shiren. Apa itu nama ibu Irabella?" tanya Shanaya.


Nyonya Elis mengangguk.


" Aku pernah berkeinginan ke sana saat orang orang bayaranku tidak kembali tapi sebuah nomor baru masuk di ponselku mengatakan " jangan ke sana kalau anda masih ingin hidup". Jadi aku berusaha berpikir rasional, tidak ada gunanya aku ke sana kalau ketiga orang orangku sudah mati. Terdengar egois memang tapi itu adalah cara terbaik" jelas nyonya Elis.


Dimas terdiam. Tidak hanya ia tapi keenam anggotanya juga diam, memikirkan penjelasan Tante Vita itu.


" Aku ingat satu hal. Aku pernah merampas buku kecil dari Vita, katanya ia menemukan benda itu di belakang asrama. Di sana tertulis SHIFA, apa kata itu merujuk pada Shiren Farhana?" tanya Sean saat mengingat kala itu ia merampas buku kecil dari Vita alias Bunga. ( kata SHIFA pernah di singgung di bab 19 yah)


" Entahlah" Nyonya Elis tidak tahu.


" Apa yang di tuliskan di buku itu?? Mengapa kau tidak pernah cerita" ujar Dimas. Ia mulai emosi.


Sean menceritakan apa yang masih ia ingat. Kini semua yang ada di situ menganga saking terkejutnya.


" Lalu di mana buku itu sekarang?" tanya Denal.


" Seingatku aku menyimpannya di laci mejaku. Tapi kayaknya sudah hilang, beberapa waktu ini aku melupakannya namun jika aku membuka laciku buku itu sudah tidak ada"


Dimas menjitak kepala Sean.


" Dasar bodoh. Aku pikir kau siswa yang pandai tapi ternyata kau bodoh berlipat lipat" singgung Dimas.


" Kita menyimpulkan saja kalau buku itu di tulis oleh Nyonya Shiren. Lalu apakah nyonya tahu apa maksud dari tulisan " setiap hari aku melihatnya membunuh anak anak ayam dengan sadis" apa kalimat ini merujuk kepada Vita atau Irabella?" tanya Shanaya lagi. Terlalu banyak pertanyaan dalam kasus ini.


" Aku tidak tahu" jawab Nyonya Elis.


" Lupakan hal itu sejenak. Kami tertarik dengan pulau pribadi orang tua nyonya" kilah Dimas.


Nyonya Elis mengambil sebuah kertas lalu menggores kertas itu dengan pena hitamnya.


" Ini dia. Waktuku tidak banyak, pergilah kalian dari sini"


"Aris" panggilnya


Seorang pria masuk dengan tergopoh gopoh.


" Suruh mereka pulang " kata Nyonya Elis tegas.


Akhirnya ketujuh orang itu, keluar dari tempat itu.

__ADS_1


Di atas mobil menuju rumah Dimas.


" Bagaimana tanggapan kalian tentang nyonya Elis?" tanya Dimas.


" Dia bereaksi aneh saat ia memberikan kita secarik kertas itu" jawab Fitri.


" Anak pintar. Aku harap kalian bisa membaca situasi dan gerak gerik seseorang di dalam keadaan saat ini" ujar Dimas.


" Apa kita bisa percaya dengan apa yang di katakan oleh wanita itu. Bisa saja ia masuk dalam komplotan jahat keluarganya" ucap Gilang.


" Aku yakin dia pengecualian. Menurutku Ia bersikap seperti tadi karena ia tertekan akan suatu hal. Tapi aku tidak tahu hal apa" jelas Shanaya.


" Kita bisa mengetahuinya kalau kita pergi ke pulau ini" kata Dimas menatap selembar kertas yang di berikan nyonya Elis.


Dimas memperhatikan denah yang di gambar di kertas itu.


" Aku tidak bisa memahaminya" ucap Dimas.


Shanaya mengambil kertas itu lalu memperhatikannya.


" Apa ini? petunjuknya membingungkan" kata Shanaya menyusul Dimas yang juga tidak mengerti.


" Sini " Nanda mengambil kertas itu.


Namun semuanya bingung. Tidak bisa membaca petunjuk yang ada.


" Sialan. Apa wanita itu membodohi kita" kata Dimas marah. Ia mengepalkan tangannya kuat kuat.


" Jangan berprasangka buruk. Ini kode rahasia" ucap Fitri.


" Di mana kau tahu?" tanya Sean.


" Ini adalah kode rahasia. Vita pernah menggunakan simbol simbol yang mirip saat ia mengirim surat kepada Dokter Mika setelah selesai menjalani operasi plastik" terang Fitri.


" Apa itu benar. Apa kau bisa mengartikannya?" tanya Shanaya.


" Tidak. Butuh usaha yang ekstra untuk memahaminya"


" Di rumah saja nanti kita coba mengartikannya" sambung Fitri menenangkan.


Denal mempercepat laju mobilnya menuju kediaman Dimas.

__ADS_1


" Aku harap kita bisa secepat mungkin mengartikannya" ujar Dimas menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.


__ADS_2